fbpx

Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat

MAMUJU-Data korban kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2016 terjadi peningkatan. Jenis kasus paling banyak adalah kekerasan fisik yang ada di dua kabupaten. Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dan Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Sesuai data dari Asniati Azis, S.Pi Kepala Seksi Data Kekerasan dan Anak, Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Khusus Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Sulbar menunjukkan, bahwa di Polman kekerasan fisik sebanyak 30 kasus, Mamuju 26 kasus, Majene enam, Mamuju Utara (Matra) 12, sedangkan Mamuju Tengah (Mateng) tiga kasus.

Sementara kekerasan seksual, ada enam kasus yang terjadi di Polman, Mamuju satu, Matra enam, Mamasa satu, dan Mateng empat kasus.

Jenis kasus kekerasan psikis tiga orang di Mamuju, satu kasus di Matra, dan Mateng hanya satu kasus. Sedangkan pada jenis kasus
eksploitasi yang terjadi di Mamasa ada tiga kasus. Kabupaten lain belum ada.

Selain itu, jenis kasus penelentaran yang terjadi di Sulbar hanya dua kabupaten, yakni Polman dua kasus dan Mateng satu kasus. Jumlah keseluruhan korban kekerasan terhadap perempuan sebanyak 353 kasus. Dibanding pada tahun 2015 hanya 86 kasus.

Asniati mengatakan, terjadinya tambahan data kasus disebabkan karena adanya kesadaran dan keberanian masyarakat untuk melapor.

“Sebetulnya kasus seperti ini bagaikan batu es semakin lama semakin mencair. Kemudian kasus seperti ini tahun-tahun sebelumnya banyak sekali, tapi tidak adanya keberanian masyarakat untuk melaporkan karena masyarakat menganggap bahwa aib. Sehingga data semakin meningkat, bukan kasusnya yang meningkat,” kata Asniati di ruang kerjanya di Mamuju, Senin (29/5/2017).

Ia mengaku, bahwa yang paling banyak terjadi korban kekerasan fisik ada di KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Sehingga upaya sosialiasi terus dilakukan.

Baca Juga:  Tiga Kecamatan Ikut Gerak Jalan Siaga di Polewali

“Kita melihat bahwa perempuan yang banyak mengalami kekerasan adalah perempuan yang tidak punya penghasilan sendiri, yang masih bergantung pada orang lain, sehingga perlu diberdayakan dangan memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan dan lain-lain sehingga bisa lebih mandiri,” ungkap Asniati.
#BusriadiBustamin

error: Content is protected !!
Open chat
1
Assalamu Alaikum
Ada yang bisa kami bantu?
%d bloggers like this: