MANDARNESIA.COM – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh berhasil mencatat angka partisipasi pemilu yang membanggakan, mencapai 87,01%, jauh melampaui target nasional.
Keberhasilan ini terungkap dalam Podcast KPU RI edisi khusus “Parmas” yang menghadirkan Ketua KIP Aceh, Agusni Aha, sebagai narasumber, Rabu (21/5/2025).
Dalam diskusi tersebut, Agusni Aha menyoroti beberapa faktor kunci yang menjadi penentu tingginya angka partisipasi di Bumi Serambi Mekkah. Salah satu strategi utama adalah pemanfaatan kearifan lokal dalam setiap upaya sosialisasi.
“Kami menggunakan pendekatan bahasa sesuai dengan tiga rumpun bahasa utama di Aceh, yaitu Aceh Melayu, Aceh Gayu, dan Aceh pesisir,” jelas Agusni. Selain itu, pemberdayaan penyelenggara setempat untuk berkomunikasi langsung dengan warga serta pendekatan keagamaan melalui rumah ibadah juga menjadi sarana yang sangat efektif.
Demografi pemilih di Aceh menunjukkan adanya partisipasi pemilih pemula yang tinggi, dengan dominasi kaum perempuan yang lebih aktif dibandingkan laki-laki. Untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat, KIP Aceh menerapkan beragam strategi sosialisasi, di antaranya:
Melibatkan Tokoh Agama dan Fasilitas Umum: Sosialisasi dilakukan di masjid dengan melibatkan tokoh agama serta memanfaatkan kantor kepala desa sebagai pusat informasi.
Program “MUP” (Merepet): Sebuah program sosialisasi intensif dan berulang menggunakan armada keliling di tingkat kabupaten/kota dan provinsi.
Sosialisasi di Sekolah: KIP Aceh aktif menjadi inspektur upacara di sekolah-sekolah dan mengadakan pelatihan kepemiluan yang melibatkan siswa dan guru.
Souvenir Maskot: Penggunaan maskot lokal berupa burung Cempala Kuning yang sangat diminati masyarakat terbukti menjadi daya tarik tersendiri.
Pendekatan Informal: Interaksi langsung dengan masyarakat di warung kopi juga menjadi bagian dari upaya pendekatan yang efektif.
Meskipun angka partisipasi tinggi, KIP Aceh juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah dalam memastikan pemilih pemula benar-benar memahami informasi yang disampaikan, meskipun sudah diundang ke acara sosialisasi.
“Kami mengatasinya dengan interaksi langsung dan melibatkan mereka di atas panggung,” terang Agusni. Selain itu, efektivitas media sosial dinilai masih kalah dibandingkan tatap muka langsung dalam meyakinkan pemilih untuk datang ke TPS. “Tatap muka membangun keyakinan dan memunculkan pertanyaan yang mungkin tidak muncul di media sosial,” tambahnya. (WM)