Kearifan Bahari dan Agraris Warnai Festival Sipamandar

Dok. Panitia

MANDARNESIA.COM, Majene — Festival Sipamandar dengan tema “Jejak Pelayaran Jalur Rempah Majene” menggelar dua kegiatan yang menarik: Lomba Soppe-Soppe (perahu sampan tradisional) dan Lomba Musik Tradisi tingkat pelajar SMP/sederajat pada Jumat (13/9/2024)

Kedua kegiatan ini menjadi ajang pelestarian budaya maritim dan kesenian lokal yang diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan leluhur Mandar.

Lomba Soppe-Soppe, diadakan di perairan pantai Pamboang tepatnya di Dapur Mandar, mempertemukan para peserta dalam balapan perahu tradisional berawak satu orang.

“Perlombaan ini tidak hanya menguji keterampilan mengemudi dan kerja sama tim, tetapi juga menampilkan budaya bahari Mandar yang sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat sejak dahulu. Para peserta berasal dari berbagai daerah di Majene dan berkompetisi dengan penuh semangat, menghidupkan kembali kejayaan pelayaran tradisional Mandar,” jelas panitia pelaksana dalam keterangan persnya kepada mandarnesia.com, Sabtu (14/9/2024).

Tim Jalur Rempah dari Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan sangat mengapresiasi kegiatan ini dan terlibat langsung dalam kegiatan ini. Mereka bahkan ikut naik perahu untuk melihat langsung keseruan dan ketegangan perlombaan Soppe-soppe ini.

Para jawara lomba perahu Soppe-soppe ini antara lain: Juara I: Nur Hidayat, Juara II: Melati, Juara III: Nur Najwa, Juara IV: Nur, Juara V: Aroma, Juara VI: Sakur, Juara VII: Ya’du, Juara VIII: Mimpi Indah, Juara IX: Mimpi Manis

Nur Hidayat, peserta yang berhasil meraih juara pertama pada perlombaan Soppe-soppe menjelaskan bahwa kesulitannya dalam perlombaan ini, saat angin laut tiba-tiba hilang sebab Soppe-soppe ini digerakkan oleh angin dengan layar.

“Sedikit-sedikit angin hilang dan terpaksa dikayuh dengan tangan.”

Nasa Tammalassu PIC Lomba Soppe-soppe yang banyak aktif di kegiatan kebaharian di Sulawesi Barat menjelaskan deskripsi perahu sampan ini bahwa salah satu jenis perahu yang menarik untuk dibahas adalah Soppe-soppe, sebuah sampan kecil yang dilengkapi dengan layar, cadik, dan katir.

“Desain perahu ini sederhana dengan kapasitas berlayar yang terbatas, hanya mampu menjelajah beberapa mil dari bibir pantai. Hal ini disebabkan oleh bodi Soppe-soppe yang tidak memiliki palka, sehingga air laut mudah masuk ketika menghadapi ombak yang agak besar,” jelasnya.

Lebih jauh Nasa menjelaskan bahwa keunikan Soppe-soppe terletak pada kesamaannya dengan perahu bercadik lainnya, yakni digunakan untuk aktivitas memancing, baik ikan karang maupun ikan laut dalam. Perahu ini berkapasitas hanya satu hingga dua orang, dan tidak dirancang untuk perjalanan laut yang panjang atau bermalam.

Biasanya, para nelayan Mandar menggunakan Soppe-soppe untuk berlayar dalam waktu setengah hingga satu hari saja, yang mencerminkan keterhubungan masyarakat Mandar dengan laut dalam mencari nafkah sehari-hari.

Untuk Lomba Musik Tradisi tingkat SMP/sederajat diadakan di aula BPMP Sulawesi Barat. Para pelajar dari berbagai sekolah akan menampilkan kreasi musik tradisional Mandar yang memadukan alat musik khas seperti gendang, gong, dan calong, katto-katto, gongga lima, dan sebagainya.

Lomba ini bertujuan untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda sekaligus mengasah kreativitas mereka dalam mengembangkan musik warisan leluhur. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah apresiasi budaya sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di kalangan pelajar.

Menurut Surianti, PIC lomba musik tradisional menyebut bahwa lomba ini diikuti oleh 12 sekolah dengan total peserta 92 pelajar yang ada di Kabupaten Majene mereka para pelajar antusias ingin menampilkan yang terbaik untuk sekolahnya di Festival Sipamandar.

“Benar bahwa peserta sangat antusias untuk tampil di acara ini dan ada peserta yang tidak ingin tampil di sore sebab menunggu malam yang ramai pengunjung festival,” sebut Surianti.

Pengumuman hasil lomba akan diumumkan pada malam puncak penutupan festival (Closing Ceremony).

Festival Sipamandar juga memberi ruang ekspresi bagi pelaku musik tradisi di Mandar untuk membuka diri dan mengembangkan kekayaan musiknya sehingga bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern untuk menghasilkan warna baru dalam musik di Indonesia.

Festival Sipamandar akan terus berupaya menjaga kesinambungan antara tradisi dan generasi muda melalui berbagai kegiatan yang menarik dan mendidik. (Rls/WM)