Kebijakan Pembentukan Batalyon-batalyon Baru TNI

oleh
oleh
Foto: Screenshoot IndonesiaDefence.com

Kalau meletakkan keinginan ini dalam kerangka ambisi bangsa Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia, kita bisa menemukan jejak keterhubungan argumentasinya. Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan sering sekali menyampaikan betapa besar kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Kekayaan ini, dalam kurun waktu yang lama menjadi incaran bangsa-bangsa lain disebabkan lemahnya bangsa Indonesia dalam menjaga dan memanfaatkan potensi besarnya itu.

Tampak sekali keinginan pemerintahan Prabowo untuk memastikan pencapaian kemakmuran bangsa pada saat yang sama sanggup pula dijaga dan ditopang dengan kuat oleh kekuatan militer bangsa Indonesia sendiri.

Keinginan ini tidak muluk. Berbagai peristiwa global akhir-akhir ini menunjukkan meningkatnya intensitas konflik antar negara yang berujung pada perang terbuka. Ditambah lagi, tensi ketegangan di kawasan Indo Pasifik yang melibatkan dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan China, menjadi sumber kekhawatiran tersendiri. Indonesia, dikarenakan potensi kekayaannya yang besar dan letak geografisnya, tidak bisa terlepas dari dinamika itu.

Jika kita menilik pergeseran besar peta kekuatan ekonomi dunia, tampak jelas bahwa Asia, khususnya di kawasan Indo Pasifik merupakan episentrum baru bagi pergeseran kekuatan ekonomi dunia.

Di tahun 1960, Empat kekuatan ekonomi besar dunia adalah AS (USD 543 Milyar ), Jerman Barat ( USD 146 Milyar ), Inggris ( USD 73 Milyar) disusul Prancis ( USD 62 Milyar). Keempatnya adalah negara -negara Barat, 3 diantaranya berada di Eropa. Di perkirakan di tahun 2027 keadaan itu akan berubah di mana empat kekuatan ekonomi dunia berturut-turut adalah AS, China, Jepang dan India.

Pergeseran ini membawa konsekuensi pada peningkatan pergeseran proyeksi kekuatan-kekuatan dunia ke kawasan Indo Pasifik. Penulis berkesempatan menghadiri Pameran Indo Defence yang digelar baru-baru ini. Dalam berbagai kesempatan, kami mendengar dan berdiskusi dengan banyak perwakilan militer negara-negara lain. Yang pada intinya memiliki kesepahaman yang sama bahwa kawasan Indo Pasifik sebagai kawasan ekonomi paling dinamis saat ini, karenanya juga menjadi kawasan yang secara militer pun turut mengalami ekskalasi dinamis. Kawasan ini kini menjadi titik baru bagi proyeksi militer banyak negara yang memiliki kepentingan ekonomi di kawasan ini.

Keadaan inilah yang mesti dihadapi dan dimitigasi dengan baik oleh pemerintahan Prabowo. Pembangunan ekonomi Indonesia kini tidak lagi zonder gesekan geopolitik dunia.

Bahkan, Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru di kawasan turut pula menarik perhatian bagi kepentingan strategis negara lain. Termasuk pula bagi kepentingan proyeksi militer negara-negara yang bahkan tidak berada dikawasan Indo Pasifik, seperti dari negara-negara Eropa.

Pergeseran proyeksi ini, dari sudut pandang penganut teori realisme dalam hubungan internasional, mencerminkan pula pergeseran episentrum konflik. Dari kacamata teori realisme, pergeseran ini bersifat survival (keberlangsungan hidup).

Ketegangan di kawasan ini bersumber dari kepentingan banyak negara untuk bertahan hidup di tengah arus deras perubahan dunia dan berbagai sektor. Terutama survivalitas ekonomi bagi banyak negara-negara itu, yang kini dan di masa datang, akan sangat banyak bergantung kepada kawasan Indo Pasifik.

Dalam mengantisipasi semua itu kita diperhadapkan pada kekuatan militer Indonesia yang masih sangat rawan. Baik itu peralatan maupun personil. Pengaruh penggentarnya belumlah memadai. Dan ini, bukannya tidak disadari. Sejak lama, keadaan kemampuan militer Indonesia yang masih jauh dari peernya dikawasan sudah menjadi pembahasan tersendiri.

Salah satu yang menjadi titik rawan itu adalah jumlah personil militer Indonesia. Untuk negara sebesar Indonesia, jumlah personil militer kita masih jauh dari rasio yang wajar. Terdapat 465.000 personil militer aktif di Indonesia. Rasio militer aktif dengan jumlah penduduk Indonesia adalah 1:600. Rasio yang bahkan lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia yang rasionya 1:300.