Catatan: Ahmad Akbar | Moderator Bincang Sastra Pekan Sastra Husni Djamaluddin The Next Generation 4th
“Kau tampar pipiku / sampai pingsanku melahirkan banjir / Hanyutlah Sampah / Hanyutlah bangkai / Hingga aku mampu / Memanggil hutan asalku …”
Suara lirih namun tegas dari sastrawan sepuh D. Zawawi Imron, yang membacakan puisi Percakapan dengan Sungai bersama Sayev Muhammad Billah, membuka ruang kesenyapan di Baruga Kayyang Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Minggu (30/11). Di usia 82 tahun, Zawawi tampil memukau dan menjadi penanda dimulainya Bincang Sastra: Sastra dan Identitas, salah satu rangkaian Pekan Sastra Husni Djamaluddin The Next Generation 4th – Jejak Kehidupan.
Forum ini menghadirkan tiga narasumber: D. Zawawi Imron, Yundini Husni Djamaluddin, dan Mawan Belgia, dengan Ahmad Akbar sebagai moderator. Latar visual figur dan karya sastrawan Mandar memperkuat suasana kontemplatif, membawa peserta masuk ke ruang di mana getar rasa, intelektualitas, dan sensibilitas kemanusiaan bertemu.
Seperti disampaikan dalam pengantar acara, sejarah mencatat peristiwa, namun sastra menghadirkan hikmah dan vibes of life yang menetap lama dalam ingatan. “Getar itulah yang membuat sastra hidup,” ujar pembawa acara dalam prolognya.
Pendalaman Para Narasumber
Lokalitas yang Menjadi Jalan Universal
Mawan Belgia menekankan pentingnya menggali kedalaman karya yang berangkat dari lokalitas. Menurutnya, karya lokal tidak berarti terkurung dalam kelokalan. “Justru dari lokal kita masuk ke ruang universal,” ungkapnya. Ia mencontohkan pemilihan fabel sebagai bentuk kreatif untuk menghadirkan jarak naratif dari hiruk-pikuk media sosial yang rentan subjektivitas.
Sastra sebagai Ruang Pembentukan Identitas
Yundini Husni Djamaluddin mengajak peserta memandang sastra sebagai ruang membangun keberanian diri dan identitas. “Karya harus dibawa ke dunia yang lebih global,” tegasnya. Anak-anak generasi Sulawesi Barat, menurutnya, harus memupuk cita-cita besar meski hidup dalam perubahan cepat: beda generasi, beda kurikulum, beda selera, beda teknologi. Ia juga menyoroti persoalan rendahnya literasi pelajar, yang menjadi tantangan penting bagi peningkatan kualitas SDM di Sulbar.
Menulis dengan Nawa-nawa Patuju
D. Zawawi Imron, dengan kelembutan khasnya, mengingatkan esensi kesusastraan: menulis dengan hati yang jernih. “Nawa-nawa patuju, hati yang bersih agar pikiran jernih,” pesannya. Untaian kalimat itu menjadi penutup narasi yang menyejukkan bagi peserta yang memenuhi ruangan.
Suara dari Para Peserta
Beberapa peserta turut memberi catatan reflektif terhadap diskusi:
- Diana menanyakan cara membuat pembelajaran sastra terasa menyenangkan bagi siswa.
- Sri Musdikawati menegaskan bahwa proses kreatif yang bersungguh-sungguh akan melahirkan karya fenomenal.
- Asri Abdullah menyampaikan pembacaan kritis terhadap karya-karya Husni Djamaluddin—bahwa meski tidak menyebut “Mandar” secara eksplisit, nilai kemandaran hadir sebagai makna yang tersirat dalam setiap puisinya.
Sastra, Identitas, dan Jejak yang Diteruskan
Acara yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 14.30 WITA ini tak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi perayaan kecintaan terhadap sastra Mandar dan upaya menghadirkan generasi baru yang tak hanya membaca, tetapi menghidupkan nilai-nilai lokal dalam karya global.
Antusiasme peserta yang tinggi menunjukkan bahwa sastra tetap menjadi ruang penting bagi pertumbuhan identitas, kreativitas, dan kemanusiaan.
Catatan Penutup
Selamat menuliskan puisimu, wahai pelajar dan anak-anak muda Sulbar. Teruskan jejak Husni Djamaluddin yang dibesarkan oleh alam Mandar, tanah dan air Mandar dan tumbuhkan identitas kuat sebagai To Mandar. (WM)











