Pendukung dan Pendorong
Betapa kuat, betapa dalam akar historis Pasangkayu tertanam. Cerita dan legenda tentang Pakava dan Vivi Koro, sebuah rumpun suku bangsa Kaili yang kini masuk ke dalam wilayah Pasangkayu, menjadi pijakan sejarah dan akar kebudayaan peta perjalanan defusi kebudayaan selanjutnya di wilayah ini. Beberapa ratus tahun yang lalu: dalam sejumlah dugaan penelitian yang dilakukan oleh Tim Riset LIPI, Truman Simanjuntak dkk menunjukkan adanya sejumlah perhimpunan kerajaan-kerajaan kecil (kelompok atau komunitas) yang ada di sekitar Pasangkayu hingga Lariang. Kerajaan-kerajaan ini merupakan kelompok yang telah mampu melakukan hubungan ‘bilateral’ dengan kerajaan-kerajaan lain di Baba Binanga-Mandar, bahkan di wilayah lain baik di dalam maupun di luar lingkup Pulau Sulawesi. Kerajaan-kerajaan itu antara lain: Kerajaan Sarudu’, Baras, Lilimori, Benggaulu, Koro, dan lain-lain.
Konon dalam folklor Tanah Mandar: Kerajaan Sendana sebagai salah satu kerajaan besar di wilayah Ba’ba Binanga (kerajaan yang ada di pesisir) menjalin hubungan intim dengan Kerajaan Baras (salah satu kecamatan di Pasangkayu hari ini). Bahkan Kerajaan Sendana juga mengakui, bahwa logo bendera Cakkuriri Kerajaan Sendana adalah bukti dialiktika bilateral Sendana dengan Baras. Diduga jalur hubungan sosial politik Sendana ke Utara hingga ke Kaili salah satunya adalah pintunya di Baras. Di samping itu terjadi pula kawin mawin antara putra-putri Kerajaan Baras dan Sendana. Dengan demikian Lagu (NN) Bura’ Sendana Tilili Naung di Kali makin menemukan konteksnya.
Selain Baras, Sarudu sebagai salah satu dari lima kerajaan yang disebutkan di atas, memiliki suku bangsa terpencil yang diduga oleh masyarakat setempat sebagai penduduk asli Kerajaan Sarudu dikenal dengan nama Suku Bangsa Uma. Memiliki dialek khas dan bahasa sendiri, berbeda dengan bahasa Mamuju, Kaili, Bugis dan lain-lain. Selain dari sisi bahasa, mereka juga memiliki ciri dan corak kebudayaan yang berbeda, seperti gaya hidup keseharian, gaya arsitektur (rumah adat) dan lain-lain.
Selain sungai Karama’ yang jamak jadi objek penelitian para arkeolog di Sulbar, yang penting dicatat bahwa kerajaan-kerajaan yang berdiam di sekitar sungai Lariang hingga Pasangkayu, kesemuanya merupakan kerajaan-kerajaan besar, masuk dalam kelompok persekutuan wilayah Kerajaan Kaili yang lebih dikenal dengan sebutan Pitunggota Kerajaan Kaili dan Opunggota Kerajaan Kaili. Salah satu kerajaan besar di masa itu yang masuk dalam persekutuan Kaili adalah kerajaan Dhompu yang mayoritas penduduknya diperkirakan sebagai penduduk tertua di pedalaman wilayah Pasangkayu dan sekitarnya. Adapun penduduk yang tinggal di dataran rendah dikenal dengan Rumpun Suku Bangsa Kaili Binggi, sedang yang tinggal di dataran tinggi (pegunungan) disebut Rumpun Suku Bangsa Kaili Bunggu. Sementara istilah Pitunggota dan Opunggota diambil dari bahasa Kaili yang berarti Tujuh Kerajaan persekutuan Kaili yang ada di pegunungan (Pitunggota) dan Empat Kerajaan persekutuan Kaili yang ada di pesisir pantai (Opunggota).
Beberapa sumber literasi menyebutkan dan menduga, wilayah Pasangkayu baru tergarap dan benar-benar dihuni pasca perang antara Persekutuan Kerajaan Mandar dan Kaili di sekitar abad ke 18 dengan perkiraan antara tahun 1800-1939 M. Sebagai wilayah migran, diperkirakan perkampungan pertama yang ada di Pasangkayu, adalah Tanjung Pasangkayu. Sebab sudah menjadi bukti di berbagai daerah maritim lainnya, perkampungan penduduk selalu bermula dari pantai atau wilayah-wilayah yang berdekatan dengan laut. Sebab laut adalah sumber penghidupan, sekaligus sebagai sarana utama yang menghubungkan antara penduduk setempat dengan dunia lain yang ada di luarnya.
Bukti lain menunjukkan bahwa yang menemukan dan mendiami wilayah Pasangkayu pada mulanya adalah orang Kaili: di wilayah ini hampir 70 % penduduk dan nama-nama perkampungannya berasal dari bahasa Kaili. Kampung-kampung atau tempat-tempat perkumpulan penduduk di Pasangkayu diberi nama, seperti: Bambalamotu, Bambaira, Bambaloka, Salukaili dan lain-lain.
Dari struktur kebudayaannya, Pasangkayu memiliki banyak warna dan kesamaan dengan budaya Kaili. Baik dalam acara perkawinan, kematian, maupun dalam acara adat lainnya. Semisal dalam acara Mattang (Madduppa dengan enam orang perempuan menggunakan dua sarung, satu dipakai dan satu digunakan menutup kepala). Di Palu, acara ini dikenal dengan istilah Sambulu Manggulintang, Morego dan sebagainya. Sehingga dengan demikian, masyarakat Pasangkayu mempunyai hubungan emosional yang sangat erat dengan Suku Bangsa Kaili (Sulawesi Tengah).
Dari beberapa tesa di atas, kian menunjukkan keunggulan Pasangkayu yang memiliki akar kebudayaan yang panjang dan menancap jauh ke dalam akar kebudayaan Pulau Sulawesi sebagai “Pulau Tumbuh” dalam istilah para Arkeolog sehingga menyimpan banyak misteri-misteri yang layak untuk diriset secara mendalam. Bahkan dalam sebuah kesempatan yang rileks saat saya berbincang dengan Arkeolog UGM Daud Aristanudirja di FIB UGM, ia menegaskan bahwa siapa yang mampu mengungkap misteri Sungai Karama dan sekitarnya hingga Lariang, maka ia akan mampu mengungkap seluruh misteri Arkeologi di Pulau Sulawesi. Ini tentu potensi historis dan kebudayaan yang begitu besar dimiliki oleh Pasangkayu sebagai faktor-faktor pendorong utama penggalian kebudayaan yang ujungnya akan menjadi daya tarik Pariwisata Kab. Pasangkayu.
******
Merencanakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata di suatu daerah, terutama daerah yang baru saja dibuka menjadi sebuah kota, mestinya melalui perencanaan yang baik dan konsisten. Sebuah kabupaten seharusnya memiliki master plan wisata-budaya yang akan menjadi acuan pembangunannya.
Ada banyak hal yang menjadi penunjang utama dan menjadi skala prioritas di dalam suatu daerah jika ingin mengembangkan kepariwisataan. Salah satu faktor yang sangat vital adalah sarana transportasi yang menghubungkan daerah-daerah baik antar kabupaten maupun antar propinsi di Pulau Sulawesi, seperti ke Makassar, Palu, Gorontalo, Manado, yang melalui garis Pasangkayu. Bahkan ada kemungkinan pengembangan untuk membuka jalan tembus ke perut Sulawesi, ke Palopo, Luwu, Toraja dan sekitarnya.
Alhamdulillah, dalam hal transportasi, khususnya transportasi darat, jalan trans Sulawesi yang menghubungkan Mamuju-Pasangkayu, berberapa tahun terakhir nampak mulus dan lancar. Sangat berbeda jauh situasi dan kondisinya di era 2000-an saat masa-masa awal saya datang ke Pasangkayu.
Sementara untuk transportasi laut, saat ini Pasangkayu memiliki potensi yang sangat besar. Bahkan sejumlah pelabuhan yang masuk dalam wilayah Pasangkayu digadang-gadang akan masuk ke jalur utama transportasi Tol laut ke Ibu Kota Negara (IKN Nusantara) kelak. Terutama Pelabuhan Bone Manjeng yang tertetak di Sarudu dan juga Pelabuhan Tanjung Baku yang berada di dekat Ibu Kota Pasangkayu. Adapun transportasi udara, Pasangkayu tentu sangat layak untuk memiliki Bandar Udara tersendiri, mengingat jarak yang begitu jauh dari Ibu Kota Propinsi Sulbar, yakni Mamuju. Apalagi dengan Bandara Mutiara Palu. Selain jauh jika diukur dari Titik Nol Kab. Pasangkayu, juga menggunakan bandara kabupaten lain, apalagi propinsi lain, tentu sektor kepariwisataan takkan memberi dampak apapun, terutama dampak ekonomi pariwisata. Namun untuk sementara yang paling memungkinkan menjadi jalur masuk Pasangkayu dan terdekat adalah Bandara Mutiara Palu. Dengan demikian jika suatu saat kunjungan pariwisata di Pasangkayu meningkat dan melalui jalur Bandara Mutiara Palu, tentunya Pemda Pasangkayu harus membuat MOU dengan Pihak Pemprop Sulteng.
Tak kalah pentingnya jaringan Telekomunikasi, juga menjadi penentu dalam bisnis kepariwisataan. Trutama di era 4.0 ini, tehknologi IT yang urat nadinya pada jaringan telekomunikasi menjadi sangat penting artinya dalam industry pariwisata.
Untuk sarana hotel, restoran dan penginapan, home stay, cottage dan lain-lain, meskipun jumlahnya masih sangat terbatas, fasilitas-fasilitas tersebut di ibu kota Pasangkayu, dengan mudah bisa kita temukan.
Untuk memperlancar sirkulasi perekonomian dan sirkulasi keuangan, di Pasangkayu terdapat sejumlah lembaga perbankan. Seperti Bank BPD Sulsel Cabang Pasangkayu, BRI, BNI dan berbagai jasa keungan lainya.












