fbpx
Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.

Kesaksian Warga Malunda Gempa 1969

Netizen: Risna DN.

Gempa bumi yang terjadi di Sulawesi Barat, bukan baru pertama kali terjadi. Pusat gempa dengan magnitudo 5,9 dan 6,2 yang terjadi pada Kamis dan Jum’at (15/01) berdekatan dengan pusat gempa pada tahun 1969. Namun, gempa yang terjadi pada tahun 1969, memicu menculnya gelombang tsunami. Selain itu, kejadian tersebut menyebabkan puluhan orang meninggal dunia. Dalam jumpa pers online, Jumat 15/01 Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengemukakan bahwa gempa yang terjadi di Majene, berhubungan dengan pengulangan gempa di daerah tersebut.

“Jadi, gempa yang terjadi ini ada hubungannya dengan pengulangan gempa di tahun 1969 di wilayah Majene. Sekitar tanggal 23 Februari, sumber gempa yang sama bangkit dengan kekuatan 6,9 pada kedalaman 13 km. Selain itu, terjadinya gempa di tahun itu menimbulkan tsunami karena gempa tersebut terjadi dengan episenter di laut,” ungkap Daryono.

Daryono juga melaporkan bahwa gempa saat itu menyebabkan 64 orang meninggal dunia, 97 orang luka-luka dan diperkirakan 1.287 rumah mengalami kerusakan dan beberapa dermaga pelabuhan mengalami keretakan. Sehingga, gempa tersebut menimbulkan tsunami dengan ketinggian 4 meter di Pelattoang, Parasangan dan Palli.

Selain itu, kisah gempa tahun 1969 di ungkapkan oleh Bapak Tanda salah satu warga dan keponakan Pukkali Malunda yang menjadi saksi hidup peristiwa tersebut. Dalam wawancara tersebut, beliau menceritakan jika saat itu usianya baru 15 Tahun. Saat gempa terjadi ia sedang memancing di pinggir pantai bersama kawannya.

Bapak Tanda, Saksi hidup gempa tahun 1969 di Malunda (Foto: Wahyudi)

“Gempa 1969 luar biasa sekali. Usia saya waktu itu 15 tahun dan sedang asyik memancing di pinggir laut. Tiba-tiba, gempa terasa dan teman saya berteriak agar kita lari. Saya dan teman bingung harus lari kemana karena beberapa pohon tumbang dan kampung sudah kosong. Hanya bapak dan ibu serta saudara saya yang waktu itu tidak lari,” ungkap Tanda.

Tanda juga menceritakan, bahwa gempa tersebut terasa bergoyang keras menyebabkan tanah terbuka lebar dan retak. Sehingga untuk menghindari terperosok ke dalam tanah, harus melompat.

“Waktu itu, rasanya bumi bergoyang dengan keras. Tanah sudah retak dan ada juga yang terbuka lebar. Jadi, kalau kita mau lalui tanah itu, kita harus melompat karena retakannya cukup lebar dan kondisi jalan saat ini dengan tahun 1969 jauh berbeda. Karena dulu belum diaspal dan belum ada sawah serta masih jalan setapak” lanjut Tanda.

Kesaksian dari Pak Tanda atas peristiwa tersebut tidak bisa beliau lupakan. Karena menurutnya, gempa tersebut belum bisa dibandingkan dengan gempa yang terjadi saat ini. Apalagi, pendeteksi gempa belum ada saat itu, dan kekuatan gempanya belum diketahui tapi durasinya cukup lama.

“Durasinya cukup lama. Tapi saya tidak tahu kekuatan gempanya sebesar apa. Karena belum ada alat pendeteksi gempa. Yang saya rasakan, gempanya dua kali lebih besar dibandingkan gempa saat ini,” Tuturnya.

Pettebeang, Kecamatan Malunda dari udara. (Pilot Drone: Wahyudi)

Tanda juga menjelaskan, bahwa ia punya seorang paman yang merupakan tokoh Agama (Pukkali) Malunda dan memiliki karomah yang mampu mengendalikan ombak di laut.

“Saya memiliki seorang paman dia adalah Pukkali Malunda. Ia bersepupu dengan ibu saya. Jadi, saat gempa itu ia berlari ke pinggir laut dan menghentakkan handuk merahnya tiga kali ke arah laut, dan ombak yang sudah mulai meninggi itu terbagi menjadi tiga. Satu ke Pelattoang, ke Tapalang dan satunya lagi kembali ke laut. Masyarakat dulu, kepercayaannya terhadap pemuka Agama memang sangat kuat. Pemuka Agama dianggap mampu memerintahkan alam dengan doa-doa seperti para wali. Kalau terjadi gempa, masyarakat dahulu menganggap bahwa ada kerbau yang sedang saling menanduk di bawah tanah, jadi orang hanya memukul-mukul dinding rumah saat gempa terjadi” Urai Tanda.

Ia juga merasa prihatin, karena saat ini orang tidak lagi percaya dengan hal-hal seperti itu. Sehingga menurutnya, musibah terjadi karena tingkat kepercayaan masyarakat semakin terkikis. Beliau juga mengharapkan, agar bencana ini tidak terulang kembali.

“Semoga Allah swt melindungi kita semua, dan bencana ini tidak terulang lagi. Tapi prinsip saya hanya satu. Kalau memang ajal sudah menjemput. Kita mau berlari kemana? saya sudah merasakan dasyatnya gempa ini. Saya mau lari ke arah laut, ada tsunami, berlari ke gunung, pusatnya dari dalam. Jadi yah kita serahkan semuanya kepada Allah swt.” tutupnya dengan penuh harap.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: