KH. Hafid Imran; Menjembatani Perbedaan, Mengabdi Sepanjang Hayat

oleh
oleh

Suatu ketika, panggilan pengabdian membawanya kembali ke tanah kelahirannya. Ia diminta membuka cabang IAIN di Majene. Maka berdirilah IAIN Filial Cabang Majene, dan ia dipercaya menjadi dekan di sana. Tugas itu tidak ringan. Fasilitas terbatas, tenaga pengajar minim, dan dukungan dana tidak selalu memadai. Namun Hafid bukan orang yang mudah menyerah.

Ia mendatangi tokoh-tokoh masyarakat, mengetuk pintu pejabat, dan meyakinkan orang tua agar menyekolahkan anak-anak mereka. Ia percaya, pendidikan adalah jalan perubahan. Perlahan, cabang itu tumbuh dan menjadi harapan baru bagi generasi muda Majene.

Selain di dunia kampus, ia juga pernah memimpin Pondok Pesantren Al Ikhlas Lampoko. Di pesantren itu ia membina santri bukan hanya dalam ilmu, tetapi juga dalam karakter. Ia ingin santri-santrinya kelak menjadi orang yang berguna, bukan sekadar pandai berbicara.

Ia pun dikenal dekat dengan sejumlah tokoh ulama dan cendekiawan. Ia akrab dengan Prof. Dr. KH. Muis Kabry dan bersahabat baik dengan KH. Sanusi Baco. Diskusi-diskusi mereka sering berlangsung hangat, membicarakan persoalan umat dan masa depan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan.

Walau tegas dan cenderung keras dalam prinsip, Hafid tetap moderat dalam sikap. Ia tidak mudah mengkafirkan, tidak gemar memperuncing perbedaan. Ia justru bangga karena mampu mempersatukan semangat NU dan Muhammadiyah, serta DDI dalam dirinya. Baginya, semuanya  adalah kekayaan umat, bukan alasan perpecahan.

Setelah memasuki masa pensiun dari dunia akademik, ia sempat diajak masuk Golkar. Ia menerima dengan pertimbangan bahwa politik juga bisa menjadi ladang pengabdian. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Majene pada periode 1987–1992. Dalam jabatan itu, ketegasannya semakin terlihat. Ia berani bersuara jika kebijakan tidak berpihak pada rakyat. Namun ketika ditawari melanjutkan ke periode kedua, ia menolak. Ia merasa jiwanya bukan di kursi politik, melainkan di ruang kelas dan mimbar pengajian. Keputusan itu mengejutkan sebagian orang, tetapi tidak bagi mereka yang mengenalnya dekat.

Di Makassar, ia juga dikenal sebagai salah satu perintis Masjid Darud Hijrah di Kampung Lette. Ia terlibat sejak awal, menggerakkan masyarakat, menggalang dana, dan memastikan masjid itu menjadi pusat ibadah dan pembinaan umat. Baginya, masjid adalah jantung kehidupan Islam. Hidupnya tidak pernah menyusahkan orang lain. Ia hidup sederhana, tidak menumpuk harta. Anak-anak dan keluarganya dididik dalam suasana religius dan disiplin. Ia tidak memanjakan, tetapi juga tidak kikir kasih sayang.

Dalam usia senja, ia masih mengajar dan mengaji. Ia pernah belajar kitab kepada seorang ulama Sumatra, juga dengan KH. Ma’ruf di Baruga. Baginya, belajar tidak mengenal usia. Selama napas masih ada, ilmu harus terus dicari.

Delapan anak menjadi amanah terbesar dalam hidup KH. Hafid Imran. Di tengah kesibukannya sebagai guru, dosen, dekan, bahkan pernah menjadi Ketua DPRD, ia tidak pernah abai pada pendidikan anak-anaknya. Baginya, keluarga adalah madrasah pertama, dan ayah adalah guru yang tak boleh lelah.

Dari pernikahannya dengan Hj. Zainab Fatani, lahirlah delapan orang anak: Aminullah, Mahyuddin, Nasrullah, Darmawan, Marhamah, Irvan Hafid, Zainal Abidin, dan Erwin Hafid. Rumah mereka bukan hanya tempat tinggal, melainkan ruang belajar yang hidup. Buku-buku tersusun rapi, suara diskusi sering terdengar hingga larut malam, dan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi irama yang mengiringi hari-hari mereka.

Hafid Imran mendidik anak-anaknya dengan cara yang tegas. Ia tidak banyak memuji, tetapi juga tidak pelit doa. Setiap selesai salat, ia menyebut nama mereka satu per satu dalam munajatnya. Ia ingin anak-anaknya lebih tinggi ilmunya daripada dirinya. Ia ingin mereka menjadi manusia yang berguna, bukan sekadar berhasil secara duniawi.