“Di tengah pencakar langit New York, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan oleh seorang pemuda dari Takalar, Sulawesi Selatan.”
DI tengah gemerlap lampu kota dan deretan gedung pencakar langit di New York City, gema ayat suci Al-Qur’an mengalun merdu dari sebuah masjid komunitas Muslim. Yang melantunkannya bukan imam dari Timur Tengah atau Asia Selatan, melainkan seorang pemuda dari Sulawesi Selatan, Indonesia.
Dia adalah Humaidi Hatta, pemuda asal Kabupaten Takalar yang dipercaya menjadi imam salat Tarawih selama bulan Ramadan di Jamaica Muslim Center, salah satu pusat kegiatan umat Islam di New York, Amerika Serikat.
Kehadirannya membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga Sulawesi Selatan. Setiap malam, ia memimpin salat Tarawih bagi jamaah yang berasal dari berbagai negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan Indonesia.
“Di sini masyarakat sangat menyukai imam dari Indonesia. Mereka menganggap bacaan kita memiliki nada yang merdu dan menyentuh hati,” ujar Humaidi.
Tantangan Menjadi Imam Ramadan di Amerika
Menjadi imam di Amerika memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan di Indonesia.
Jika di tanah air salat Tarawih biasanya menggunakan bacaan ayat pendek, di Jamaica Muslim Center setiap rakaat dapat mencapai satu halaman penuh Al-Qur’an. Tradisi ini membuat salat berlangsung lebih panjang dan menjadi pengalaman spiritual yang mendalam bagi jamaah.
Meski demikian, Humaidi merasa sangat dihargai oleh komunitas Muslim setempat. Selama berada di New York, pihak masjid menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari apartemen hingga kebutuhan harian.
Menurutnya, berdakwah di luar negeri tidak hanya soal kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga tentang sikap.
“Yang paling penting adalah niat karena Allah, menjaga kualitas hafalan, serta memiliki sifat tawadhu dan murah senyum kepada siapa saja,” tuturnya.
Membawa Nama Takalar ke Dunia
Selain berdakwah, Humaidi juga dikenal sebagai pengelola Pondok Pesantren Tafsirul Qur’an Al Imam Al Jazari di Takalar, sekitar 40 kilometer dari Makassar.
Ia berharap pengalamannya menjadi imam Tarawih di New York dapat menginspirasi generasi muda di Sulawesi untuk semakin mencintai Al-Qur’an dan menekuni ilmu agama.
Selama Ramadan di Amerika, aktivitas dakwahnya juga ia dokumentasikan melalui kanal YouTube Humaidi Hatta Official agar keluarga dan para santri di Indonesia dapat mengikuti perjalanan spiritualnya dari jauh.
Bagi Humaidi, kisah ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an mampu membawa seseorang melangkah jauh hingga ke berbagai penjuru dunia, selama dijalani dengan dedikasi, disiplin, dan keikhlasan.
Sumber Kanal Youtube mandarnesia










