Kisah Mahasiswa Baru di Kampus Biru

Kisah Mahasiswa Baru di Kampus Biru

Oleh : Juniana, Mahasiswa Unasman

Aku Ria, putri ketiga dari lima bersaudara, ibuku seorang buruh karyawan, kehidupanku  sederhana, tetapi dengan kesederhanaan itu memberikan rasa syukur. Aku mempunyai orang tua serta kakak yang sangat menyayangiku. Aku memempunyai prinsip bawah kita harus menjalani hidup yang telah ditakdirkan dengan bersyukur apa dimiliki dan harus selalu berusaha untuk memperjuangakan kehidupan dengan kemampuan. Keseharian aku selain sekolah, membantu ibu di rumah.

Aku  mempunyai sahabat, tinggal di sebuah kompleks tidak jauh dari rumahku, Putri namanya. Tidak jauh beda dengan saya, hanya saja ia masih memiliki ayah dan ibu dengan sempurna. Sementara ayahku sudah lebih dulu menghadap ke sang khaliq.

Setiap hari kami pergi ke kampus bersama, dan aku merasa bahagia karena sahabatku Putri adalah teman sepermainanku sejak kecil, memilih jurusan yang sama, Bahasa Indonesia. Setiap hari aku dan Putri selalu bersama-sama dan belajar bersama. Karena putri termasuk anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, pandai dan rajin serta termasuk anak yang peduli terhadap orang lain dan perhatian kepada orang-orang terdekatnya. Aku  merasa bersyukur karena memiliki sahabat baik sepertinya.

Menjadi mahasiswa adalah keinginanku sejak duduk di bangkung SMA, sungguh ingin menikmati suasana lingkungan kampus, asri nan sejuk dipandang dan dapat menghirup udara segar saat berjalan menyusuri kampus untuk menuju ruangan kelas.

Walupun aku memasuki pengguruan tinggi swasta yang dikenal dengan kampus biru, tetapi aku berpikir bahwa perguruan tinggi swasta yang kutempati menimbah ilmu tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri, kampus ini cukup indah dengan banyaknya pohon yang tumbuh. Meskipun tidak seperti kampus lain, tapi bagiku ini sudah cukup untuk mengurangi pemanasan global dan bisa menjadi kampus kondusif untuk belajar.

Sebagian mahasiswa memasuki ruangan dan ada yang sekedar duduk-duduk sambil berbincang di bawah pohon rindang, ada juga yang sedang beribadah di mesjid kampus letaknya dekat pintu utama kampus. Dan ada juga sebagian berada dalam ruangan labolatorium sedang melakukan pembelajaran.

Baca Juga:  'Susu' Ditemukan Tertukar di Beberapa TPS di Mamuju

Proses perkuliahan perdana telah dimulai, aku terus berjalan dibelai angin yang berbisik dan menyusuri jalan koridori menuju kelas, karena kelasku berada di lantai dua. Pada lantai tersebut bisa menyaksikan mahasiswa berkumpul di beberapa tempat pada rindangnya pohon sambil menikmati henbusan angin yang berbisik lembut menyuarakan kesejukan,  Tempat yang memang disiapkan kampus untuk mahasiswa bersantai.

Setelah perkuliahan selesai aku diajak oleh temanku untuk duduk di sebuah taman, kami duduk pada sudut taman dan kami pun bercerita dan berbagi pengalaman masing-masing. Kupandang sekeliling kampus aku merasa senang duduk di bawah pohon yang rindang, merasakan angin agak kencang, membuat daun-daun tua berjatuhan.

Aku menyadari meski kampuss biru ini terbilang sempit tetapi terasa hidup dan nyaman karena banyak pepohonan yang tumbuh, sebagian mahasiswa ada juga sedang duduk pada sudut taman di bawah pohon rindang sambil menikmati pemandangan dan menikmati tiupan- tiupan angin yang berbisik lembut.

Matahari pun beranjak sore dan angin masih bertiup sedang, tidak sepoi juga tidak begitu kencang membuat aku tak mau bangkit dari tempat duduk. Malam juga sudah hampir menyapa, saya pun bangkit kembali ke rumah, ada ibu yang menungguku pulang.

Bagiku menjadi seorang mahasiswa baru, awal memasuki dunia kampus pastilah memberikan kesan tersendiri, selain memiliki kultur dan sistem pendidikan yang berbeda dengan lingkungan SMA. Dunia kampus juga telah mampu memberikan nuansa dan teman yang baru, tempat baru, dan pengalaman baru. Karena menjadi seorang mahasiswa kita lebih memempunyai tanggujawab yang  besar, dan  diajarkan untuk belajar mandiri.

Dunia perkuliahan terlihat bebas dibandingkan dengan dunia sekolah, bukan berarti kebebasan tersebut adalah suatu hal yang mutlak atau kebebasan tidak berbatas, tetapi sesunggungnya dunia perkulihan memberikan kebebasan karena kita dianggap sudah dewasa untuk dapat menentukan baik dan buruk menuju masa depan yang lebih baik.

Baca Juga:  Resensi Buku Antologi Puisi Jalaluddin Rumi Kasidah Cinta

Menjadi seorang  mahasiswa adalah satu hal menyenangkan bagiku, karena beragam komunitas di dalamnya, tentu seorang mahasiswa perlu berpikir lebih lanjut dan mengatur strategi studi yang matang agar masa perkulihan berjalan mulus tanpa hambat, menjadi seorang mahasiswa tidaklah hanya mengejar IPK tinggi tetapi harus memastikan perkembangan dan mempunyai kualifikasi sehingga bisa diterapkan di masyarakat nantinya.

Menurutku kehidupan kampus itu unik, sebagai mahasiswa merasa kampus memang kehidupan nyata. Karena kita dapat mengenal, memiliki banyak teman, mengajarkan kerjasama, berbagi ilmu bermanfaat. Membentuk suatu forum kerja sama yang baik antara sesama mahasiswa. Sebagai mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelajar, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan kampus dan organisasi yang berjalan di kampus, karena mahasiswa yang inovatif dan kreatif sangat diperlukan demi keberhasilan kampus, tolak ukurnya di situ, ketika mahasiswa mampu menerapakn segala apa yang diperoleh dalam bangku perkuliahan  sehingga dapat menerapakan ilmunya di masyarakat.

Perbedaan dunia kampus dengan dunia putih abu-abu atau putih biru, dalam proses pembelajarannya, di jenjang pendidikan sebelumnya, guru lebih aktif mengajar dan memberikan ilmu ke peserta didikanya. Sementara dunia kampus itu tidak ditemukan lagi, mahasiswalah yang harus aktif dan mandiri dalam proses pembelajaran.

Dunia kampus mengajarkan tidak hanya mengejar target tetapi kita juga diajarkan berinteraksi dengan masyarakat luar secara langsung, Oleh karena itu dalam kehidupan kampus peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan keperibadiannya menjadi begitu sangat besar. Karena mahasiswa dituntut untuk bisa mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjadi seorang mahasiswa banyak situasi atau keadaam yang harus dihadapi selama menjalani perkuliahan, entah itu datang dari masalah pribadi atau masalah dari dunia kampus itu sendiri, tapi ada banyak cara yang bisa kita lakukan hingga kita bisa menyelesaikan masalah tersebut, contohnya bisa saling berbagai dengan teman-teman kuliah untuk memberikan solusi agar bisa menyelesaikan masalah sendiri. Kehidupan sebagai mahasiswa memenag tidak semudah apa yang kita pikirkan, oleh karena itu kita sebagai mahasiswa harus mampu berpikir secara logis dan kreatif dan mampu belajar secara mandiri, di bangku perkuliahan tidak sama ketika duduk di bangku SMA.

Baca Juga:  Jangan Lupa, Catat Waktu dan Tempatnya! Festival Karampuang 2019

Memasuki dunia kampus kita merasa lebih dewasa, menjadi seorang mahasiswa banyak yang dhadapi, contohnya menghadapi tugas bertubi-tubi, itu bisa membentuk pribadi  yang bertanggujawah dan siap terjun ke dunia kerja dengan berlatih mengerjakan tugas berjumlah banyak.

Menjadi mahasiswa, berarti saatnya mulai berpikir dewasa dengan berupaya memiliki skill, lalu mengembangkannya sebagai bekal untuk terjun ke dunia kerja nantinya. Kampus telah menyediakan berbagai banyak wadah untuk melatih atau mengasah pikiran, mulai dari jurnalistik, berorganisasi dan sebagainya. Dan kesempatan inilah yang harus kita manfaatkan selama kita menjadi seorang mahasiswa agar ketika lulus sudah mempunyai pengalaman menuju ke dunia kerja.

Smart Millennials Update