Milad KAMMI ke-21, Refleksi Kontribusi Nasional

Oleh: Amirullah Bandu (Mantan Ketua KAMMI Daerah Sulawesi Barat Periode 2012-2014)

SEJARAH panjang Indonesia telah membuktikan bahwa eksistensi mahasiswa sungguh sangat luar biasa di dalam memperjuangkan dan membangun republik ini. Baik sebelum kemerdekaan sampai pada era sekarang. Kaum intelektual ini menjadi amunisi utama dalam proses pajang menuju kematangan Indonesia.

Mau tidak mau dan siap tidak siap, seiring dengan perkembangan zaman, para mahasiswa dituntut untuk lebih meningkatkan kapasitas dan kontribusinya buat negara. Hanya saja, kampus sebagai institusi pendidikan tempat mereka bernaung belumlah mampu untuk memenuhi semua itu.Fitur-fitur kebangsaan yang tersedia di sana sangatlah kurang dan terbatas, sehingga membuat mahasiswa hanya terlena pada kondisi biasa-biasa saja.
Bahkan, tidak sedikit mahasiswa di-ninabobokan oleh kehidupan modern yang sesungguhnya mengikis kualitas kontribusi mereka terhadap negara ini.

Di titik itulah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) harus hadir dalam memberikan solusi-solusi cerdas atas permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini. Sebagai organisasi pergerakan yang lahir dari reformasi, organisasi pergerakan ini masih memiliki darah pergerakan yang cukup segar dalam upaya menjayakan Indonesia.

21 Tahun lalu, tepatnya tanggal 29 Maret 1998, Fahri Hamzah sebagai deklarator menyampaikan salah satu alasan lahirnya KAMMI yakni karena terjadinya krisis nasional yang melanda negeri ini. Deklarsi tersebut sebagai tanggung jawab para mahasiswa atas penderitaan rakyat sekaligus sebagai itikad baik dalam perbaikan bangsa.

Setelah 21 tahun berkiprah, pastinya sudah banyak ide dan kerja-kerja KAMMI yang sudah ditransfer ke negara sebagai ruang partisipasi semua elemen bangsa. Reformasi sebagai ruang bebas untuk berdemokrasi mengantarkan kader-kader KAMMI untuk langsung digunakan gagasannya dalam menjawab segala macam persoalan bangsa.

Meskipun begitu, perlu kembali merefleksikan ide Muslim Negarwan yang digagas oleh gerakan yang lahir dari masjid kampus ini. KAMMI berupaya keras untuk melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dan indeks kekaderan itu diturunkan dalam banyak indikator. Semua itu terwakilkan dengan dengan istilah Muslim Negaran.

Muslim negarawan merupakan orientasi diri kader yang terproyeksi dalam agenda-agenda kaderisasi. Sehingga para kader diharapkan memiliki yang pertama “Basis ideologi Islam yang Mengakar”. Mampu memahami semua tentang Islam, mulai dari aspek ibadah, akidah sampai dengan muamalah. Paham sejarah Islam mulai dari zaman Rasulullah SAW sampai dengan zaman modern ini.

Dengan semangat inilah, agama menjadi ruh yang bersemayam kuat di dalam jiwanya. Seperti Jenderal Sudirman yang tak takut mati dalam memperjuangkan Indonesia. Seperti Buya Hamka yang sabar dan gigih dalam menghadapi cobaan di dalam penjara. Dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya, yang begitu tangguh ketika ruh agama itu bersatu dengan dirinya.

Kedua, memiliki Basis Pengetahuan dan Pemikian Mapan. Muslim Negarawan menawarkan ide tentang pentingnya basis ilmu dan landasan ilmiah sebelum berbuat. Dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, terdapat lirik bangunlah jiwanya, bangunlah ragnya … Jiwa dan raga Indonesia tak mampu dibangun ketika basis keilmuan macet atau ditutup kerangnya. Karena untuk bangun, dibutuhkan kekuatan dan kekuatan utamanya adalah ilmu.

Dengan adanya pemikiran mapan dan bebas kemudian kebebasan itu diberikan oleh negara, maka akan muncul ide-ide cemerlang dalam upaya meciptakan alternatif kebijakan negara yang saat ini benar-benar hampir buntu.

Ketiga, Idealis dan Konsisten. Kader muslim negarawan harus bisa menjalankan idealismenya sebagai seorang muslim. Memperjuangkan kebenaran di mana pun ia berada. Tak takut atas risiko yang harus diambil ketika berhadapan dengan kejahatan yang ingin menjatuhkan negeri ini.

Konsistensi pejabat negara merupakan sesuatu yang sangat sulit ditemukan sekarang ini. Sehingga, hampir setiap hari kita menyaksikan oknum-oknum yang harus berurusan dengan penegak hukum karena mungkin telah menyalahgunkan jabatan mereka.

Keempat, berkontribusi terhadap pemecahan probelmatika umat dan bangsa. Berupaya memberikan pandangan atas permasalahan yang sedang dihadapi oleh umat dan bangsa ini. Dengan mengedepankan nilai-nilai kebaikan dan ruh agama di dalamnya.

Indonesia sedang digempur oleh banyak masalah, olehnya itu KAMMI harus hadir untuk mencabut semua keresahan masyarakat itu serta memberikan harapan kebahagiaan kepada mereka. Karena keberhasilan seorang pemimpin, bukan hanya tergambar pada angka-angka statistik yang meningkat, tetapi jauh daripada itu, bagaimana perasaan mereka berada di dalam bingkai NKRI.

Kelima, mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan. Kader muslim negarawan harus bisa menjadi penengah dan perangkul para agen perubahan, karena persaudaraan merupakan salah satu watak muamalah kader KAMMI.

Sebagai kader muslim negarawan, kader KAMMI dituntut untuk menjadi garda terdepan dalam memberikan perubahan bagi negeri ini ke arah yang lebih baik.
Sehingga, kehidupan sehari-hari KAMMI adalah merekatkan bangsa ini dan meyatukan potensi-potensi hebat dari semua elemen bangsa untuk dioptimalkan perannya dalam membangun negeri.

Kelima poin di atas merupakan tawaran sekaligus cita-cita KAMMI yang wujudkan dalam proses kaderisasi yang panjang dan out-put dari semua itu adalah kontribusi buat negara. Ketika kematangan gagasan menyatu dengan kerja nyata, maka tunggulah ledakan sejarah hebat akan terjadi. Dan panggung itu bisa diciptakan oleh kader-kader KAMMI.

Mamuju, 29 Maret 2019

https://deskgram.net/explore/tags/asakufi