Kawasan Transmigrasi Berpotensi jadi Wilayah Pengembangan Kopi Arabica dan Robusta

Reporter : Busriadi Bustamin

MAMUJU, Mandarnesia.com–Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dengan PT. Sulatco Jaya Abadi (Kapal Api Global) melakukan kerja sama pengembangan kopi arabica dan robusta di kawasan transmigrasi.

Kepala Dinas Transmigrasi Sulbar Ibrahim mengatakan, penandatanganan kerja sama telah dilakukan di Lantai II Kantor Gubernur Sulbar, Rabu (26/8/2020), lalu. Sehingga dengan kerja sama itu, lanjut Ibrahim, bisa membantu warga transmigrasi yang ingin mengembangkan kopi arabica maupun kopi robusta.

“PT Sulatco Jaya Abadi ini adalah anak perusahaan dari kopi kapal api. Kantornya ada di Tator. Kemarin itu beliau ekspose kemudian memaparkan prospek pengembangan kopi seperti yang terjadi di daerah-daerah. Seperti di Sumatra termasuk di Toraja,” kata Ibrahim di ruang kerjanya, Rabu (2/9/2020).

Sejauh ini, pihak PT. Sulatco Jaya Abadi telah mengunjungi kawasan Transmigrasi di Rano, Mamasa.

“Dan menurut penilaian mereka di sana prospeknya bagus untuk pengembangan, baik kopi robusta maupun kopi arabica. Sehingga dia langsung mau berinvestasi,” ujarnya.

Selain di Mamasa, ada juga kawasan transmigrasi yang memiliki prospek yang sama di Mamasa. Yaitu, SP 1 Kolehalang dan SP 2 Tamajannang di Ulumanda, Majene.

“Kan sebenarnya secara historis masyarakat kita ini masyarakat petani kopi mulanya kan. Termasuk di UPT Ulumanda yang di sana juga pemukiman transmigrasi. SP 1 Kolehalang dan SP 2 Tamajannang. Itu juga prospeknya kopi sangat menjanjikan dan memang warga di sana mengembangkan kopi. Cuman PT Sulatco ini belum sempat berkunjung ke sana,” tutur Ibrahim.

Sehingga ke depan, dengan adanya kerja sama tersebut, pihak PT. Sulatco Jaya Abadi agar bisa mendirikan kantor perwakilan di Sulbar.

“Penyampaiannya kemarin pak gubernur, kalau memang pihak ketiga ingin menanamkan investasinya di Sulbar paling tidak harus ada kantor perwakilan di sini,” ucapnya.

Baca Juga:  Pelaku dan Pembeli Daging Curian Dibekuk

Ibrahim juga mengungkapkan, selama ini yang mengganjal masyarakat saat pasca panen adalah mereka bingung hasil panennya mau dijual ke mana.

“Tapi, dengan adanya pihak ketiga yang masuk masyarakat tidak akan bingung lagi mau melempar kemana hasil panennya. Tentu kita meminta harganya bisa bersaing dengan harga yang di pasaran. Sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Itu yang sesungguhnya kita harapakan dengan adanya kerja sama ini,” pungkas Ibrahim.

Foto : Kadis Transmigrasi Ibrahim/Busriadi Bustamin

error: Content is protected !!
Open chat
1
Assalamu Alaikum
Ada yang bisa kami bantu?