,

Pemilu 2024, Stasiun Hingga Dialek Preman Pensiun

oleh
Adi Arwan Alimin
Atep membawa saya ke Pawon Pitu, resto yang berada di markas pembuatan Preman Pensiun itu.

Oleh: Adi Arwan Alimin, Komisioner KPU Sulawesi Barat

#Catatan Bimtek Kehumasan di Kota Sukabumi

USAI penutupan acara Rapat Uji Coba aplikasi Sistem Informasi Anggota KPU dan Badan Ad Hoc (SIAKBA), di Pullman Central Park, Jakarta 22 September pagi, saya bergegas ke stasiun Gambir. Hari Kamis siang saya menuju Bandung, Jawa Barat. Jumat besok ada undangan sharing kehumasan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sukabumi.

Ini pengalaman satu dua kali naik kereta dari Jakarta ke Bandung, biasanya naik travel atau Damri langsung dari bandara. Saya duduk di kursi eksekutif 7C gerbong 2 Argo Parahyangan Tambahan. Kereta ini amat bersih, tak tercium aroma dari toilet yang berjarak beberapa meter saja dari kursi penumpang.

Petugasnya pun ramah, hingga saya melihat ketika gerbong berwarna perak ini beranjak pelan puluhan porter berdiri rapih di sisi jalur kereta sambil menempelkan tangan mereka di dada kiri, itu simbol melayani seperti yang lazim di keluarga besar KPU. Itu mungkin sinyal lain selain bunyi sirene yang juga menandai setiap perjalanan.

Di tiket, saya melihat jadwal berangkat 10.10 WIB dan akan tiba di stasiun Cimahi 13.15 WIB. Rute sekitar 170 kilometer itu akan ditempuh kurang lebih tiga jam lamanya. Saya duduk sambil membaca buku Kuasa Uang yang ditulis Burhanuddin Muhtadi, namun lamat-lamat saya pulas puluhan menit. Seorang penumpang lain di 7D juga menghabiskan perjalanannya sambil memejamkan mata.

Kereta ini berangkat tepat waktu, demikian pula saat tiba di stasiun Cimahi, sesuai jadwal. Namun saya rupanya turun di stasiun berbeda, saya mestinya masih harus duduk hingga stasiun kota Bandung. Petugas yang saya tanya sambil menunjukkan tiket mengatakan, saya telah sampai: stasiun Cimahi.

Kang Atep yang ditugaskan menjemput saya di stasiun akhir di Bandung, saya dengar melonjak kaget karena ia menunggu di tempat berbeda. Ya, saya turun di Cimahi sedang dia menanti di warung sambil makan siang di Bandung. “Waduh gimana nih pak,” ujarnya gusar.

Kordiv Parmas KPU Kota Sukabumi Ratna Istianah dan Kabag-nya Dananjaya sempat kelimpungan, dan meminta Atep meluncur ke Cimahi. Simpulannya karena jam macet yang sedang memuncak di Bandung, saya kembali ke loket untuk membeli tiket kedua. Kini dari Cimahi ke stasiun Cikudapateh, jadwal startnya 13.38 WIB tiba 14.11.

Sepanjang jalan itu saya terus dipandu, kuatir melewati Cikudapateh. Lagi, kereta lokal Bandung itu tepat waktu. Atep sumringah di bawah papan stasiun saat melihat saya menyapanya dari jauh. Bagi saya fragmen Atep di stasiun kereta yang menunggu sambil makan siang, lalu kaget karena saya salah stasiun seperti scene “Preman Pensiun” dalam dialek Sunda-nya yang kental.

Benar saja, sambil menunggu Ratna dan Dananjaya yang sedang rakor di kantor KPU Provinsi Jawa Barat, Atep membawa saya ke Pawon Pitu, resto yang berada di markas pembuatan Preman Pensiun itu. Atep yang mantan driver angkot itu menguasai jalur di kota ini.

“Saya bekas sopir odong-odong pak,” gurau Atep. Maksudnya, oto Kijang segiempat yang pernah dimiliki ayahnya.

Saya juga bertemu Kang Apip di Perpustakaan Ajip Rosidi. Lelaki berambut gondrong itu salah satu budayawan muda Sunda yang konsen pada pelestarian Basa Sunda, ia bahkan memberikan empat buku yang full berbahasa Sunda. Kami berbicang cukup lama, dari esai Ajip hingga tema Sisindiran dan Kalindaqdaq. Itu persamuhan budaya dalam tataran tradisi lisan.

Sisindiran memiliki sedikit kesamaan pola suku kata dengan kalindaqdaq. Kami berjanji untuk bertemu lagi. “Bang kita belum tahu banyak bagaimana proses budaya itu berkembang sedemikian rupa, inilah yang mesti kita diskusikan lagi.” Ia merendah. Kami berpisah, Apip tampak senang, sambil menyiapkan latihan teater lakon Sunda petang itu.

Rencana lebih cepat ke Kota Sukabumi jelas tertunda sekian jam. Kami baru start jelang Maghrib, dan tiba di Kota Sukabumi jelang jam 22.00. Pengecoran beberapa ruas jalan raya di sekitar Sukabumi antrean memanjang, Atep mengambil jalan alternatif.

Di sepanjang jalan itu kami berempat membincang rupa-rupa, dari soal kepemiluan hingga sejarah Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sampai Perang Makassar di masa lalu. “Saya juga menyukai sejarah pak,” sahut Dananjaya.

*

Di aula kantor KPU Kota Sukabumi, Jumat 23 September Bimbingan Teknis Pengembangan Medsos dan Penulisan Berita berlangsung. Ada 15 kursi yang disiapkan dalam ruangan yang memiliki dua pintu besar, pintu yang mengarah dari halaman tengah kantor itu, dan pintu lain yang dapat melewati Rumah Pintar Pemilu (RPP) sambung ke halaman depan atau parkiran.

Sebuah layar ditopang lcd yang digantung dari plafon. Bimtek ini akan menggunakan metode hybrid meeting zoom. Awalnya saya mengira ini akan hanya diikuti jajaran staf KPU Kota Sukabumi, rupanya link zoom juga dipindai beberapa anggota KPU kabupaten lainnya. Ada yang dari Sawahlunto, Sumbawa, Sumedang, Magelang, dan Kabupaten Sukabumi.

Saya tidak menyiapkan slide materi, namun langsung membahas praktek penulisan melalui pengantar materi singkat saja. Durasi 2,5 jam jelas tak akan cukup untuk memenuhi pengalaman di benak peserta. Diklat jurnalistik standar mestinya 5-7 hari efektif. Namun samuh ini berjalan efektif.

Peserta menunjukkan bakat yang bagus. Bagi saya, Ketua KPU Kota Sukabumi Sri Utami, juga Sekretarisnya Basuki yang bertahan duduk sambil ikut sharing memiliki nilai tersendiri. Basuki yang memiliki pengalaman pada bidang administrasi sekretariat juga menunjukkan tugas bikin lead bagi peserta.

“Setiap orang yang memiliki kemampuan bercerita, sebenarnya memiliki modal untuk menulis. Apa yang dapat dibicarakan hanya memerlukan cara efektif untuk menuliskannya.” Ungkapan yang saya sampaikan ini seolah merasuk hingga menjadi motivasi bagi peserta. Inilah esensi dari bimbingan yang dikelola amat praktis itu.

Pertemuan bertema kehumasan Pemilu 2024 yang berlangsung di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) Kota Sukabumi itu, juga diserap dengan baik peserta via zoom. Mereka juga membacakan contoh paragraf pembuka atau lead yang kami bahas intens. Mengapa lead menjadi tekanan, sebab semua cara memikat pembaca dimulai dari lead. Lalu isi, dan penutup ala piramida.

Demikian feature ringkas dari bimtek ini. Saya pun antusias atas undangan dari tuan rumah.

Saya jelas terkesan atas keramahan setiap orang di kota ini. Kuliner khasnya tentu akan saya rindukan.

“Hati-Hati di Jalan …” lepas mereka di Podium KPU Kota Sukabumi yang estetik itu jelang salat Jumat.

Saya tiba di Jakarta via roda empat, tidak lagi naik kereta. (*)

Gramedia Matraman, 24/9/2022.