الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Jamaah salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Demi Allah!… Saat ini dikala kita sukses, dan kita sudah mendapatkan harta yang layak, setelah kita menjadi anak yang terbaik menurut ayah ibu kita, kemana semua anak-anaknya? terkadang setelah kita sukses kita lupa dengan ayah ibu kita, jikalau ayah dan ibu kita kaya, anaknya jadi raja, tapi terkadang jikalau kita anak sudah sukses, terkadang orang tua kita, kita jadikan sebagai buruh, bahkan kita jadikan orang tua kita sebagai pembantu. Beristighfarlah, bermohon ampun kepada Allah.
Tataplah wajah ayah ibumu! kata nabi dengan tatapan kasih sayang, maka siapa anak yang menatap wajah ayah ibunya dengan kasih sayang maka pahala yang terbesar baginya tidak lain dan tidak bukan adalah haji yang mabrur.
ما من ولد بار ينظر إلى والديه نظرة رحمة إلا كتب الله له بكل نظرة حجة مبرورة
Artinya: Siapa anak, kata nabi yang datang menatap wajah ibunya dengan tatapan kasih sayang, maka Allah SWT akan menuliskan baginya satu pahala haji yang mabrur.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Tapi mengapa kita selalu menyakiti hati ayah ibu kita. anak yang hari ini yang masih mampu menatap wajah ayah ibunya, tataplah wajah ibumu dengan kasih sayang, berapa lama engkau akan menatap wajahnya senyuman indah yangk keluar dari bibirnya, senyuman indah yang keluar ikhlas kepada anak-anaknya, senyum ibu tidak ada politik didalamnya, tidak ada kamuflase di dalamnya, ikhlas kepada kita anak-anaknya.
Coba kita lihat perjuangan ayah ibu, dikala kita sakit, ibu tidak tidur dari pagi ketemu pagi dia gendong anaknya, ibu menangis dalam doanya berkata “ya Allah sembuhkan sakitnya anakku, kalau perlu saya ibunya yang menggantikan sakitnya.” Setelah ibu kita semakin hari semakin tua, kulitnya semakin habis semakin keriput, ibu kita semakin hari semakin renta, butuh pengawan oleh anak-ankanya, ibu kita jatuh sakit, kemana semua anak-anaknya? Kita hanya sibuk dengan urusan dunia, kita hanya sibuk dengan diri kita masing-masing. Istighfar mohon ampun kepada Allah.
Coba kita lihat! Ibu kita ibu yang ikhlas dan tulus merawat kita, ibu yang tidak ada duanya, yang tidak ada gantinya di hadapan Allah SWT, olehnya itu datang sahabat bertanya kepada Rasul:
“Pada siapa saja aku harus berbuat baik dalam hidupku yaa rasulullah, maka Rasulullah SAW bersabda “ibumu, setelah itu siapa lagi ya rasulullah, “ibumu” kata nabi, setelah itu siapa lagi yaa rasulullah? Setelah itu ibumu, setelah itu ayahmu. ibu, ibu, ibu setelah itu ayahmu”.
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ
Tapi mengapa kita selalu mengesampingkan ibu kita bahkan kita lebih menomor satukan istri kita, ketimbang ibu kita, ibu yang siang malam cintanya tidak pernah pudar di hadapan Allah.
Coba kita lihat jikalau ada anak yang punya banyak masalah, sekalipun anak itu banyak dosa, bahkan ahli maksiat anak itu narkoba sabu-sabu anak itu tidak ada baiknya pembunuh sekalipun tidak ada lagi masyarakat yang mau menerimanya bahkan istrinya sudah mengusirnya.
Coba engkau kembali ke pangkuan ibumu. Ibu akan menerima anaknya dengan lapang dada, apa yang akan keluar dari lisan ibu “sabar anakku, ibu akan tetap mencintai dan menyayangimu nak” itu ucapan yang akan selalu keluar dari lisan ibu kita yang ikhlas yang tulus tidak pernah ada duanya.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Jamaah sholat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Coba kita lihat kembali sewaktu ibu ayah kita berjuang menyekolahkan kita, ada yang tiga bersaudara ada yang berempat, berlima, bertujuh bahkan ada yang sampai 10 bersaudara, coba kita ingat bagaimana perjuangan ibu, ibu siang dan malam mengumpulkan uang untuk anak-anaknya, menyekolahkan kita gali lobang tutup lobang, ayah keluar siang, panas kepanasan hujan kehujanan, panas terik tidak pernah ia pedulikan hujan deras tidak pernah ia hiraukan, ayah banting tulang peras keringat untuk kita.