Makam yang ada disini tak terawat, berantakan dan situasinya tak menunjukkan ada tanda-tanda bahwa tempat ini ada yang pernah menziarahi beberapa tahun terakhir. Penulis hanya diam menggerutu, jangan-jangan para bangsawan di daerah ini lupa sama moyangnya, padahal mereka yang hari ini diberikan kedudukan terhormat di masyarakat jelas pengaruh dari pemilik nisan yang diterlantarkan ini.
Terakhir penulis berkunjung ke situs ini pada tahun 2017 saat acara Pesona Cakkuriri ke-2 dihelat. Setelah itu tak pernah lagi. Jika dulu terdapat jalan kecil menuju ke makam ini, sekarang jalan kecil itupun ditutup oleh warga sekitar dengan pagar besi yang menyulitkan kami mengakses lokasi situs.
Hal menarik dari area permukaan disekitar Kompleks Makam I Pura’bue adalah beberapa temuan bahan batu neolitik dan singkapan keramik yang menandai bahwa area ini memang pernah menjadi perkampungan.

Ini menadakan bahwa sebelum akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sendana, wilayah Podang terutama di bagian-bagian bukit telah menjadi tempat pemukiman. Bukti paling otenstik terhadap eksisnya wilayah ini sebagai pusat perkampungan tua adalah pemakaman di dalamnya I Pura Para’bue, Istri Raja Pamboang yang bernama Daeng Tulolo yang juga dikenal dengan gelar Tomatindo di Bata.
Sososk I Pura Para’bue sendiri begitu familiar dalam memori kolektif orang Mandar dengan terjadinya insiden penculikan I Pura Para’bue’ yang dilakukan oleh suruhan I Ma’ga Daeng Rioso’ atau Tomatindo di Marica, Raja ke-12 Balanipa yang juga punya gelar Todipolong.
Hari ini, tak ada aktifitas testpit sebab kondisi cuaca dan pertimbangan waktu yang semakin mepet, terlebih Pak Budi lebih memilih melakukan penelusuran dan pengintaian benda-benda arkeologi di wilayah permukaan.
Sampai waktu ashar, para peneliti masih berada di wilayah Banua, tak jauh dari Kompleks Mandrasah dan Pondok Pesantren DDI Banua Sendana. Penulis sendiri lebih memilih wawancara dengan Pak Lahamuddin, S.Pd., pengasuh Pondok Pesantren DDI Banua.














