Transformasi Kepramukaan dan Visi Indonesia Digital 2045

oleh
oleh

Itu adalah evolusi natural dari pembinaan dan kepemimpinan dalam kepramukaan. Gudep tidak lagi cukup menjadi wadah Pemimpin yang baik secara offline, tetapi juga online. Pembina tak lagi hanya memiliki keterampilan survival di alam, tetapi juga literasi digital untuk bertahan di era informasi.

Dari gugus depan kita dapat memulai program Digital Detox Camp, misalnya dimana peserta harus menyerahkan gadget mereka selama kegiatan. Tetapi ini tidak dimaksudkan untuk melarang menggunakan teknologi secara total, tetapi mereka diajarkan cara menggunakan aplikasi astronomi untuk mengamati bintang, atau aplikasi identifikasi tanaman untuk mengenal flora lokal. Penulis yakin anak-anak tidak akan merasa dicabut dari dunia digitalnya, tetapi justru sedang mengalami cara akan belajar menggunakan teknologi sebagai jendela untuk lebih mengenal alam.

Jalan menuju Ready for Life tentu tidak mulus. Indonesia menghadapi tantangan digital divide yang masih lebar. Bagaimana mungkin berbicara tentang kesiapan digital ketika masih ada daerah yang belum terjangkau internet? Bagaimana mungkin mengajarkan digital wisdom kepada pembina yang masih gaptek?

Kita pun tidak boleh membiarkan bila ada seorang Pembina Pramuka yang telah mengabdi puluhan tahun tiba-tiba merasa ketinggalan ketika anak-anak asuhnya lebih paham teknologi daripada dirinya. Karena yang harus disadarinya hal terpenting bukanlah menguasai teknologi terbaru, tetapi selalu mengenai kemampuan membimbing anak-anak menggunakan teknologi tersebut secara bijak.

Inilah yang menarik dari pendekatan Ready for Life. Tagline ini tidak menuntut kita untuk menjadi ahli teknologi, tetapi menjadi manusia yang siap beradaptasi. Seorang pembina atau Pelatih Pembina tidak harus bisa ahli coding, namun dia harus bisa mengajarkan problem solving. Pembina-Pelatih tidak pula mesti menguasai semua platform media sosial, tetapi harus memahami pentingnya digital ethics.

Kepramukaan Indonesia mulai lebih mengembangkan strategi kreatif melalui program Reverse Mentoring” dimana peserta didik makin mendalami dan memiliki kemampuan menguasai teknologi, sementara pembina membiaskan wisdom atau nilai kearifan lokal sebagai pengalaman hidup. Atau, bisa pula model Rural-Urban Exchange dimana Pramuka dari kota diajak ke desa untuk belajar keterampilan tradisional, sementara anak-anak muda di desa menerima pengetahuan mengenai eksposur teknologi.

Hal lain yang sering terlupakan dalam diskusi tentang era digital adalah dimensi spiritual. Tagline Ready for Life tidak hanya berbicara tentang kesiapan teknis atau intelektual, tetapi juga kesiapan emosional dan spiritual. Di tengah hiruk pikuk dunia digital yang serba instan, kepramukaan menawarkan momen-momen keheningan, kontemplasi dan refleksi.

Peserta didik yang terbiasa dengan gratifikasi instan dari media sosial, belajar kesabaran saat mendaki gunung atau menjelajah. Mereka yang terbiasa dengan komunikasi virtual akan merasakan kehangatan persahabatan sejati di sekitar jajar perkemahan. Mereka yang sibuk bersosialisasi di storygram atau Reels diberi momentum bakti sosial yang ril di ruang publik, ini akan menjadi nilai-nilai yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun.

Di era yang serba tidak pasti dan cepat ini, Kepramukaan harus hadir sebagai jangkar yang merentang stabilitas pendidikan di luar halaman sekolah. Bukan zona nyaman yang statis, melainkan kondisi dalam bentuk nilai-nilai dasar yang konsisten di tengah perubahan eksternal. Kita memiliki Tri Satya dan Dasa Dharma menjadi kompas moral di era post-truth. Sistem Among pun tetap menjadi model kepemimpinan yang relevan di era kolaborasi digital.

Seorang tokoh bercerita bagaimana pengalamannya di Pramuka membantunya menghadapi ketidakpastian, dan godaan material dalam pekerjaannya. “Pramuka mengajariku bahwa yang terpenting bukan menghindari tantangan, tetapi siap menghadapinya,” katanya.

Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan. Visi Indonesia Digital 2045 menempatkan transformasi digital sebagai salah satu pilar utama. Dalam konteks ini, kepramukaan memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga berkarakter.

Sekali lagi, bayangkan jika 27 juta anggota Gerakan Pramuka Indonesia benar-benar Ready for Life dalam arti sesungguhnya. Mereka akan menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Pancasila ke dalam era digital. Mereka akan menjadi leader-leader yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berintegritas. Mereka akan menjadi entrepreneur-entrepreneur yang tidak hanya profit-oriented, tetapi juga socially responsible.