Parodi Sampah

oleh

Oleh: Abdul Muttalib, Pecinta Perkutut, tinggal di Tinambung

Kemarin sempat terjadi demo yang ricuh di kantor Bupati Polewali Mandar. Sebabnya tidak lain ‘hanya’ lantaran sampah. Kata ‘hanya’ digunakan karena sampah secara denotatif dapat bermakna barang yang tak lagi dipakai dan sudah dibuang.

Meski secara konotatif, sampah dapat bermakna lain, ia tadinya adalah barang sisa-sesudah ia digunakan. Ternyata ada barang yang sesudah ia dibutuhkan, ia lantas dibuang, eh, sesudah ia dibuang justru menimbulkan masalah.

Apa itu? Sampah. Artinya sampah setidaknya pernah berguna, baik ditinjau dari sudut pandang ekonomi, kultural, politik bahkan secara parodi. Dalam tinjauan ekonomi, pasar subuh di Wonomulyo jumlah transaksinya diklaim menembus angka milyaran.

Angka milyaran tentu berkonsekuensi atas perolehan PAD yang tinggi, meski ikut mendatangkan persoalan sampah yang juga tak kalah pelik. Sampah yang jika ditinjau secara kultural tidak hanya menodai tata artistik kota, tapi juga memicu bau tak sedap yang memicu kerumunan lalat.

Akhirnya sampah menemukan titik didih atas prilaku hidup manusia yang abai secara individual dan kolektif. Tapi mari membaca sampah dalam dimensi politik.

Lemahnya sistem pengolahan sampah bahkan ketidaktersedian lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah beberapa kali mengalami penolakan warga di beberapa kecamatan di Polewali Mandar yang disasar sebagai TPA.

Ketiadaan TPA dan surplus sampah sebenarnya sudah lama menjadi polemik. Jangan-jangan ini isyarat dari sikap hidup; serupa kacang
yang lupa kulitnya. Kacang ini dapat bermakna absennya sikap leadership dari pucuk pimpinan eksekutif di daerah.

Bisa juga, sebagai bentuk minimnya fungsi kontrol dari pihak legislatif sebagai corong aspirasi warga. Daku mendadak teringat tagline pegadaian di masa sulit seperti ini; “mengatasi masalah tanpa masalah”.

Maka mari segera singsingkan lengan baju, karena sampah sepertinya tidak lagi cukup dipandang lewat perspektif ekonomi, kultural dan politik semata. Sampah idealnya menjadi sikap hidup parodi yang piawai menghindari konfrontasi, seraya melahirkan sikap bijaksana dengan riang gembira.

Foto: Screenshoot Video Fajrul Karnivan