Ini Hasil Kunjungan Pansus TBS di Kaltim

oleh
Ini Hasil Kunjungan Pansus TBS di Kaltim -

MAMUJU-Pansus Tandang Buah Segar (TBS) DPRD Provinsi Sulawesi Barat melakukan kunjungan ke Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (20/3).

Kunjungan ke Kaltim dengan melakukan pertemuan Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim yang diterima langsung oleh Kadis Perkebunan Kaltim, seluruh Kepala Bidang Dinas Perkebunan, serta Sekretaris Tim penetapan harga TBS Provinsi Kaltim.

Anggota Pansus TBS Ajbar Abdul Kadir mengatakan, dari hasil kunjungan tersebut beberapa hal yang berkembang dan menjadi prioritas adalah perbedaan harga yang cukup tinggi dari setiap bulan atu setiap penetapan dari pemerintah.

Dimana menurut Ajbar, perbedaan tersebut berkisar Rp.4000-an.

“Hal ini tentu menjadi pertanyaan bagi kami kok bisa? Setelah melakukan kunjungan hal yang kami temukan adalah adanya perbedaan harga CPO cukup tinggi yang dilaporkan oleh perusahaan melalui invoice penjualan perusahaan,” ucap Ajbar, via WhatsApp, Senin malam (21/3).

Perbedaannya setiap bulan diatas Rp.1.000. Kalau Sulbar Rp.6000-an, maka di Kaltim sudah Rp. 7.000-an. Kalau di Sulbar Rp. 7.000-an, maka di Kaltim sudah Rp.8.000-an.

“Begitu juga indeks K di Kaltim. Indeks K tidak pernah di bawah 80%, tetapi kita di Sulbar angka 80% dapat dicapai setelah ada pergub. Bahkan saat ini indeks K kita 80%, Kaltim sudah 85%. Tentu ini sangat mempengaruhi,” jelasnya.

Pertanyaanya kata Ajbar, kenapa bisa harga penjualan CPO di Kaltim lebih tinggi?

“Maka menurut saya kemungkinan, pertama, data invoice yang diberikan oleh perusahaan tidak benar atau rekayasa, kedua kalau harga itu benar maka betapa bodohnya perusahaan di Sulbar mau menjual murah, padahal ada pembeli bisa lebih mahal dari yang dijualkan selama ini,” katanya.

Padahal kalau mau dihitung harga di Sulbar harusnya bisa lebih mahal.

Pertanyaan kedua, indeks K di Sulbar lebih rendah dari Kaltim, kenapa bisa?

“Pertama kemungkinan data yang dimasukkan oleh perusahaan pabrikan tidak benar. Kedua tim penetapan harga tidak pernah serius dalam melakukan verifikasi faktual di lapangan. Padahal kalau ditinjau dari segala aspek variabel yang mempengaruhi indeks K harusnya Sulbar lebih tinggi indeks K-nya. Sebab dari aspek jarak, kita lebih dekat, infrastruktur jalan kita lebih baik, biaya karyawan kita lebih rendah. Jadi tidak ada alasan kita lebih rendah indeks K-nya,” jelas Ajbar.

Olehnya itu ia meminta, ada tim audit yang harus segera mengaudit invoice penjualan dan lainnya ke perusahaan yang ada di Sulawesi Barat.

#BusriadiBustamin

Adv.