Perjuangan Seorang Ibu

oleh

Cerpen oleh: Yesti Astari, Mahasiswa Unasman

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Nama lengkapku Yesti Astari, namun  teman-teman lebih akrab menyapaku Yesti. Sebagai anak pertama, aku punya tanggung jawab yang lebih besar karena harus menjadi contoh yang baik bagi kedua adikku. Ketika ayah dan ibu tidak di rumah maka aku yang bertugas untuk menjaga mereka. Adikku yang pertama bernama Multi Amanda dan yang kedua bernama Sintia.

Sebenarnya aku masih punya adik laki-laki, tetapi dia meninggalkan kami pada saat ia berusia satu hari. Di cerpen pertama ini aku akan berbagi sedikit kisah tentang bagaimana perjuangan ibuku pada saat sedang mengandung almarhum adikku yang terakhir. Ceritanya bermula pada saat usia kehamilan ibuku yang kelima bulan, waktu itu ibuku nyaris mengalami keguguran.

Di saat kandungan ibuku memasuki usia yang keenam bulan, kejadian yang sama terulang kembali untuk yang kedua kalinya. Ibuku nyaris mengalami keguguran, tapi untunglah pihak rumah sakit segera menangani sehingga kandungan ibuku masih bisa tertolong. Waktu itu seorang bidan yang menangani ibuku menyarankan agar ibu segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar karena ibu dinyatakan mengalami keracunan kehamilan yang bisa saja mengancam keselamatan nyawa ibuku dan bayinya. Tetapi ibu tidak begitu merespon karena alasan ayah sedang tidak berada di rumah waktu itu dan karena berbagai pertimbangan yang lain. Selain itu, ibu tidak begitu paham dengan apa yang dimaksud dengan penyakit keracunan kehamilan dan apa dampaknya. Hal ini karena Bidan tidak pernah menjelaskannya secara detail,  apalagi di kampung kami belum ada ibu hamil yang mengalami penyakit semacam itu sebelumnya.

Sejak kejadian itu, aku sebagai anak tertua mengambil alih pekerjaan rumah. Aku tidak pernah membiarkan ibu melakukan pekerjaan rumah meskipun itu hanya sekedar menyapu atau mencuci pakaiannya sendiri. Hingga tiba saat dimana ibu melahirkan dan peristiwa itu sekaligus menjadi peristiwa yang paling berbekas dalam hatiku hingga saat ini. Dimana saat itu saya hampir kehilangan ibu saya. Peristiwa itu terjadi pada siang hari, saat saya baru pulang sekolah.

Baca Juga:  Impian yang Dapat Menyentuh Langit

Ketika itu waktu telah menunjukkan pukul 12.30, waktunya untuk pulang. Kala itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Setiap pulang sekolah, aku dan teman-temanku harus menempuh perjalanan selama beberapa jam untuk sampai di rumah, karena jarak dari sekolah ke rumah kami yang cukup jauh. Saat di perjalanan, kami selalu bersendagurau, bercerita tentang hal-hal yang lucu untuk sekedar menghibur diri sehingga perjalanan yang jauh itu tidak terasa bagi kami.

“Ibu aku pulang”, ucapku sambil membuka pintu dan melangkah masuk kedalam rumah. Di ruang tamu kudapati ibuku yang saat itu sedang hamil tua duduk dan sesekali memperlihatkan ekspresi seperti orang yang sedang menahan rasa sakit.

“Bu, ibu kenapa?”, tanyaku dengan penuh perasaan cemas. Ibu hanya menghelai nafas dan berkata “nak, coba kamu pangil paman mu. Sepertinya sudah tiba waktunya ibu akan melahirkan”. Akupun berlari seperti angin yang ingin menembus permukaan bumi menuju rumah paman yang jaraknya lumayan jauh dari rumah kami. Sedangkan saat itu ayah saya sedang berada di luar untuk suatu pekerjaan.

Begitu sampai di sana, aku langsung memberitahu paman bahwa ibu akan segera melahirkan. Seketika paman melaju dengan sepeda motornya menuju puskesmas untuk memanggil bidan.  Namun, karena hari itu bertepatan dengan hari libur maka bidan yang seharusnya bertugas pada saat itu tidak berada di puskesmas karena sedang liburan. Keluargapun mengambil inisiatif untuk membawa ibuku ke rumah sakit besar, yang letaknya berada di kabupaten sebelah.

Aku merasa sedih karna tidak bisa ikut menemani ibu ke rumah sakit. Sebab saat itu, ujian akhir semester juga sedang berlangsung. Ingin sekali rasanya untuk ikut mengantar ibu ke rumah sakit, namun apalah dayaku yang tidak bisa meninggalkan ujian semester dan kedua adikku di rumah.

Baca Juga:  Resensi Novel : Layla dan Majnun

Di malam itu, sulit sekali mata ini untuk terpejam. Belum juga ada kabar tentang ibu. Kedua adikku serta semua keluarga yang menemani kami pada malam itu begitu gelisah menunggu kabar tentang ibu .

Aku berangkat sekolah meskipun perasaan yang berkecamuk memikirkan keadaan ibu. Bell tanda istirahat pun berbunyi. Seperti biasa aku dan teman-teman keluar untuk menjernhikan pikiran dari semua hal yang telah kami kerjakan sepanjang pagi ini. Aku pun mencoba menghubungi salah seorang keluarga yang ikut megantarkan ibu ke rumah sakit. Kagetnya aku saat mendengar kabar bahwa calon adik yang selama ini begitu didambakan kelahiranya oleh keluarga kami teryata tidak dapat tertolong.

Aku ingat betul kegembiraan keluarga kami saat pertama kali mengetahui bahwa ibuku sedang hamil. Aku bahkan sempat memilihkan nama untuknya. Saat itu ada seorang hamba Tuhan yang berasal dari Manado. Ia banyak bercerita tentang kesaksianya mengenai Tuhan Yesus sehinga saya megiginkan nama yang sama untuk calon adek saya kelak, yakni Adlan Cristember Molewe. Sungguh nama yang sangat indah dan penuh arti. Pernah juga saya berfikir untuk memberikan nama Karel, seperti nama dari salah seorang anggota grup Super 7 yang sedang hits pada waktu itu. Namun Tuhan berkehendak lain, dia harus lebih dulu meninggalkan kami. Sungguh suatu kenyataan yang pahit dan sulit diterima sebagai manusia berdosa, terutama ibuku yang benar-benar sangat terpukul dengan kenyataan itu. Hanya satu yang menjadi kekuatan kami bahwa Tuhan tidak merancangkan hal yang buruk bagi umatnya. Sabar dan ihklas adalah satu-satunya yang bisa kami lakukan pada saat itu.

Akhirnya, jenazah adikku tiba tepat puluk dua siang dan langsung dimakamkan pada hari itu juga. Satu minggu kemudian ayah datang menjemput aku dan kedua adikku untuk menjenguk ibu yang masih menjalani perawatan di rumah sakit pasca melahirkan dengan cara operasi saecar. Sesampainya di sana, ayah memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kost untuk kami tinggali selama ibu menjalani proses rawat jalan. Walaupun saat itu bertepatan dengan bulan 12, namun keluarga kami tidak bisa merayakan natal seperti natal-natal sebelumnya. Jika biasanya pada hari natal kami merayakannya dengan penuh sukacita, maka natal kali ini sedikit berbeda karena kami hanya bisa menyaksikan orang-orang yang sibuk mempersiapkan natal mereka. Mulai dari hiasan natal, kue natal sampai baju natal, bahkan ketika mereka sibuk untuk berangkat ke Gereja.

Baca Juga:  Dispop Polman Matangkan Regulasi Kepariwisataan

Dua pekan telah berlalu, ibupun berangsur-angsur pulih hingga dokter mengizinkan kami untuk pulang. Kamipun berangkat keesokan paginya.

Cerita ini hanya sebagian dari kisah hidupku. Masih banyak kisah-kisah lain yang belum kuceritakan. Aku memilih menceritakan kisah ini karena sampai saat ini kejadian itu masih membekas dalam hatiku. Dari peristiwa itu saya tahu bagaimana pengorbanan seorang ibu, mulai dari mengandung hingga melahirkan. Aku berharap cerita ini bisa memberikan gambaran kepada semua orang bagaimana pengorbanan seorang ibu.

Adv.