Dengan Esai Guru Berbagi Ide

oleh
oleh

Oleh: Wahyudi Hamarong (Anggota IGI Majene)

Ruangan serbaguna MAN 1 Majene siang itu tampak terang oleh deretan lampu di plafon. Pendingin ruangan menyebarkan hawa sejuk, sementara meja dan kursi lipat ditata rapi menyambut peserta Workshop Menulis Esai dan Bedah Beban Kerja Guru.

Kegiatan yang digelar Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Majene ini menjadi rangkaian peringatan Hari Guru Nasional. Sekaligus HUT IGI ke-16, yang jatuh 26 November 2025.

Benar saja, jumlah peserta melampaui perkiraan. Kursi tak lagi mencukupi. Sejumlah panitia sigap menambah kursi kayu dan mengaturnya di sudut-sudut ruang yang tersisa. Setelah semua terakomodasi, suasana mencair. Peserta saling menyapa, bertukar cerita tentang asal sekolah, dan menikmati kopi atau teh beserta kudapan kecil sebelum materi dimulai.

“Esai adalah ruang berpikir, merenung, dan mempengaruhi. Seorang guru adalah pemimpin pembelajaran—gagasannya harus terdengar.”

Kalimat pembuka yang tajam itu disampaikan oleh Adi Arwan Alimin, novelis, wartawan, akademisi, sekaligus budayawan yang menjadi pemateri utama. Ruangan sontak hening; para peserta sepenuhnya fokus.

Adi melanjutkan bahwa guru dapat menggunakan esai untuk mengulas persoalan pendidikan yang mereka temui sehari-hari, menawarkan solusi berbasis pengalaman kelas, serta menginspirasi rekan seprofesi melalui refleksi praktik baik.

“Ke depan, tulisan-tulisan guru ini akan memperkaya wacana literasi pendidikan nasional,” ujarnya. Pulpen para peserta bekerja cepat, menggarisbawahi poin demi poin yang dianggap penting. Dalam sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan mendalam mengalir, bahkan melebihi kuota waktu yang tersedia.

Sesi berikutnya, Bedah Beban Kerja Guru, tidak kalah menarik. Ketua IGI Majene, Idham Sirunna, bersama Ketua Bidang Advokasi IGI, Nur Alamsyah, S.Pd., mengurai isi Permendikdasmen No. 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru serta kaitannya dengan dapodik sebagai rumah data guru. Persoalan terkait kevalidan data, kelebihan guru, dan distribusi jam mengajar menjadi tema yang banyak disorot.

“Tahun lalu, dua triwulan sertifikasi saya tidak cair, padahal di Info GTK dinyatakan valid. Saya bingung di mana masalahnya,” keluh seorang peserta.
“Di sekolah saya guru berlebih, akibatnya ada yang kekurangan jam. Data Info GTK jadi tidak valid,” tambah peserta lain dari sudut ruangan.

Idham menegaskan bahwa setiap persoalan yang muncul akan dikawal oleh IGI untuk ditindaklanjuti ke pihak terkait. “Harapannya, ada solusi yang jelas dan masalah serupa tidak terulang lagi,” ujarnya menutup sesi.

Workshop tidak hanya menyajikan materi teknis, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi guru. Dari menulis esai hingga mengurai beban kerja, kegiatan ini memperlihatkan satu hal: guru terus berupaya memperkuat peran dan kualitasnya di tengah dinamika pendidikan yang semakin kompleks. (*)