Selamat Jalan Puang Jenderal

oleh
oleh

Oleh Adi Arwan Alimin (Biografer)

Pagi ini, Makassar menjadi saksi dari satu kabar duka yang mengguncang Sulawesi Barat dan banyak lingkar pengabdian di Indonesia. Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga, Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2025–2030, berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

JSM wafat setelah menjalani perawatan medis, meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tak bisa diringkas hanya dalam jabatan dan pangkat. Kabar ini amat cepat beredar, penulis membacanya dalam WA Pejuang Sulbar. Tetiba serasa ada ruang bergerak hampa.

Bagi banyak orang, sosok Salim Mengga adalah nama yang teduh, tegas, dan tidak berisik. JSM bukan figur yang gemar panggung, tetapi selalu hadir ketika negara dan masyarakat memerlukan ketegasannya yang berpadu dengan kebijaksanaan.

Dari Mandar, ke Jalan Panjang Militer

Salim S. Mengga lahir dan tumbuh dari rahim budaya Mandar—budaya pesisir yang keras oleh ombak, tetapi halus oleh etika. Dari sanalah watak kepemimpinannya ditempa: disiplin, lugas, dan memegang teguh kehormatan.

Pendidikan militernya di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) membuka jalan panjang di dunia kemiliteran. JSM memilih jalan pengabdian yang penuh risiko dan tuntutan, meniti karier dari bawah hingga mencapai pangkat Mayor Jenderal TNI. Jabatan strategis, termasuk sebagai Panglima Kodam XV/Pattimura, diemban dengan reputasi profesional dan kemampuan manajerial yang kuat.

Di lingkungan militer, ia dikenal bukan hanya sebagai komandan, tetapi juga sebagai pendengar. Tegas dalam prinsip, namun tidak kehilangan empati kepada anak buah dan masyarakat sipil di wilayah tugasnya.

Setelah purna tugas dari militer, Salim Mengga tidak memilih jalan istirahat. Tetapi justru memasuki ruang baru: politik dan parlemen. Terpilih sebagai Anggota DPR RI, JSM pun membawa etos militer ke dalam kerja legislasi—kerja yang rapi, terukur, dan minim retorika kosong.

Di Senayan, JSM lebih dikenal karena kerja-kerja substantif ketimbang manuver politik. Isu pertahanan, kebijakan strategis negara, dan kepentingan daerah menjadi fokus utamanya. Jarang mencari sorotan, tetapi konsisten hadir dalam ruang-ruang penting pengambilan keputusan.

Wakil Gubernur di Masa Transisi Daerah

Puncak pengabdian sipilnya datang ketika masyarakat Sulawesi Barat mempercayainya sebagai Wakil Gubernur periode 2025–2030, mendampingi Gubernur Suhardi Duka. Penugasan ini datang di masa yang tidak ringan: Sulbar berada dalam fase konsolidasi pembangunan, penguatan tata kelola, dan pemulihan sosial-ekonomi. JSM bahkan melewati dua Pilgub sebelum berpasangan dengan Suhardi Duka.

Sebagai wakil gubernur, Salim Mengga menjalankan peran dengan gaya khasnya: tidak banyak bicara, tetapi rajin turun ke lapangan. Ia hadir dalam urusan keamanan, pemerintahan desa, penanganan konflik sosial, hingga acara-acara duka masyarakat. Baginya, negara harus terasa hadir—bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui kehadiran manusiawi para pemimpinnya.

Di mata kolega dan masyarakat, Salim Mengga adalah figur yang menenangkan. Tidak mudah terseret emosi, tidak tergoda populisme, dan tidak gemar mengumbar janji. Keteguhan prinsipnya sering dibungkus dengan bahasa sederhana, membuatnya dihormati lintas generasi dan latar belakang.

JSM telah dikirim Allah sebagai contoh pemimpin yang lahir dari disiplin, tetapi tidak kehilangan nurani.

Warisan yang Ditinggalkan

Kepergian Jenderal Salim S. Mengga bukan sekadar kehilangan seorang wakil gubernur, melainkan kehilangan satu mata rantai penting dalam tradisi kepemimpinan yang bersih, tenang, dan berorientasi pada pengabdian. JSM maujud satu titik ekosistem keseimbangan sosial amat penting dua dekade terakhir di Mandar.

JSM meninggalkan keluarga yang berduka, kolega yang kehilangan rekan kerja yang setia, serta masyarakat yang kehilangan figur penjaga keseimbangan. Namun lebih dari itu, JSM meninggalkan teladan—bahwa kekuasaan adalah amanah, dan jabatan hanyalah alat untuk melayani. JSM tahu betul arti atau hakikat ini.

Di pagi yang sunyi, nama Salim Mengga berhenti berdetak sebagai manusia, tetapi akan terus hidup dalam ingatan sejarah Sulawesi Barat sebagai perwira negara yang tidak pernah benar-benar pensiun dari pengabdian. Grup-grup komunitas dan media sosial seperti merubungnya dalam ketidakrelaan melepas sosok baik hati ini.

Selamat jalan Puang Jenderal.
Negeri passemandaran ini telah mencatat langkahmu dengan hormat diantara Manusia Mandar paripurna. Kami berurai air mata mengantarmu pergi…

Mamuju, 31 Januari 2026