Mandar Menepis Mitos 350 Tahun Penjajahan Belanda

oleh
oleh

Oleh Adi Arwan Alimin

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulawesi Barat

MANDAR  memiliki sejarah panjang yang kaya dan kompleks, termasuk saat menghadapi masa kolonialisme Belanda. Sayangnya, narasi populer yang mengatakan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun sering kali kurang tepat secara historis. Ini menimbulkan kesalahpahaman mengenai perjalanan panjang perjuangan rakyat Mandar, Sulawesi Barat.

Tahun 1968 ahli hukum bernama Gertrudes Johannes Resink sukses mematahkan mitos tersebut. Resink memaparkannya dalam Indonesia’s History Between the Myths: Essays in Legal History and Historical Theory (1968). Dia menyimpulkan bahwa Indonesia tidak dijajah 350 tahun oleh Belanda. MFakhriansyah, (2024) dikutip dari  https://www.cnbcindonesia.com/news/20240817063029-4-563923.

Dia membedah dokumen hukum dan surat perjanjian milik sejumlah kerajaan di Nusantara. Selama proses pembedahan ini Resink mengetahui bahwa banyak kerajaan dan negara di Indonesia yang belum pernah ditaklukkan Belanda sampai tahun 1900-an. Fakta lain menunjukkan bahwa sejak abad ke-17, kerajaan-kerajaan lokal telah menjalin hubungan diplomatik dengan bangsa-bangsa lain tanpa diatur oleh pemerintahan VOC.

Sepanjang 1900-an, masih banyak kerajaan lokal yang belum dijajah Belanda. Seperti, Aceh yang baru dapat dikalahkan pada 1903, Bone pada 1905, dan Klungkung, Bali, pada 1908. Lalu bagaimana dengan wilayah Mandar?

Menteri Kebudayan Fadli Zon pun mengatakan penulisan ulang sejarah yang sedang digodok pihaknya akan turut mengubah terkait sejarah penjajahan Indonesia oleh Belanda yang kerap disebut selama 350 tahun. CNN, (2025) https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250507025104-32-1226520

Sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-17, hubungan antara Mandar dan Eropa, termasuk Belanda, didominasi oleh aktivitas perdagangan dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). VOC yang berdiri pada 1602 memang berusaha mempengaruhi kawasan Nusantara, tetapi kekuasaannya terutama berpusat di Jawa, Maluku, dan beberapa pelabuhan utama lain di Indonesia.

Wilayah Mandar pada masa itu tetap merupakan daerah otonom dengan pemerintahan adat dan legalitas lokal yang masih kuat, meskipun terkadang melakukan perjanjian dagang atau perjanjian jangka pendek dengan pihak VOC. Kompeni sendiri berakhir pada tahun 1799, dan kekuasaan kolonial kemudian diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Namun, kontrol langsung atas wilayah seperti Mandar tidak tiba-tiba terjadi pada periode ini.

Penguasaan Belanda atas Mandar dimulai secara resmi dan efektif melalui ekspedisi militer yang dilakukan antara tahun 1905 hingga 1907. Masa ini merupakan puncak dari upaya Belanda untuk menguasai seluruh Sulawesi secara utuh, setelah sebelumnya berhasil menguasai kawasan pesisir dan pusat-pusat pemerintahan di wilayah lain.

Ekspedisi militer ini merupakan operasi militer yang panjang dan melelahkan, menghadapi perlawanan gabungan rakyat Mandar yang dipimpin oleh para tokoh yang berpengaruh, seperti Maraqdia Tokape, I Sendjata dan Ammana I Wewang. Perlawanan mereka sangat keras, mencerminkan tradisi kuat Mandar dalam mempertahankan kedaulatan tanah airnya.

Menurut laporan militer Belanda pada masa itu, keberhasilan ekspedisi militer Mandar tidak hanya didasarkan pada kekuatan tempur belaka, tetapi juga penggunaan strategi politik. Belanda memecah persaudaraan bangsawan tinggi Mandar seraya memanfaatkan konflik internal yang laten. Dengan cara ini sebagian elite memilih bekerja sama dengan Belanda, sementara perlawanan rakyat dapat dipatahkan secara sistematik.

Klimaks penguasaan colonial ini ditandai kesepakatan politik dan mandat resmi kepada pemerintahan kolonial Belanda mulai tahun 1906, sehingga daerah Mandar secara administrasi resmi masuk ke dalam Hindia Belanda. Pemerintahan adat dan otonomi lama mulai digeser dan dibentuk sistem kolonial yang terpusat.

Setelah penguasaan militer, Belanda melakukan penataan wilayah Mandar menjadi Afdeling Mandar yang meliputi wilayah Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babanga Binanga. Proses administratif ini berlangsung hingga dekade berikutnya melalui pembentukan onderafdeling yang lebih kecil demi pengawasan dan pengelolaan wilayah.

Hal ini menunjukkan bahwa sebelum 1905, Mandar tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol administratif Belanda dan masih menjalankan pemerintahan adatnya dengan bebas. Maka, penguasaan Belanda di Mandar tidak berlangsung selama 350 tahun seperti mitos selama ini. Kawasan Mandar dicaplok kurang lebih sekitar dua dekade sejak 1905 hingga masa pendudukan Jepang pada 1942.

Tulisan ini ingin menunjukkan fakta perlawanan rakyat Mandar dalam ekspedisi militer 1905-1907 bukanlah sekadar usaha melawan penjajah, tetapi sekaligus menegaskan kedaulatan adat dan identitas budaya mereka. Wilayah ini memiliki tradisi politik lokal yang kuat, dan struktur sosial yang mandiri, yang menyebabkan kolonial Belanda membutuhkan usaha keras dan waktu cukup lama dibandingkan daerah lain di Sulawesi.

Studi sejarah lokal ini menjadi penting untuk memahami dinamika kolonialisme secara lebih kontekstual dan terperinci, serta untuk meluruskan fatamorgana tentang penjajahan seragam dan monolitik di seluruh Indonesia.

Secara historis, Mandar tidak mengalami penjajahan Belanda selama 350 tahun. Pengaruh kolonial Belanda di Mandar baru efektif setelah ekspedisi militer 1905-1907, yang merupakan klimaks perjuangan rakyat Mandar untuk mempertahankan kemerdekaan dan sistem sosial adatnya.

Dalam jurnal yang ditulis Muhammad Amir (2017) diterangkan pula konflik militer Belanda atas Mandar juga terjadi tahun 1862. Masalah ini dilatari tuntutan ganti rugi atas sejumlah tindakan perompakan yang dilakukan penduduk Mandar, dan terutama akibat campur tangan pemerintah kolonial Belanda terhadap urusan dalam negeri kerajaan-kerajaan di Mandar, perihal persoalan internal di kalangan anaq pattola payung (para pewaris tahta).

Pemahaman yang tepat tentang fase-fase kolonialisasi di Mandar penting untuk menjaga akurasi pengetahuan sejarah sekaligus menguatkan identitas kultural Mandar yang tidak mudah ditundukkan oleh kekuatan asing. Meskipun penaklukan Belanda atas Mandar kemudian memberi pengaruh sangat fundamental bagi perubahan struktur sosial, politik, hukum dan ekonomi hingga hari ini.

Sejarah tentang Mandar dipenuhi kisah perlawanan, daya tahan strategi, dan kebanggaan atas identitas lokal yang patut dipelajari dan dihargai. Agar generasi muda Mandar lebih memahami akar perjuangan moyang mereka di tengah narasi sejarah nasional yang lebih luas. (*)

Mamuju, 16 Agustus 2025