,

Vova Sanggayu-Pasangkayu (Mutiara Tanah Tunggara)

oleh
oleh

Potensi Pariwisata Pasangkayu

Kab. Pasangkayu sebagian besar masih merupakan daerah yang belum banyak dieksploitasi alamnya. Sehingga dengan demikian, Pasangkayu menyimpan potensi pengembangan industri pariwisata. Potensi ini bertumpuh pada potensi alamnya yang masih alami, sehingga sangat terbuka peluang bagi para investor agar dapat dikembangkan sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di Sulawesi Barat.

Kenyataan ini bukanlah hanya sebuah impian, tetapi melihat potensi kawasan ini sekarang maupun di masa mendatang. Pasangkayu sebagai salah satu pusat perekonomian yang menghubungkan wilayah Sul-Sel, Sul-Teng, Sul-Ut dan Kaltim (IKN), akan menjadi realita apabila sarana dan prasarana laut, darat dan udara terus ditingkatkan. Kawasan ini akan menjadi salah satu pusat transit masa depan yang utama di sisi barat Selat Makassar.

Potensi pariwisata alam misalnya, di Kecamatan Bambalamotu, terdapat Goa Ape. Selain menyimpan sejarah sebagai sarang monyet, Goa ini juga cukup unik karena berada di bawah dataran. Sehingga pada bagian atas goa ini dipergunakan oleh masyarakat sekitar untuk bercocok tanam. Sejumlah wisatawan asing yang pernah berkunjung, goa ini tergolong unik, sebab di dalamnya terdapat lingkaran air, di tengah lingkaran itu terdapat batu mirip meja perundingan dikelilingi beberapa batu yang serupa kursi-kursi. Sedangkan di dinding goa tersebut, terdapat semacam pintu kamar dan di antaranya terbuka, berhubungan dengan beberapa bagian lain yang ada di dalam goa.

Selain Goa Ape’, di Kecamatan Pasangkayu, juga terdapat Pantai Tanjung Batu Oge’ dengan hamparan pantai yang sangat luas dan terdapat berbagai jenis bebatuan dan terumbu karang yang beraneka ragam. Pantai Tanjung Batu Oge banyak dikunjungi oleh masyarakat untuk berekreasi, terutama pada hari libur. Terdapat pula pemandangan Laut (Taman Laut Tanjung Bakau). Ada pula beberapa yang lain, misalnya Pasir Putih Buyu dengan panorama laut yang begitu indah, terdapat di Desa Sarudu. Di sini juga terdapat Pantai Salu Kaili, terdapat di Baras. Selain itu ditemukan pula sejumlah Air Terjun di Sarudu dan Baras, yang lagi ngetren adalah Pantai Koa-koa dengan senja yang tak kalah dengan Pantai Sanur Bali.

Untuk kategori wisata sejarah ada Benteng Samaribu di Bambalamotu, ada pula Suku Bangsa Bunggu, suatu Komunitas Adat Terpencil yang unik, terdapat pula Sumur Tua Parappe’ yang airnya sangat jernih. Dalam kelompok wisata minat khusus ada Tari Motaro: Tarian Rakyat Orang Bunggu/Binggi, yang diperagakan setiap pesta Panen di Bantaya. Bantaya merupakan pusat kegiatan ritual keagamaan masyarakat Suku bangsa Bunggu. Tari ini diperagakan di atas bara api yang menggambarkan kehidupan mereka yang penuh dengan penderitaan.

Selebihnya wisata kuliner adalah hal penentu salah satunya dalam dunia wisata. Dari sajian makanan kuliner, nampak Pasangkayu sebagai Indonesia mini. Di sini terdapat makanan khas tradisional Mandar, Bugis, Makassar, Kaili, Jawa, Bali, NTB dan lain-lain.

Ya, itulah Pasangkayu. Mutiara Tanah Tunggara. Sejak dahulu kala, sesungguhnya memiliki keelokan dan keunikan eksotika tak terkira. Jangan tanyakan bagaimana panorama lautnya menjelang senja. Jika hari makin suruf, matahari perlahan tenggelam di balik garis lengkung langit dan laut, menebarakan cahaya merah kuning keemasan, seolah menabur bianglala di angkasa raya, menggantikan langit biru menjadi merah saga, menenggelamkannya ke dalam malam-membelam.

Panorama sore yang indah pastinya. Apalagi jika disaksikan dari Pantai Koa-Koa atau dari Tanjung Pasangkayu. Dalam kekiniannya, Pasangkayu terus bersolek manis, anjungan Pasangkayu berdandan tak habis-habis, menjadi magnet para wisatawan lokal dan manca negara. Sebuah ruang public (public space) yang nyaman, beraneka ragam kuliner ada di sana, sarana dan prasarana olah raga, basket, jalur jogging, jalan-jalan sore, nge-jeam, masjid apung yang unik: selain memberi suasana religious juga memberi nuansa ruhaniah di tengah gegap gempita wiasata kuliner. Pemandangan dan keindahan itulah yang seolah mampu menyihir siapa saja yang melewati daerah ini untuk sejenak singgah, meneduhkan kepenatan dan keresahan, setelah bekerja seharian, atau perjalanan panjang dan melelahkan.

Begitulah Pasangkayu dari masa ke masa. Tidak hanya pada hari ini, tetapi di masa lalu pun demikian adanya. Gugusan pantainya yang indah, melengkung serupa bibir gadis-gadis pantai, membujur terus ke timur dan mata kita akan terus mengikuti lengkung langit dan pantai, seolah memberi isyarat bagi siapa pun tentang sebuah negeri yang ditemukan oleh para nelayan Kaili dan beberapa suku bangsa lain dalam sihir senja dan temaram bulan di bawah Pohon Vova Sanggayu. Atau mungkin Pasangkayu dicipta Tuhan, ketika para Malaikat sedang tersenyum?

*Bustan Basir Maras; Etnografer-Traveller.