Oleh: Adi Arwan Alimin (Penulis Buku Kampung Jawa di Tanah Mandar)
ZAMAN selalu punya caranya sendiri dalam menguji ruang-ruang lamanya. Hari ini, salah satu ruang yang paling terasa diuji adalah pasar tradisional. Bukan karena medium ini kehilangan fungsi, tetapi karena dunia di sekitarnya berubah terlalu cepat.
Pasar Wonomulyo di Kabupaten Polewali Mandar merupakan contoh nyata. Masih berdiri, masih hidup, tetapi sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan: tata kelola pasar, perubahan perilaku generasi muda dan naiknya peran UMKM berbasis digital. Jika tidak dibaca dengan jernih, pasar bisa pelan-pelan tersingkir dari kehidupan ekonomi sehari-hari.
Bagi sebagian generasi muda hari ini, pasar tradisional bukan lagi ruang yang akrab. Mereka mengenalnya sebagai tempat “belanja orang tua”, bukan sebagai ruang gaya hidup. Belanja kini identik dengan ponsel, aplikasi, dan kecepatan.
Kini generasi muda mencari kenyamanan, kebersihan, kejelasan harga, dan pengalaman berbelanja yang ringkas dan visual. Sayangnya, pasar tradisional sering kali gagal menjawab ekspektasi ini. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak pernah benar-benar diajak bertransformasi secara serius.
Jika generasi muda menjauh dari pasar, maka yang terputus bukan hanya pembeli, tetapi regenerasi ekosistem ekonomi lokal.
Di sisi lain, kita sering mengagungkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Namun ironisnya, pasar tradisional—yang seharusnya menjadi rumah alami UMKM—justru kerap tertinggal dalam kebijakan penguatan UMKM.
Banyak UMKM baru lahir di media sosial, di bazar temporer, atau di marketplace digital. Tapi mereka jarang melihat pasar tradisional sebagai ruang tumbuh. Mengapa?
Karena pasar sering dipersepsikan kurang tertata, kurang mendukung branding produk, atau kurang ramah bagi inovasi.
Padahal, Pasar Wonomulyo bisa menjadi inkubator UMKM lokal: tempat produk pangan olahan, kuliner khas, kerajinan, dan produk kreatif bertemu dengan konsumen nyata setiap hari. Masalahnya bukan pada UMKM atau pasar, melainkan pada tidak adanya jembatan yang menghubungkan keduanya.
Jika Pasar Wonomulyo ingin hidup lebih lama, maka generasi muda harus dilibatkan bukan sebagai penonton, tetapi sebagai aktor perubahan.
Bayangkan pasar yang mempunyai sudut UMKM kreatif atau menyediakan ruang nongkrong sederhana serta ramah bagi konten digital (foto, video, storytelling)
Bagi generasi muda, pasar bukan lagi sekadar tempat beli bahan dapur, tetapi ruang pengalaman. Tanpa itu, pasar akan kalah bukan oleh harga, tetapi oleh citra.






