fbpx

Kopra Hitam-Putih, Usaha Ibu Radiah di Polman

Penulis : Indah, Mahasiswa Unasman

Kopra adalah daging buah kelapa yang dikeringkan. Kopra merupakan salah satu produk turunan kelapa yang sangat penting, karena merupakan bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Untuk membuat kopra yang baik diperlukan kelapa yang telah berumur kira-kira sekitaran 300 hari dan memiliki berat sekitaran 3-5 kg. Setelah kopra selesai diekstrak minyaknya, yang tersisa adalah produk samping yang mengandung protein tinggi 20% namun memiliki serat yang sangat tinggi sehingga tidak bisa dimakan oleh manusia. Produk samping ini umumnya diberikan pada hewan ternak sebagai pakan.

Proses pembuatannya yaitu mengupas atau menghilangkan sabuk kelapa dan membelah buah kelapa Tujuan penghilangannya sabut dan pembelahan buah kelapa adalah untuk memudahkan proses selanjutnya sekaligus mengeluarkan air buah kelapa Setelah air menetes habis, Buah yang baru-baru saja dibelah harus segera dikeringkan selama 2-3 hari lamanya. jika dibiarkan saja akan menyebabkan rusaknya daging buah kelapa, misalnya tumbuhnya jamur lendir yang diikuti oleh pertumbuhan jamur pada permukaan daging buah kelapa.

Hj Radiah (45 tahun) pengusaha Kopra dari Basseang, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar menyebutkan bahwa beliau sudah setahun mengelolah usaha kopranya, biasanya dipasarkan di gudang Mani-mani atau kadang juga dipasarkan di Wonomulyo, kopra putih beliau biasanya pemasarannya sampai di Surabaya sedangkan kopra hitam pemasarannya biasa sampai ke Makassar, Jika beliau memasarkan kopranya membutuhkan beberapa kopra yang kering 5-10 karung dan pemasarannya membutuhkan waktu satu minggu. Selama beliau mengolah usahanya ini penghasilan yang didapat saat dijual tergantung dari beratnya. Sekitaran 5 juta perbulan.

“Sekarang harga kopra mahal atau meningkat kira-kira lebih 1 juta perkilo” tuturnya.

Radiah memiliki tiga karyawan atas nama Mila (35 tahun), Ida (33 tahun) dan Mail (35 tahun) mereka sudah lama menjadi karyawan dengan gaji tergantung harga kopra.

Baca Juga:  Buat Inovasi, AIM Kumpulkan Kepala Puskesmas

Ada dua jenis kopra yaitu kopra hitam dan kopra putih. Kopra hitam sesuai namanya bentuknya berwarna hitam dan proses kopra hitam relatif sangat mudah untuk diproduksi, yaitu dengan cara memisahkan kelapa dari batok atau tempurungnya lalu diasapi dan dikeringkan sampai berwarna hitam. Kopra hitam biasnya digunakan untuk bahan baku minyak kelapa (coconut oil). Pengeringan untuk kopra hitam dan kopra putih maksimal 2-3 hari.

Sedangkan kopra putih diolah dari kelapa segar tua dengan sistem pengeringan atau pemanasan secara tidak langsung dan dibantu dengan sinar matahari. Pengolahan kopra putih sangat memperhatikan kebersihan dan prosedur yang ketat sehingga dihasilkan kopra putih yang kering (10%), bersih dan higienis, bersih bebas dari kotoran-kotoran lainnya. Kopra putih adalah bahan baku untuk pengolahan Pure Coconut Oil (Minyak kelapa murni) yang diproses tanpa campuran bahan kimia untuk minyak makan atau minyak goreng sehat, serta bahan-bahan seperti sabun herbal dan produk-produk turunan yang berkualitas dan higienis  lainnya.

Kopra putih dan kopra hitam keduanya merupakan hasil dari metode pengeringan yang berbeda. Pengeringan dengan menggunakan mesin pengering akan menghasilkan kopra berwarna putih dengan kualitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan metode pengeringan dengan penjemuran dibawah sinar matahari atau dengan pengasapan. Kelapa kopra yang baik memiliki kadar air 7% – 9% persen. Bila tidak, maka akan dengan mudah  kopra akan rentan terhadap serangan bakteri dan jamur dan kelapa yang sudah menjadi kopra kemudian akan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan produk minyak kelapa atau produk turunan lainnya.

Kelapa kopra (coconut copra) merupakan produk daging kelapa yang dikeringkan, dengan tujuan untuk mengekstraksi minyak yang terkandung didalamnya. Proses pembuatan minyak kelapa dari kopra ini telah dilakukan sejak dulu secara turun temurun karena buah kelapa sangat banyak kandungan dan manfaat di dalamnya.

Baca Juga:  Waspada, Ombudsman Gadungan Berkeliaran di Sulawesi Barat

Teknik pengolahan kopra ada beberapa macam, yaitu pengeringan dengan sinar matahari  (sun drying), pengeringan dengan pengarangan atau pengasapan di atas api (smoke curing or drying), dan pengeringan dengan pemanasan tidak langsung (indirect drying) dan ada juga yang memakai alat mesin pengering atau Pengeringan dengan panas buatan (artificial drying).

Proses Pengeringan dengan sinar matahari  (sun drying)

Peralatan yang dibutuhkan untuk cara pengolahan atau pengeringan dengan sinar matahari adalah lantai pengering atau pun rak-rak terbuat dari bambu. Bila cuaca yang baik, dalam waktu 2 hari pengeringan, daging buah dengan mudah dapat dicungkil dari tempurungnya. Dengan pengeringan kembali selama 3-5 hari sudah akan didapatkan kopra kering. Pada cuaca baik, pengeringan secara kontinyu selama 8 jam mampu menguapkan 1/3 kadar air yang terdapat pada buah. Dalam perdagangan hasil pengeringan tersebut dinamakan sebagai kopra kering.

Adapun keuntungan yang di dapatkan dari proses pengeringan dengan sinar matahari (sun drying) yaitu :

  • Biaya murah
  • Tidak memerlukan bahan bakar
  • Relatif sedikit memerlukan pemeliharaan alat
  • Menghasilkan kopra dengan mutu tinggi

Adapun kelemahan yang di dapatkan dari proses  pengeringan dengan sinar matahari (sun drying) yaitu :

  • Sangat tergantung denga cuaca
  • Waktu dan kondisi pengeringan tidak dapat diatur
  • Kemungkinan pertumbuhan jamur bila cuaca kurang atau tidak baik atau bila waktu pengeringannya terlalu lama

Proses pengeringan dengan alat pengering atau dengan panas buatan (artificial drying) yaitu :

Pemanasan secara Langsung dengan cara ini, daging buah akan kontak langsung dengan gas-gas yang timbul dari pembakaran dalam dapur api. Hasil yang diperoleh dengan pengeringan dengan pemanasan secara langsung disebut sebagai smoke dried copra (asap yang mengeringkan kopra), dengan ciri khas berbau asap dengan permukaan berwarna putih kecoklatan. Contoh model alat pengering ini adalah rak-rak bambu dengan dinding terbuat dari daun-daun kelapa. Model pengering ini merupakan  alat pengering buatan paling sederhana. Bahan bakar menggunakan tempurung kering.

Baca Juga:  GTT-PTT: Pemberian SK dan Penggajian Dipercepat

Kopra yang baik sebaiknya hanya memiliki kandungan air 7% – 9% agar tidak mudah terserang organisme pengganggu. Kerusakan yang terjadi pada kopra pada umumnya disebabkan oleh serangan bakteri dan serangan cendawan. Serangan tersebut mudah terjadi jika kadar air dalam kopra tinggi, kelembaban udara mencapai 83% atau lebih dan suhu atmosfer mencapai 35 °C.

Mungkin ada beberapa orang yang bertanya tentang apa yang berharga dari buah kelapa? Sedemikian pentingkah kelapa sehingga butuh perhatian dan perlu diselamatkan? Jawabannya tidak sesederhana bahwa tanaman ini menghasilkan buah kelapa yang dijadikan kopra dan juga buah kelapa yang diperas untuk santan dan minyaknya.

Kerusakan yang dapat dialami pada kopra yaitu selama penyimpanan, misalnya kurang sempurnanya pengeringan, peyimpanan yang kurang baik, praktek-praktek dalam perdagangan, yaitu mencampur kopra baik dengan kopra jelek. Kopra yang kurang kering dapat berakibat pada terjadinya kerusakan pada kopra.

Adapun manfaat dari pengolahan limbah kopra, dari pengolahan kopra dihasilkan limbah berupa air kelapa, sabut kelapa (serabut kelapa) dan tempurung kelapa (batok kelapa). Pengolahan air kelapa dapat lebih lanjut menghasilkan produk berupa minuman siap minum, nata de coco, cuka air kelapa, dan kecap air kelapa. Tempurung atau batok kelapa dapat dimanfaatkan menjadi aneka barang kerajinan rumah tangga, meskipun banyak juga yang hanya memanfaatkannya untuk bahan bakar pengolahan kopra.

error: Content is protected !!
Open chat
1
Assalamu Alaikum
Ada yang bisa kami bantu?
%d bloggers like this: