MEMBACA ULANG PETA HARAPAN: IPM Sulbar dan Gen Z, ‘Menjemput Generasi Hebat di Tanah Malaqbi’

Oleh: Muliadi Saleh, Pemerhati Pendidikan

Desiran ombak yang mencium pasir putih Pantai Deking dan hembusan angin sepoi yang menyusup di perbukitan Kalumammang, Sulawesi Barat menyimpan masa depan yang masih menunggu untuk dijemput. Kawasan ini bukan sekadar gugusan kampung yang tenang di balik bukit, tetapi rahim dari generasi muda yang siap menyapa dunia: anak-anak Gen Z yang tumbuh di tengah perubahan zaman dan perjuangan pembangunan.

Di tanah tempat “amma” menanam padi dengan keringat dan “indo” menyulam doa-doa dalam bisik sajadah, saat ini kita membaca ulang peta harapan: Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Menafsir Angka, Meraba Realitas

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, IPM Sulawesi Barat pada tahun 2023 berada di angka 69,80. Sebuah capaian yang patut disyukuri—menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Namun, angka ini masih berada di bawah rata-rata nasional, yang telah menembus angka 72.

IPM mencerminkan tiga pilar dasar kehidupan: kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Maka, rendahnya IPM bukan sekadar statistik, tapi sinyal bahwa masih banyak anak-anak yang harus berjalan berkilo-kilometer ke sekolah, ibu-ibu yang melahirkan tanpa bidan, dan pemuda yang merantau karena kampung tak memberi cukup ruang tumbuh.

Namun seperti pepatah Mandar berkata, “Iya to ma’issang, iya to salama”—barang siapa tahu jalan, dia akan selamat. Kita tahu masalahnya, maka kita bisa membenahi dan memperbaikinya.

Gen Z: Warisan dan Tantangan Zaman

Generasi Z Sulbar lahir dalam dunia gawai dan media sosial, tapi mereka juga adalah anak-anak yang tumbuh dengan petuah “Bemme tamai di wake’na”—jatuh tak jauh dari pohonnya. Mereka mewarisi nilai-nilai luhur dari orang tua mereka: kejujuran, kerja keras, kesopanan, dan iman yang kuat.

Namun hari ini, warisan itu seringkali bertabrakan dengan dunia digital yang bebas nilai. Banyak dari mereka kehilangan jati diri, karena pendidikan karakter tidak secepat koneksi internet. Ini bukan salah mereka sepenuhnya. Dunia berubah begitu cepat, sementara sistem pendidikan dan pola asuh kita sering terseok dan tertinggal.

Kembali ke Akar, Melangkah ke Awan

Solusi dari tantangan ini bukan sekadar modernisasi atau proyek-proyek raksasa. Kita harus menata ulang fondasi: pendidikan berbasis nilai dan budaya.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan sejati lahir dari dalam. Dari rumah yang mengajarkan anaknya bahwa hidup bukan hanya tentang mencari uang, tapi juga menjaga harga diri. Dari sekolah yang tak hanya mengejar angka UN, tapi juga menanamkan siri’ na lokko’—rasa malu jika berbuat salah, dan bangga ketika berlaku jujur. Malilu Sipakainga, Manus Sparappe, dan  Nilai-nilai budaya Mandar lainnya yang disertai semangat gotong royong adalah sumber daya moral yang tak ternilai. Inilah akar yang bisa menopang anak-anak kita, agar mereka tak tumbang meski angin zaman bertiup kencang.

Gen Z: Di Tengah Dua Dunia

Anak-anak Gen Z di Sulbar tumbuh dalam dua kutub: tradisi dan teknologi. Mereka belajar mengaji di langgar kecil, tapi juga berselancar dunia Maya lewat layar HP yang setia di tangannya.

Lantas bagaimana kita menjaga mereka tetap berpijak?

Kita harus menjadikan nilai budaya sebagai bintang penunjuk arah. Jangan biarkan mereka hanya menjadi konsumen digital. Jadikan mereka pencipta, pelopor, dan penjaga nilai. Bangun sistem pendidikan yang tak hanya mengejar nilai rapor, tapi juga membina nilai hidup.

Bayangkan jika setiap anak di Majene, Polewali, Mamuju, Pasangkayu, Mamasa, hingga Mateng, bangga menjadi anak kampung. Bukan karena mereka tak ingin ke kota, tapi karena mereka tahu: akar adalah kekuatan, bukan beban.

Strategi Menyemai Manusia

Meningkatkan IPM tak bisa hanya lewat proyek infrastruktur atau jargon kebijakan. Ia butuh gerakan budaya, penguatan komunitas, dan kehadiran negara hingga ke kolong rumah warga.

Beberapa tawaran pendekatan  yang berpijak pada kearifan lokal yang bisa diinisiasi:
• Sekolah berbasis nilai Mandar dan keislaman: Jadikan siri’, lokko’, mappatawe’ , dan nilai luhur lainnya sebagai bagian dari kurikulum karakter.
• Pendidikan keluarga: Latih para orang tua menjadi pendidik pertama dan utama.
• Pemuda pelopor desa digital: Libatkan Gen Z sebagai agen perubahan di kampungnya—pengelola pustaka, pelatih digital, mentor sesama.
• Program hidup layak berbasis komunitas: Kembangkan koperasi nelayan, UMKM perempuan, dan pertanian cerdas.

IPM tak bisa naik jika anak-anak tidak sehat, tidak sekolah, dan tidak punya mimpi. Maka tugas kita adalah menjaga kesehatan mereka, memastikan pendidikan berkualitas menjangkau semua, dan menciptakan ekosistem yang merawat impian.

Menjaga Bara Harapan

Sulawesi Barat hari ini adalah tanah yang sedang menyimpan bara harapan. Bara itu menyala di rumah panggung bambu, di ladang, di sekolah kecil yang belum punya laboratorium, dan di dada para ibu yang mengusap kepala anaknya sambil berdoa lirih.

Tugas kita bukan sekadar menaikkan IPM. Tapi menghidupkan kembali cara pandang lama yang bijak: bahwa manusia adalah investasi utama. Bahwa membangun jalan tak lebih penting daripada membangun akhlak.

Kita percaya, anak-anak dari Lembang hingga Balanipa, dari Bulo hingga Tabolang, bukanlah generasi hilang. Mereka hanya butuh dijemput dengan cinta dan dilatih dengan harapan.

Seperti laut Mandar yang sabar menyimpan gelombang, semoga kita pun sabar menyemai manusia.

Strategi Tumbuh: Dari Desa ke Dunia

Sulawesi Barat memiliki lebih dari 600 desa. Jika setiap desa menjadi pusat pengembangan manusia, maka IPM bukan lagi sekadar target, tapi keniscayaan.

Beberapa strategi yang bisa kita dorong:
• Digitalisasi merata hingga ke pelosok: WiFi bukan barang mewah, tapi kebutuhan dasar pembelajaran.
• Revitalisasi pendidikan karakter berbasis budaya lokal dan agama: kolaborasi  SAMASTA  antara (sekolah, masjid, dan rumah-tangga)
• Pelatihan keterampilan untuk remaja: pertanian cerdas (Smart Farming) , wirausaha digital, hingga ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
• Gerakan literasi dan pustaka desa: karena membaca adalah jalan sunyi menuju kemerdekaan berpikir.

Menjaga Api Harapan

Kita tak sedang menata IPM semata. Kita sedang menjaga nyala harapan. Kita percaya, anak-anak dari Limboro, Lekopadis, Kandeapi,  Malunda, Wonomulyo, Bambang, hingga Balanipa akan menjadi pemimpin masa depan. Anak petani itu akan jadi sarjana, anak nelayan itu akan mendirikan start-up, dan anak kampung itu akan berbicara di forum dunia. Asalkan kita bersama menjaga jalan tumbuh mereka. Asalkan kita tak pernah lupa: membangun manusia, jauh lebih penting daripada membangun gedung..

Mendidik Gen Z hari ini adalah ibarat menanam di tanah baru: tanahnya subur, tapi harus dengan cara yang baru pula. Mereka tak bisa hanya dijejali hafalan; mereka butuh makna, koneksi, dan contoh nyata. Maka pendidikan harus bersandar pada teknologi yang bijak, budaya yang kuat, dan agama yang menyejukkan.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 90, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan…”—begitulah seharusnya arah pembangunan manusia: adil, bijak, dan berbudi. Gen Z kita bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah fajar yang menunggu sinar, bukan hanya dari program pemerintah, tapi juga dari cinta keluarga, guru, dan pemangku adat.

Sulbar akan maju bukan hanya karena APBD atau proyek nasional, tapi karena anak-anak mudanya merasa terhubung—pada tanahnya, pada budayanya, pada langit yang sama dengan para leluhur. Maka tugas kita: menjahit IPM dengan benang nilai, agar Gen Z tumbuh bukan sekadar cerdas, tapi juga arif, tangguh, dan penuh rasa.
-Moel’S@13042025-