Merawat Kata, Menumbuhkan Makna: Membangun Ekosistem Literasi 

oleh
oleh

Oleh: Muliadi Saleh

Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial 

Literasi kerap dipersempit sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal, ia jauh lebih luas. Literasi adalah sebuah ekosistem hidup tempat kata, gagasan, nilai, dan kesadaran sosial saling berkelindan. Ekosistem literasi adalah ruang bersama.Tempat manusia belajar memahami dunia, menafsirkan kenyataan, dan merumuskan masa depan melalui teks, konteks, dan refleksi.

Dalam pengertian yang lebih hakiki, ekosistem literasi bukan sekadar kumpulan buku, perpustakaan, atau indeks membaca. Ia adalah jaringan relasi antara penulis dan pembaca, guru dan murid, negara dan warga, teknologi dan nurani. Seperti vegetasi yang sehat, literasi hanya tumbuh bila ada tanah yang subur, air yang cukup, cahaya yang adil, dan penjaga yang setia.

Secara sosiologis diyakini bahwa literasi yang kuat berkorelasi dengan kualitas demokrasi, kesehatan publik, dan daya saing ekonomi. Negara dengan ekosistem literasi yang baik cenderung memiliki tingkat kepercayaan sosial (social trust) yang lebih tinggi, partisipasi warga yang lebih aktif, serta kemampuan kolektif untuk menyelesaikan persoalan bersama. Artinya, literasi bukan urusan sekolah semata, melainkan fondasi peradaban.

Di titik inilah jurnalisme warga menemukan relevansinya.

Jurnalisme warga adalah bentuk literasi aktif. Ketika warga tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen makna. Melalui catatan lapangan, foto sederhana, video pendek, atau tulisan reflektif, warga menghadirkan realitas dari sudut pandang yang sering luput dari media arus utama. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari berupa  jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, sekolah yang kekurangan guru, banjir yang berulang, atau solidaritas kecil yang tumbuh diam-diam di kampung-kampung.

Dalam ekosistem literasi, jurnalisme warga berfungsi sebagai penggerak kesadaran dan empati. Ia membuat yang jauh menjadi dekat, yang sunyi menjadi terdengar. 

Dengan membaca kisah sesama warga, masyarakat belajar merasakan penderitaan orang lain sebagai bagian dari dirinya. Dari empati itulah partisipasi tumbuh. Muncul dorongan untuk terlibat, bersuara, dan ikut bertanggung jawab atas perubahan.

Lebih jauh, jurnalisme warga juga menjadi bentuk kontrol sosial yang beradab. Bukan dengan amarah, melainkan dengan data, kesaksian, dan narasi yang jujur. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan selalu perlu diawasi, dan kebijakan publik harus terus diuji dampaknya di tingkat tapak. Dalam konteks ini, literasi bukan hanya kemampuan membaca berita, tetapi kemampuan menimbang, memverifikasi, dan merespons secara etis.

Lalu bagaimana membangun ekosistem literasi yang hidup?

Pertama, menumbuhkan kesadaran bahwa literasi adalah kebutuhan hidup, bukan kewajiban administratif. Membaca tidak boleh terasa seperti hukuman, menulis tidak boleh menjadi momok. Literasi harus hadir sebagai pengalaman yang membebaskan—mengajak orang berpikir, bertanya, dan meragukan dengan sehat.

Kedua, menyediakan ruang dan akses yang adil. Perpustakaan, taman bacaan, ruang diskusi, komunitas literasi, hingga platform jurnalisme warga harus dirawat sebagai ruang publik yang inklusif. Literasi akan mati bila hanya bersemayam di kota dan kampus. Ia harus hadir di desa, di lorong sekolah, di rumah ibadah, dan ruang-ruang keseharian warga.

Ketiga, membangun keteladanan. Anak-anak tidak tumbuh menjadi pembaca dan penulis karena perintah, melainkan karena contoh. Guru yang gemar membaca, orang tua yang berdiskusi, pemimpin yang menulis dengan jernih. 

Itulah nutrisi utama ekosistem literasi. 

Siapa yang bertanggung jawab? 

Negara memikul peran struktural melalui kebijakan, anggaran, dan kurikulum yang menumbuhkan nalar kritis. Media menjaga tanggung jawab etis agar informasi tidak sekadar cepat, tetapi benar dan bermakna. Sekolah, kampus, dan komunitas menjadi dapur budaya literasi. Sementara warga—melalui praktik literasi dan jurnalisme warga—menjadi denyut nadi yang menjaga ekosistem ini tetap hidup.

Pada akhirnya, merawat ekosistem literasi adalah merawat masa depan bersama. Kita sedang menanam kata demi kata, kesaksian demi kesaksian. Dari sanalah akan tumbuh masyarakat yang tidak mudah dikelabui, tidak alergi pada kritik, dan tidak kehilangan empati. Sebab bangsa yang literat adalah bangsa yang berani membaca kenyataan. Lalu mengubahnya dengan kesadaran dan tanggung jawab.

__________

Muliadi Saleh

Menulis Makna, Membangun Peradaban