Gelombang Tinggi ‘Menyerbu’ Tangnga-tangnga, Ridwan: Mitigasi Harus Dilakukan

oleh

Laporan: Wahyudi Muslimin

TINAMBUNG, mandarnesia.com–Musim barat telah tiba, air laut meninggi, begitu pula dengan gelombang yang terhalang oleh tanggul-tanggul beton, memisahkan laut dan pantai sebagai sebuah kesatuan alam.

Beberapa rumah warga yang berada di belakang Masjid Kerajaan Balanipa di Desa Tangnga-tangnga, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar terendam air laut, menjelang petang harus mengungsikan barang-barangnya ke tempat yang aman.

Perisitwa tingginya gelombang ini serentak di sepanjang pesisir Sulawesi Barat Ahad, 05 Desember 2021.

Fungsi tanggul yang dibangun pemerintah tidak kuasa menahan gempuran gelombang laut, lalu merinsek ke rumah-rumah warga atau pemukiman warga.

Asri, salah seorang warga di Tangnga-tangnga menyebutkan kejadian ini barusan terjadi di sini.

“Ini sangat tinggi gelombangnya” ringkasnya kepada mandarnesia.com.

Pada bagian yang dihantam gelombang itu, tanggul yang dibangun kelihat lebih rendah dibanding sisi yang lain.

Lihat video berikut:

Muhammad Ridwan Alimuddin peneliti maritim Sulawesi Barat saat dihubungi mandarnesia via WhatsApp menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pasang saat ini sampai ke pemukiman penduduk dan kabarnya sampai lutut.

“Memang saat ini adalah bulan baru, di mana pasang akan mencapai titik tertinggi. Demikian juga kalau surut, akan sangat rendah. Hari ini, 5 Desember, menurut data pasang surut untuk Makassar, surut terendah terjadi sekitar 08.30 pagi. Ini memang yang terjadi tadi pagi waktu saya lewat Pa’giling, saya lihat Sungai Mandar sampai banyak kelihatan dasar pasirnya. Nah pasang tertinggi terjadi sore sampai pukul delapan malam.” Jelasnya kepada mandarnesia.com.

Lebih lanjut disebutkan Ridwan bahwa faktor lain, memang ini adalah bukti kesekian dari efek pemanasan global. Di mana permukaan air laut naik yang menyebabkan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, yang tadinya tidak kena pasang tertinggi menjadi berdampak. Lalu dalam skala kecil faktor pendukung adalah rusaknya pelindung alami pantai, seperti terumbu karang dan hutan mangrove serta pembangunan tanggul yang asal-asalan.

Baca Juga:  Tur di Kota Tua, Majene (4)

“Yang terakhir ini mungkin kelihatan melindungi pantai dari pasang, tapi ada efek merusak dibaliknya. Seperti gelombang pantulan yang bisa merusak perahu dan menyebabkan abrasi di sisi tanggul. Tanggul itu memantulkan energi, sedikit yang diserap. Beda kalau yang dibuat adalah pemecah ombak. Kalau pemecah ombak, seperti yang ada di Mampie, gelombang yang merusak terserap.” Terangnya melalui WhatsApp.

Muhammad Ridwan Alimuddin selaku peneliti mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan memahami fenomana alam.

“Jadi apa yang harus dilakukan sekarang? Untuk jangka pendek, masyarakat harus waspada dan memahami dengan baik fenomena alam. Mitigasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan saat ini kan sudah masuk musim barat, di mana gelombang berpotensi keras dan juga hujan. Kalau itu semua terjadi bersamaan (pasang tertinggi, hujan deras, gelombang keras), dampaknya akan sangat merusak. Jadi pemukiman yang ada di pesisir harus mengantisipasi hal tersebut.” Tutupnya.

Insert Foto: FB. Muhammad Ridwan Alimuddin

Adv.