Oleh: Fauzan Azima
Malam minggu dipenuhi sesak adu ide dan gagasan tentang “Mandar Lao Sala”. Suasana pecah dan meledak tatkala malam semakin meninggi. Satu per satu suara dalam hati meronta ingin segera keluar dari rongga mulut, debat dan diskusi tidak dapat lagi dihindari.
Normalnya, malam minggu identik dengan malamnya para pemuda pemudi yang sedang jatuh hati, atau malam digunakan untuk melepas lelah dan penat setelah sepekan bekerja. Tapi tidak dengan malam minggu yang Kami ikuti di Cafe T’Bink dan Pustaka malam kemarin.
Betapa tidak, malam itu sangat cerah dan sedikit berangin. Diantara hamparan laut malam serta kelap-kelip lampu Kota Majene. Saya ikut berkumpul bersama para seniman, budayawan serta pemerhati seni dan budaya Mandar. Ini sekiranya bukan hanya sekedar nongkrong biasa di sebuah cafe, tapi beradu gagasan dan ide untuk menguliti apa itu Mandar dari sudut pandang dekonstruksi, tradisi dan teologi.
Tawaran gagasan utama yang diberikan adalah “Mandar Lao Sala”. Secara harfiah dapat diartikan (Mandar berlalu begitu saja). Gagasan-gagasan selama ini yang kita dengar berasal dari kearifan lokal masa lalu, coba dikupas dengan teori Dekonstruksi Post Modern ala Derrida.
Rasa-rasanya malam minggu yang saya ikuti bersama para pemikir Mandar itu adalah merupakan malam minggu paling cerah di seluruh kabupaten Majene pada hari itu.
Hari sabtu tanggal 17 Mei 2025, pukul 12.17 WITA saya mendapatkan telepon dari salah satu Budayawan yaitu Abba Tammalele di Kabupaten Majene. Saya diarahkan untuk menghadiri sebuah forum kebudayaan yang akan dilaksanakan di Cafe T’bink sebentar malam, tema pembahasannya adalah “Mandar Lao Sala”.
Jangan lupa, katanya. Ingat memang ini untuk ke sana sebentar malam katanya. Saya jawab, “iye.” Setelah itu telpon ditutup. Sontak saya bingung, Mandar Lao Sala? Maksudnya apa? Setahu saya lao sala itu selalu identik dengan hal-hal yang buruk, tidak baik. Masa iya Mandar Lao Sala? Pikir saya, diskusi apa ini?
Saya semakin bingung dan penasaran, apa sebenarnya yang akan didiskusikan? Tapi apapun itu ya saya hadiri sajalah sesuai dengan yang diminta oleh orang yang mengundang saya via telepon tadi. Menurut hemat saya, ini tak lebih seperti kegiatan-kegiatan diskusi pada umumnya.
Hanya melakukan diskusi formal. Ada narasumber, moderator, beberapa orang peserta, rokok di setiap meja, dan juga kopi tentunya. Ya hitung-hitung bisa menikmati suasana malam di T’Bink Cafe yang begitu hangat dan menenangkan.
Persoalan diskusi Mandar Lao Sala, ya biarlah berjalan sebagaimana biasanya forum berjalan. Biarlah berlaku formal, saya tidak begitu peduli. Sekalipun temanya sangat menarik, paling-paling isinya itu-itu saja.
Saya berangkat bersama teman-teman seumuran saya ke lokasi yang telah ditetapkan. Dan seperti biasa, saya datang terlalu cepat. Bukan karena rajin dan antusias dengan kegiatan. Tapi saya hanya ingin lebih dulu menikmati suasana cafe ini yang langsung menyuguhkan pemandangan laut malam dan operasi kapal-kapal kecil penangkap ikan dan kerlap-kerlip lampu Kota Majene.
Suasana dahsyat dan sapuan angin malam yang lembut membangunkan perasaan dingin dalam tubuh. Satu per satu orang-orang mulai berdatangan.
Dari kalangan akademisi, budayawan, seniman, pemerhati bahkan anak-anak usia muda mulai berdatangan memenuhi kursi-kursi serta tikar yang telah disediakan.
Perkiraan kumeleset, tidak hanya beberapa kepala yang menghadiri kegiatan ini. Manusia-manusia antusias yang kiranya juga tertarik dengan tema kali ini berdatangan memenuhi tempat kegiatan.
Tak lama kemudian, ucapan salam di pengeras suara menandai akan dimulainya kegiatan ini. Masing-masing orang memperbaiki posisi masing-masing.
Sebelum acara diskusi dimulai. Kita disambut atau dibuka persembahan monolog seorang bocah berumuran SD, Ahmad Yamani dengan judul merah putih.
“Mungkin ini tidak berkaitan dengan tema, tapi persembahan ini dimaksudkan untuk mengajari mental anak kami tampil di depan umum,” ungkap Ahmad Akbar selaku tuan rumah diskusi ini.
Pertunjukan monolog ini dinikmati dan diapresiasi oleh seluruh hadirin yang hadir karena disuguhkan oleh seorang anak dengan penampilan yang serius. Tapi dibalut oleh ekpresi alami lucu dan menggemaskan.
Tibalah kita pada kegiatan utama, moderator mengambil alih untuk memimpin acara. Dipimpin oleh Thamrin, narasumber dipanggil ke depan untuk mengisi kursi yang telah disediakan.
Masing narasumber membawa pisau analisa masing-masing dalam membedah tema kali ini. Cukup menarik narasumber yang hadir kali ini, yang pertama adalah Abdul Aziz dengan pisau analisa dekonstruksi, Opi Muis Mandra dengan pisau analisa tradisi, serta Nur Salim Ismail dengan pisau analisa teologi.
Menurut saya diskusi ini tak beda jauh dari perdebatan biasa. Yang penting narasumber menyampaikan isi materinya, lalu ditanyakan oleh para peserta berjumlah tiga orang, kemudian dijawab kembali oleh narasumber.
Setelah itu diskusi selesai lalu ditutup. Tapi celaka, lagi-lagi perkiraan saya meleset.
Diskusi malam ini meledak dan berubah menjadi debat antar semua orang yang terlibat. Pernyataan dan pertanyaan membeludak.
Malam yang semakin jauh harusnya semakin dingin, malah berubah menjadi semakin panas. Sampai salah seorang peserta teriak, diskusi ini terlalu terbatasi waktu, jika besok bikin kegiatan ini lagi sediakan waktu sebanyak-banyaknya. Agar semua bisa menjadi jelas.
Bisa dibayangkan betapa seru dan stabil pembahasan itu sampai semua peserta meminta waktu tambahan berkali-kali.
Namun waktu tidak bisa dikompromi, debat yang melibatkan pemikiran post modern, Aziz yang mengatakan bahwa segala bentuk pelabelan terkait Mandar itu harus segera diupgrade sesuai kondisi masa kini.
Tidak perlu selalu mengadiluhungkan pappasang (pesan) orang dulu. Serta kita harus berupaya untuk memajukan budaya Mandar tanpa bergantung pada penilaian konservatif dan tradisi lama, sambungnya.
Ia juga mengajak kita untuk mewarnai Mandar masa kini dengan warna Mandar-Mandar baru tanpa harus terkungkung dengan batasan tradisi orang Mandar dahulu kala.
Tapi hal ini justru tidak sesuai dengan pemahaman Narasumber lain, Opi mengatakan bahwa Mandar tidak pernah merasa tertutup dari dunia luar. Namun hal itu tidak boleh menjadi alasan kepada generasi masa kini untuk tidak melestarikan tradisi-tradisi mandar dari jaman dahulu kala.
Akhirnya kegiatan ini masih menyisakan ketidakpuasan lantaran pemikiran-pemikiran, serta ide dan gagasan yang dikemukakan narsum belum menemui titik temu. Untuk mendefinisikan Mandar dalam konsepsi yang sama.
Masing-masing orang pulang dengan isi kepala yang penasaran dan pertanyaan-pertanyaan. Termaksud saya pribadi. Banyak pertanyaan yang bermunculan dalam kepala saya yang semoga bisa dijawab oleh para pembaca.
Yakni, manakah Mandar yang dibicarakan orang pada umumnya. Mandar pada masa todilaling atau sebelumnya? Mandar pada masa pra atau pascakolonial? Atau mandar dalam bentuk lainnya? Saya hanya selalu percaya pada ungkapan hati saya pada beberapa keadaan.
“Ilmu filsafat kerap menghadapkan kita pada dua pilihan yang sakinng bertolak belakang dan mengharuskan kita memilih salah satunya”. Kemalangan kita adalah selalu terjebak pada satu pilihan saja padahal bisa saja kedua pilihan yang pro kontra itu sama benarnya.
Kita bahkan bisa memilih keduanya sebagai pilihan jawaban untuk kita atau bahkan tidak memilih keduanya. Jika kedua pilihan itu dianggap tidak sesuai dengan kriteria kebenaran yang dimaksudkan.
Seperti contoh yang terjadi pada diskusi malam Minggu saya. Perdebatan apakah sebaiknya kita mempertahankan dan tetap melestarikan budaya leluhur (lama) atau bahkan memilih untuk menciptakan budaya kekinian dengan tidak menghiraukan tradisi.
Jika di bawah dalam satu kesadaran kritis, keduanya tidak perlu dijadikan pilihan untuk diperdebatkan baik buruk atau salah benarnya. Bukankah keduanya benar untuk diadopsi dalam kehidupan masa kini?
Tapi kesemuanya itu tetap kembali pada diri masing-masing. Bagaimanapun cara pandang dalam menyikapi Mandar dan seluruh isinya merupakan hak setiap orang untuk ditelusuri lebih jauh lagi. (*)