MANDARNESIA.COM, Polewali – Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar mendorong transformasi metode bimbingan manasik haji dari pola konvensional menuju pendekatan digital yang lebih interaktif dan mudah dipahami jamaah.
Usulan tersebut disampaikan Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dr. Aco Musaddad HM, saat mewakili Bupati Polewali Mandar dalam pembukaan Manasik Haji Tingkat Kabupaten Polewali Mandar, di Masjid Syuhada Polewali, Senin (2/2/2026).
Dalam sambutannya, Dr. Aco Musaddad menyampaikan empat pesan Bupati Polewali Mandar kepada calon jamaah haji, sekaligus menguraikan lima poin strategis yang menjadi gagasan Pemkab Polman untuk meningkatkan kualitas bimbingan manasik haji di Sulawesi Barat.
Poin pertama adalah digitalisasi manasik haji. Dr. Aco mengusulkan kepada Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Barat agar mulai mengadopsi teknologi digital dalam proses bimbingan. Menurutnya, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar materi manasik dapat dipahami secara lebih presisi dan menyeluruh.
Poin kedua adalah penerapan formula 80:20, yakni 80 persen visualisasi dan 20 persen ceramah. Ia menilai metode ceramah yang terlalu dominan selama ini membuat jamaah cepat lelah dan kurang fokus.
“Ke depan, manasik sebaiknya lebih banyak menggunakan visual. Dengan simulasi visual, jamaah akan lebih mudah membayangkan kondisi riil di Tanah Suci,” ujar Dr. Aco Musaddad.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkab Polman pada poin ketiga menyatakan kesiapan menyediakan fasilitas Ruang Pola Kantor Bupati sebagai lokasi manasik. Ruangan tersebut dilengkapi videotron berukuran besar, pendingin ruangan penuh (full AC), serta perangkat audio-visual yang memadai.
Poin keempat adalah pembelajaran berbasis kelompok kecil (small groups). Metode ini diharapkan mampu membuat sesi diskusi, tanya jawab, dan simulasi ibadah berjalan lebih intensif dan personal.
Pada poin kelima, Dr. Aco Musaddad optimistis Kabupaten Polewali Mandar dapat menjadi pilot project nasional dalam penerapan digitalisasi metode manasik haji dan umrah, mengingat kesiapan infrastruktur dan dukungan pemerintah daerah.
“Inovasi ini bertujuan agar jamaah tidak hanya siap secara fisik dan finansial, tetapi juga benar-benar menguasai tata cara ibadah secara visual sebelum berangkat ke Makkah dan Madinah,” pungkasnya. (Rls/WM)








