Membakar Sampah Menyambut Pasar Ramadan

oleh

Laporan: Naim Irmayani

WONOMULYO, mandarnesia.com–Ruas jalan Wonomulyo dipasang baliho larangan buang sampah nampak lebih bersih dari biasanya namun itu tidak membuat ruas jalan lain aman dari sampah. Belum ada upaya penanganan serius atau memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana mengelolah sampah agar dapat bernilai jual.

Masalah klasik yang terjadi di perkotaan salah satunya adalah sampah. Usman (2016) menambahkan tentang sampah kota secara sederhana diartikan sebagai sampah organik maupun anorganik yang dibuang oleh masyarakat dari berbagai lokasi di kota tersebut. Sumber sampah Umumnya berasal dari perumahan dan pasar. Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, sampah dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya terkena pada berbagai sisi kehidupan.

Berhari-hari sampah dibiarkan menggunung di Jalan Padi Unggul 2, Kecamatan Wonomulyo, hingga membuat pedagang di sekitar daerah tersebut memutuskan untuk membakar sampah di lokasi tersebut tanpa diangkut terlebih dahulu.

Aco (50 tahun) pedagang buah menjelaskan bahwa sampah yang dibakar adalah sampah kering, sedangkan sampah basah dibiarkan begitu saja sampai tim kebersihan datang untuk mengangkut.

“Setiap hari pasar ki membayar, tapi lama sekali baru diangkut ini sampah,” ungkap Aco.

Sampah yang juga berasal dari desa sekitar memperparah kondisi. Titik pembuangan pun bertambah, seperti di jalan terminal, depan pasar Wonomulyo, Jalan Gatot Soebroto, ditambah dengan jalan lain yang telah menjadi langganan tetap pembuangan sampah.

Meski mendekati ramadan, sampah masih banyak terlihat terlebih di sekitar pasar ramadan yang setiap tahun menjadi lokasi padat pembeli. Membakar sampah adalah solusi saat ini untuk mengurangi jumlahnya, sembari menunggu mobil kebersihan datang melaksanakan tugas.

Wati salah seorang pedagang sekitar Jalan Padi Unggul menimpali. “Jumlah pedagang yang membayar biaya kebersihan terbilang banyak, namun tidak ada tempat sampah yang menjadi pembuangan sementara maupun jadwal rutin pengambilan sampah, makanya sampah dibuang dimana saja tanpa ada kontrol dari pemerintah.” Timpal Wati.