Mengenang Perjuangan Kedua Orang Tua, Sebuah Refleksi Hari Raya Idul Fitri

Artinya: “Tidak akan masuk surga, orang yang memutus silaturahim (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

ا الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد 

Pada hari raya ini setelah kita membesarkan asma Allah, setelah kita ruku’ dan sujud dihadapan Allah SWT, setelah sebulan penuh kita puasa di siang hari dan tarawih di malam hari, kita berharap Allah SWT mensucikan diri kita mengembalikan kita kepada kemanusiaan kita, pada fitrah kesucian kita sebagai hamba Allah SWT.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ

Artinya: sungguh beruntunglah orang yang membersihkan dirinya.

Jama’ah salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami sebagai khatib akan menyampaikan tema khutbah idul fitri:

“Mengenang Perjuang Orang Tua, sebagai Refleksi Hari Raya Idul Fitri”

Coba kita ingat kembali dan kita amati bersama mungkin pada tahun yang lalu ataupun pada bulan ramadhan yang lalu, kita masih berkumpul bersama dengan keluarga, masih berada dalam pelukan sang ibu dan masih merasakan cinta dan kasih sayang dari seorang ayah, orang tua yang seraya menjadai cahaya dalam kegelapan jadi penuntun dikala kita jatuh, membina dan merawat kita, mulai dalam kandungan sampai kita dewasa, akankah kita menjadi anak yang tidak tau berterimakasih, akankah kita menjadi anak yang durhaka yang tidak mau melihat senyum di bibir mereka, yang berkorban membina dan merawat kita.

Jamaah salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Mohon maaf! mengapa kita menjadi anak yang terbaik, menjadi anak yang soleh dan solehah mengapa kita mendapatkan pendidikan yang baik, mengapa kita mendapatkan rezeki yang barokah. Demikian itu tidak lain dan tidak bukan adalah berkat doa dari ayah dan ibumu.

Melalui kesempatan yang penuh berkah ini, khatib mengetuk hati setiap iman kita yang hadir diksempatan yang baik ini, seluruh amal ibadah kita, mulai dari salat, puasa, infak, shodaqoh, zakat bahkan haji dan umroh itu seluruhnya akan tertolak dihadapan Allah SWT, jikalau ayah dan ibu kita belum meridai seluruh amal ibadah kita di hadapan Allah SWT.

Bagi anak yang durhaka, yang hari ini selalu menyakiti hati kedua orang tuanya, mungkin beberapa hari yang lalu, mungkin beberapa bulan yang lalu, mungkin beberapa saat yang lalu, pada tahun yang lalu, kita pernah menyakiti hati kedua orang tua kita, mungkin kita pernah memukul ayah dan ibu kita, beberapa kali kita mendobrak pintu, beberapa kali kita menggertak ayah dan ibu kita, bahkan kita menjadi musuh dalam hidup dan kehidupan mereka.

Istighfar…! Mohon ampun kepada Allah, jika hari ini masih ada anak yang hadir di tempat yang mulia ini, yang masih punya dosa kepada ayah ibunya, sesungguhnya shalatmu tidak akan diterima Allah, infak sedakahmu di tolak oleh Allah, bahkan puasa haji mu sah! tetapi tidak diterima seluruhnya dihadapan Allah SWT, jikalau masih ada dosa dan noda yang pernah kita titipkan lewat lisan kita kepada ayah ibu kita.

Rasullulah SAW, pernah ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud, “amalan apakah yang paling utama”? beliau bersabda, “salat tepat waktunya”. saya berkata, “kemudian apalagi?” beliau menjawab: “berbakti kepada orang tua”, saya berkata: “kemudian apalagi?” beliau bersbada: “jihad fi sabilillah” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan yang lainnya).

Di hadits yang lain dikatakan:

Nabi saw bersabda: “Hamba yang taat kepada kedua orang tuanya dan taat kepada Allah rabbul alamin, maka tempatnya nanti di surga ‘illiyin yang paling tinggi. (hadits ini dikeluarkan oleh Addailami dalam Musnad Al-Fidaus).

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah salat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Kita kembali melihat dan mengenang seluruh perjuangan ayah dan ibu kita. Yang masih mampu melihat ayah ibunya tersenyum bahagia adalah satu nikmat yang tak terhingga di hadapan Allah SWT, bahkan menatap wajah seorang ibu kata nabi adalah ibadah. sebagai hadits Rasulullah SAW

عن عائشة ، قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” النَظَرُ فِي ثَلَاثَة أَشْيَاءَ عِبَادَةُ ، النَظَرُ فِي َوجْهِ الَأَبوَيْنِ وِفِي المُصْحَفِ ، وَفِي البَحْرِ

‘Aisyah r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Melihat pada tiga perkara (ini) adalah ibadah: melihat kepada wajah kedua orang tua, melihat mushaf (al-quran) dan melihat laut.”

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Tapi mengapa kita selalu melihat dan memandang wajah ayah ibu kita dalam tatapan sinis. Karena kenapa? mungkin hanya harta belaka, mungkin karena harta warisan, sehingga kita menentang orang tua kita, sehingga kita berbuat semena-mena didepan ayah ibu kita.

Coba kita lihat kembali bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan kita ke muka bumi ini. Darah bercucuran, keringat tidak lagi terhenti, ibu menangis di hadapan Allah SWT, setiap lisan yang keluar dari bibirnya adalah untuk anaknya.

Demi Allah! mengapa hari ini, kita menjadi anak yang sukses, tidak lain dan tidak bukan adalah doa dari ayah ibu kita, setiap malam ibu kita berdoa “ya Allah jadikan anakku anak yang soleh, ya Allah jadikan anakku adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya, ya rabb jadikan anak-anak kami anak yang terbaik, jadikan nasibnya lebih baik ketimbang ayah dan ibunya.”