(Refleksi dari Workshop Menulis Esai IGI Kabupaten Majene)
Oleh Adi Arwan Alimin (Akademisi Institut Hasan Sulur/Penulis Buku)
HARI Guru setiap tahun selalu memunculkan kesadaran kolektif bahwa mereka bukan sekadar pendidik formal. Tetapi figur teladan yang memberi arah bagi kehidupan seorang anak atau peserta didik.
Di tengah ucapan syukur, kiriman bunga, dan rangkaian kata-kata apresiasi di media sosial, ada satu kebenaran psikologis yang kembali menemukan relevansinya. Anak jauh lebih mudah meniru perilaku daripada mendengarkan nasihat.
Dalam pendidikan modern yang menekankan pembelajaran mendalam, prinsip ini bukan lagi sekadar teori, melainkan landasan utama efektivitas proses belajar.
Psikologi perkembangan sejak lama menegaskan bahwa masa kanak-kanak dan remaja adalah periode imitasi aktif. Albert Bandura melalui Social Learning Theory menegaskan bahwa anak mempelajari perilaku sosial terutama lewat observational learning. Meniru apa yang mereka lihat dari orang dewasa yang memiliki otoritas dan kedekatan emosional.
Konsepnya makin diperjelas dengan eksperimen Bobo Doll yang terkenal menunjukkan bahwa anak bukan hanya meniru tindakan, tetapi juga emosi dan cara bereaksi orang dewasa. Anak-anak cenderung meniru perilaku agresif setelah melihat orang dewasa melakukannya.
Dalam perkembangan terkini, riset neuropsikologi menambah penjelasan tentang keberadaan mirror neurons membuat otak anak bekerja seolah “merekam” perilaku guru. Neuron cermin adalah hasil penemuan tak disengaja oleh Rizzolati melalui studi otak monyet makaka yang diperluas mencakup manusia. (Claire Neeson dalam savemyexam, 2025).
Ketika guru memperlihatkan kontrol diri, empati, kesabaran, atau disiplin, sistem saraf anak merekam pola tersebut sebagai model perilaku yang layak diikuti. Sebaliknya, ketika guru menunjukkan kekerasan emosi, ketidakteraturan, atau ketiadaan integritas, anak menangkap kontradiksi yang kemudian memengaruhi perkembangan moralnya. Kata lainnya, keteladanan bukan hanya aspek moral, tetapi mekanisme biologis dan psikologis dalam pembelajaran.
Dalam konteks inilah peringatan Hari Guru menjadi relevan. Guru figur publik yang kesehariannya berada di bawah pengamatan lebih dari 20 sampai 40 pasang mata anak. Setiap langkah, intonasi suara, pilihan kata, cara menegur, cara menyelesaikan konflik, hingga bagaimana mereka mengelola stres, semuanya diobservasi dan ditiru.
Keteladanan bukan sesuatu yang dikerjakan sesekali tetapi ekspektasi psikologis yang melekat pada profesi guru. Sementara di era modern ini harapan itu semakin kompleks.
Dalam satu tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia bergerak ke arah deep learning atau pembelajaran mendalam setelah pola Merdeka Belajar. Ini bukan sekadar model baru, melainkan perubahan paradigma dari sekadar mengingat informasi menuju memahami, merefleksikan, berpikir kritis, berpikir kreatif, menghasilkan solusi, dan berkolaborasi.
Pembelajaran mendalam menuntut bahwa siswa bukan hanya tahu, tetapi juga mampu mengaplikasikan, menganalisis, dan menghubungkan pengetahuan dengan konteks kehidupan. Namun, transformasi ini membawa implikasi langsung terhadap beban kerja guru.
Peran Guru pun berubah dari Instruktur ke Fasilitator. Guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Mereka dituntut menjadi fasilitator, mentor, pembimbing, dan coach. Hal ini memerlukan kapasitas interpersonal yang lebih tinggi. Mulai dari kemampuan berkomunikasi, empati, hingga keterampilan refleksi dan dialog.
Dalam konteks sosial-emosional, guru dituntut bukan hanya mengajar konten, tetapi juga karakter. Di sinilah keteladanan menjadi faktor mutlak.
Guru dituntut merancang pembelajaran berbasis proyek, asesmen autentik, rubrik penilaian, iKM/kurikulum merdeka, pelaporan portofolio, dokumentasi kelas, perencanaan diferensiasi, dan banyak lagi. Semua ini meningkatkan beban kerja yang tidak sedikit.
Dorongan pembelajaran mendalam menuntut guru membuat pengalaman belajar yang bermakna, namun realisasinya seringkali terbentur keterbatasan waktu dan energi.
Sementara dinamika sswa generasi Z dan Alpha memiliki pola interaksi yang berbeda, mereka lebih digital, lebih cepat bosan, lebih kritis, dan lebih sensitif terhadap ketidakotentikan. Mereka sangat mudah mengidentifikasi discrepancy antara nasihat dan keteladanan guru.
Dalam lingkungan seperti ini, guru harus terus-menerus menjaga integritas perilaku. Sebuah tuntutan mental yang berat ketika kondisi kerja tidak selalu mendukung.
Apakah Pembelajaran Mendalam Membebani Guru? Jawabannya: ya, jika sistem tidak ikut berubah. Atau tidak, jika ekosistem pendidikan mendukung secara penuh.
Beban ini muncul dari tiga sumber utama, diantaranya tuntutan multiperan. Guru harus mengajar, menjadi teladan, merancang pembelajaran, mengelola kelas, menjadi konselor informal, sekaligus memenuhi administrasi. Pembelajaran mendalam meningkatkan intensitas interaksi dan personalisasi pembelajaran, sehingga energi emosional guru terkuras jauh lebih banyak.
Di sisi lain, sistem menginginkan pembelajaran kreatif, kolaboratif, berbasis proyek. Tetapi kelas tetap penuh, waktu terbatas, dan fasilitas minim. Guru dituntut mengajar dengan pendekatan abad ke-21, tetapi banyak sekolah masih beroperasi dengan sarana abad dari ke-20.
Kesenjangan ini memunculkan tekanan psikologis, guru tentu tahu apa yang ideal, tetapi terjebak dalam apa yang memungkinkan.
Dalam pembelajaran mendalam, guru bukan hanya mengajar apa yang dipikirkan, tetapi bagaimana cara berpikir. Ini jelas membutuhkan konsistensi perilaku yang tinggi. Kontradiksi kecil saja, misalnya guru meminta siswa bersabar, tetapi ia sendiri mudah terbakar emosi, situasi yang dapat melemahkan efektivitas pengajaran. Ketegangan inilah yang membuat profesi guru memerlukan kesiapan mental yang besar.
Pembelajaran mendalam mendorong siswa untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan berinisiatif. Namun transformasi ini tidak bisa terjadi tanpa kehadiran guru yang mampu membangun relasi positif, memperlihatkan empati, menunjukkan disiplin dalam tindakan, konsisten antara ucapan dan perilaku.
Sosok Guru memang figur manusia yang mesti selalu terbuka dan membuka dirinya pada pembaruan, dan mereka harus terus bertahan terhadap perubahan. Repotnya, semua kualitas ini tidak dapat diajarkan hanya lewat ceramah. Mereka harus dilihat oleh siswa dalam tindakan nyata guru.
Di sinilah prinsip psikologi perkembangan menemukan relevansi paling kuat. Ketika sistem pendidikan mendorong deep learning, maka peran keteladanan guru menjadi semakin esensial. Pembelajaran mendalam tidak terjadi dalam ruang kosong tetapi mesti tumbuh dari relasi dan kesesuaian nilai.
Peringatan Hari Guru tahun ini seharusnya tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga refleksi mendalam. Apakah kita sudah memberi ruang yang cukup bagi guru untuk menjadi manusia, bukan hanya mesin kerja?
Pembelajaran mendalam membutuhkan guru yang sehat secara mental dan emosional.
Apakah sistem pendidikan sudah berpindah dari administrasi menuju kualitas interaksi? Tanpa pengurangan beban administratif hingga mode pembelajaran mendalam hanya menjadi jargon.
Apakah keteladanan guru dihargai setara dengan kemampuan akademiknya? Padahal secara psikologis, keteladanan memiliki dampak lebih besar pada pembentukan karakter siswa.
Di tengah transformasi pendidikan yang cepat, satu hal tetap tidak berubah yakni, anak selalu lebih cepat meniru perilaku daripada mendengar nasihat. Di era digital sekalipun, otoritas moral seorang guru masih memiliki tempat yang sangat menentukan dalam perkembangan anak. Dengan garis bawah, orang tua di rumah wajib bekerja sama.
Untuk menjaga keteladanan itu, guru harus didukung, bukan dibebani apalagi dibentak-bentak atau dilaporkan ke pihak berwajib. Sebab ada tesis, apakah perilaku anak yang tak biasa atau melewati kewajaran etis di sekolah, mungkin akibat didikan awalnya dari rumah.
Akhirnya, peringatan Hari Guru mengingatkan kita bahwa nasihat adalah suara, sementara keteladanan maujud yang terus ditiru. Dalam dunia pendidikan, jejak guru selalu menjadi yang paling panjang, paling dalam, dan paling menentukan arah masa depan. (*)
Majene, 27 November 2025











