Husni Djamaluddin & Kata Malaqbiq yang Menjadi Nafas Sulawesi Barat

Oleh: Muliadi Saleh

ARUS dan gelombang zaman terkadang menyeret manusia dari akar budaya dan nilai-nilai luhurnya.  Banyak kata yang bergeser bahkan berubah maknanya, banyak laku mulia yang tak lagi memuliakan.  Ada satu kata yang berdiri tegak bagai mercusuar di tepi pantai Mandar : malaqbiq. Kata ini lahir dari bahasa Mandar, dari akar kata malaqbi, yang berarti mulia—suatu sifat yang menjunjung keluhuran budi, menjaga martabat, dan memuliakan sesama. Saat diawali dengan imbuhan sipa, ia menjadi sipamalaqbiq—saling menghormati, saling memuliakan. Bukan sekadar ucapan sopan, melainkan perjanjian batin antarmanusia untuk hidup dengan saling mengangkat, bukan saling menjatuhkan.

Di Sulawesi Barat, kata ini bukan sekadar istilah lokal. Ia adalah napas kebersamaan, visi masyarakat, dan simbol harga diri yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kemuliaan yang terkandung di dalamnya telah menjadi fondasi hubungan sosial orang Mandar sejak dahulu kala: menghormati tamu, menjaga nama baik keluarga, menepati janji, dan menempatkan orang lain pada posisi yang semestinya.

Namun, dalam arus modernitas yang deras, kata-kata warisan sering kali tergerus. Banyak istilah luhur perlahan memudar, hanya tersisa di lembar kamus atau di bibir orang tua di beranda rumah panggung. Di saat itulah, seorang tokoh muncul, memungut kembali mutiara yang nyaris tenggelam itu, membersihkannya, lalu menempatkannya di mahkota identitas Sulawesi Barat. Dialah Husni Djamaluddin—budayawan, tokoh Sulbar, dan Panglima Puisi.

Husni bukan sekadar penutur kata; ia adalah pengembara makna. Dalam dirinya, malaqbiq menemukan tubuh dan suara. Ia menghidupkannya melalui puisi, pidato, dan tindakan. Bagi Husni, kata ini bukan hanya konsep linguistik, melainkan sikap hidup yang harus dihayati dan diamalkan. Malaqbiq berarti memuliakan orang lain tanpa mengurangi harga diri sendiri, berdiri tegak dengan kehormatan, sekaligus membungkuk rendah untuk menghargai.

Sebagai Panglima Puisi, Husni memimpin tanpa pasukan bersenjata; ia berbaris bersama bait-bait, larik-larik, dan diksi yang memanggil nurani. Puisinya adalah medan tempat nilai-nilai luhur diperjuangkan. Dalam setiap karya, ia menyelipkan pesan bahwa kemuliaan bukanlah hasil pemberian, melainkan buah dari budi pekerti. Dan budi pekerti, sebagaimana ia ajarkan, tumbuh dari kesadaran untuk saling mengangkat derajat satu sama lain.

Untuk menguatkan pembaca pada aura puisi Husni, berikut sebuah kutipan karya beliau yang menggambarkan bagaimana ia membingkai realita alam menjadi refleksi kemanusiaan yang tajam:

laut mengirim ikan
lewat perahu-perahu nelayan
laut dijamu lumpur
dan segala kotoran sungai
laut mengirim mutiara
jadi permata mahkota
laut menerima sisa-sisa
dari perut kota
dan laut tetap menggunung cintanya
dalam gelombang rindu
laut setia mengirim ombak
ke pantai-pantai
ombak ditolak
di tepi pantai
laut ditolak
tepinya sendiri

Puisi ini—Laut—menjadi metafora kuat bahwa kemuliaan adalah memberi tanpa pamrih, tetap teguh, meski sering ditolak oleh tepian yang tak tahu menghargai. Sama seperti malaqbiq, ia bersinar dalam keikhlasan, meski kadang dilupakan.

Dari tangan dan pikirannya, malaqbiq menjelma menjadi visi masyarakat Sulawesi Barat. Ia mendorong agar kata ini bukan hanya dihafal, tetapi dijadikan kompas moral. Pemimpin, pedagang, guru, petani, nelayan—semua diajak berjalan di jalan malaqbiq. Jalan yang mungkin sunyi dari gemerlap, tetapi terangnya menuntun manusia sampai pada tujuan yang hakiki: kehidupan yang saling memuliakan.

Kini, malaqbiq bukan hanya bagian dari kosakata Mandar. Ia telah menjadi semacam identitas budaya Sulbar—bukan sebagai slogan, tetapi nilai yang hidup dan diwariskan. Dalam pertemuan adat, forum formal, hingga panggung sastra, kata itu bergema, mengingatkan setiap orang bahwa mereka adalah pewaris kemuliaan.

Namun, lebih dari itu, malaqbiq adalah pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi rumah nilai. Jika rumah itu kita rawat, ia akan melindungi; jika kita abaikan, ia akan runtuh. Husni Djamaluddin telah menunjukkan bahwa satu kata mampu membangun kembali rumah itu—asal ada tekad, cinta, dan kesetiaan pada akar budaya.

Dan begitulah, di tanah Sulawesi Barat, malaqbiq berjalan kembali di antara manusia. Ia hadir di sapa-senyum pasar, di langkah pemimpin yang merakyat, di doa orang tua untuk anaknya, dan di puisi yang dibacakan Panglima Puisi dengan suara yang membalut jiwa. Kata itu telah menemukan tempatnya: di hati yang memuliakan.

Dan di sinilah Husni berdiri, seperti mata air yang tak pernah kering, mengalirkan kemuliaan dari kata menjadi laku, dari laku menjadi gerakan, dari gerakan menjadi identitas. Di matanya, setiap anak Sulawesi Barat adalah pewaris kemuliaan ini. Di tangannya, kata malaqbiq menjadi benih yang ditanam di hati masyarakat, tumbuh menjadi pohon yang akarnya menembus bumi adat, batangnya menjulang di langit cita-cita, dan buahnya adalah kemuliaan yang dapat dipetik oleh siapa saja. Dalam langkahnya, ia menunjukkan bahwa memuliakan orang lain adalah cara paling mulia untuk memuliakan diri sendiri. Dalam suaranya, ia meyakinkan bahwa malaqbiq bukan sekadar warisan, tetapi masa depan yang harus terus dijaga. Dan dalam hidupnya, ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati adalah ketika nama kita dikenang bukan karena apa yang kita miliki, tetapi karena bagaimana kita memuliakan sesama.