PKM Unsulbar Bantu Masyarakat Mosso Olah Ikan Terbang

oleh

Netizen: Dewi Yuniati, S.Pi., M.Si. | Dosen Perikanan Unsulbar

MANDARNESIA.COM, Majene — Unsulbar sebagai salah satu perguruan tinggi yang berkedudukan di Majene kembali memberikan atau mengabdikan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Manajemen Usaha, Inovasi Teknologi Alat Pengeringan dan Pemasaran Digital Bagi Kelompok Usaha  Pengeringan Ikan Terbang di Kelurahan Mosso, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, melalui Jurusan Perikanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Sulawesi Barat, Minggu, 2 Oktober 2022.

Point penting pada kegiatan ini adalah memberikan pendampingan terkait dengan manajemen usaha meliputi tata cara melakukan proses produksi yang baik dan benar  dengan memperhatikan SOP (Standar Operating Procedur) dan SSOP (Standar Sanitation Operational Procedur serta materi manajemen usaha yang mencakup manajemen bahan baku dan bahan pembantu produksi, manajemen tenaga kerja,  dan pembukuan keuangan.

Termasuk memberikan pelatihan terkait pemasaran digital produk ikan terbang dan memberikan pelatihan terkait inovasi alat pengasapan ikan.

Kegiatan ini dihadiri oleh kelompok usaha Mosso Indah, Pemerintah Kelurahan Mosso, Tokoh Masyarakat, Dosen Universitas Sulawesi Barat, Staf Unsulbar, dan masyarakat sekitar.

Tim PKM Dosen dari Unsulbar yang terdiri dari Muhammad Nur Ihsan, Muhammad Nur, dan Tenriware menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok usaha dalam meciptakan produk ikan terbang kering yang berkualitas. Yang kedua adalah adanya inovasi teknologi pengeringan ikan bertujuan mempercepat proses pengeringan karena tidak terpengaruh oleh cuaca, produk lebih bersih, terhindar dari cemaran dan mutu terjamin serta dengan adanya inovasi alat pengering ikan ini adalah hasil olahan ikan kering yang dihasilkan lebih higienis serta lebih berdampak pada kualitas produk ikan yang dihasilkan menjadi lebih baik. Kemudian yang terakhir adalah memasarakan produk ikan terbang dengan teknik Pemasaran Digital

Idham, Sekertaris Lurah Mosso menyebut terobosan ini sangat membantu menyelesaiakan masalah yang ada di masyarakat di Kelurahan Mosso yang merupakan sentra ikan terbang.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai jual dan ekonomi masyarakat pengolah khususnya pengeringan ikan terbang ini,” harap Idham.

Sementara Dr Tenriware, S.Pi., M.Si, Wakil Dekan 1, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Unsulbar menjelaskan bahwa pendampingan kelompok usaha pengeringan ikan terbang memiliki tujuan yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok usaha dalam meciptakan produk ikan terbang kering yang berkualitas. 

“Pendampingan  manajemen usaha kelompok mitra usaha ini terbagi menjadi dua yaitu pelatihan proses produksi meliputi tata cara melakukan proses produksi pembuatan ikan kering yang baik dan benar berdasarkan SOP (Standar Operating Procedur) dan SSOP (Standar Sanitation Operational Procedur). Pendampingan yang kedua adalah terkait dengan manajemen usaha yang mencakup manajemen bahan baku dan bahan pembantu produksi, manajemen tenaga kerja dan pembukuan keuangan,” jelas Tenriware.

Semnetara Dr. Muhammad Nur, S.Pi., M.Si, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Unsulbar pada kegiatan ini pelatihan untuk kelompok usaha pengeringan ikan terbang ini mengenalkan alat Inovasi teknologi pengeringan ikan.

“Inovasi teknologi pengeringan ikan yang kami terapkan memiliki keunggulan mempercepat proses pengeringan karena tidak terpengaruh oleh cuaca, produk lebih bersih, terhindar dari cemaran dan mutu terjamin. Alat ini mampu mengeringan ikan sebanyak 1000 ekor,” terang Muhammad Nur.

Lebih teknis Muhammad Nur menjelaskan spesifikasi alat pengering ikan terbang yang terdiri dari 2 bagian, yaitu ruang pengering dengan ukuran (p x l x t =  200 x 150 x 150 cm).  Ruang  pengering  berbentuk kotak persegi panjang, terbuat dari rak besi galvanis anti karat dan kawat ram berukuran 1 x 1 cm. Rak pengering juga terbuat dari besi galvanis yang bisa dikeluar masukkan ke ruang pengering berukuran p x l = 200 x 150 cm sebanyak 2 rak. Jaring/ram diletakkan di atas rak, berfungsi untuk meletakkan ikan. Jarak ketinggian antar rak 50 cm.

“Kelebihan lain dari alat ini adalah mampu mengeringan ikan sebanyak 600-1000 ekor serta produk yang dihasilkan juga lebih bersih/higienis. Hasil uji coba pengeringan dengan alat ini, ikan terbang ini dapat kering dalam waktu selama 2 hari,” lanjut Muhammad Nur.

Zulfiani yang merupakan Tim Pemasaran Digital yang juga tergabung  dalam Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Unsulbar bercerita tentang pemasaran digital yang merupakan salah satu serangkaian cara dan teknik yang menggunakan media digital yang bertujuan mendapatkan traffic, data, dan customer.

Teknik-teknik ini mencakup pemasaran konten, media sosial, situs web, pengoptimalan mesin telusur, video daring, pemasaran email, penelusuran berbayar, dan sebagainya. Hingga saat ini pemasaran produk ikan terbang masih skala lokal.

“Olehnya perlu ada pengembangan untuk mengakses pasar yang luas. Model pemasaran yang perlu pemasaran digital. Media digital yang dapat dipakai sebagai promosi seperti facebook, youtube, instagram, whatsapp business, line, dan market place seperti shoope dan tokopedia. Dengan pemasaran digital ini diharapkan dapat meningkatkan daya jual produk ikan terbang ini, mengjangkau pasar yang lebih luas sehingga pendapatan masyarakat dapat meningkat,” sebut Zulfiani

Rasti Sapri, Ketua Kelompok Mosso Indah sangat senang dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Ini sangat membantu kami dalam meningkatkan mutu kualitas dan kuantitas produk ikan terbang kami,” terang Rasti.