Oleh: Dr. Aco Musaddad HM., M.Ag., M.Si
Staf Ahli Bupati Polewali Mandar Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan.
Di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat dan sering kali pragmatis, kita membutuhkan sosok teladan yang mampu menjaga nilai di tengah kekuasaan. Salah satu tokoh Mandar yang meninggalkan jejak keteladanan tersebut adalah Salim S. Mengga—seorang birokrat, politisi, sekaligus ulama yang memadukan akal, etika, dan iman dalam pengabdiannya.
Salim S. Mengga bukan hanya figur yang pernah mengisi ruang-ruang struktural pemerintahan, tetapi pribadi yang menghidupkan makna kepemimpinan. Baginya, jabatan adalah amanah; kekuasaan adalah tanggung jawab; dan ilmu adalah cahaya yang harus menerangi kebijakan.
Sebagai birokrat, ia menunjukkan bahwa tata kelola pemerintahan tidak boleh terlepas dari integritas. Ia bekerja dengan disiplin, bersikap sederhana, dan menempatkan pelayanan publik sebagai tujuan utama. Dalam pandangannya, birokrasi bukan sekadar mesin administrasi, melainkan alat untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Dalam ranah politik, Salim S. Mengga hadir dengan wajah yang berbeda. Ia berpolitik dengan etika, berbicara dengan kehati-hatian, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan moral. Ia membuktikan bahwa politik tidak harus kehilangan nurani, dan kekuasaan tidak harus menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kebenaran. Politik, baginya, adalah jalan pengabdian untuk kemaslahatan umat.
Namun yang paling membekas adalah perannya sebagai ulama yang membumi. Dakwah dan nasihatnya tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir dalam sikap, kebijakan, dan keteladanan hidup. Ia memahami agama bukan sekadar teks, melainkan pedoman etis dalam mengelola kehidupan sosial dan pemerintahan. Inilah yang menjadikan kepemimpinannya sejuk dan dihormati lintas kalangan.
Salim S. Mengga mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan sejati adalah keseimbangan antara kekuatan intelektual, kematangan spiritual, dan keberpihakan kepada rakyat. Ia adalah contoh bahwa seorang tokoh daerah dapat berdiri teguh di tengah kompleksitas birokrasi dan politik tanpa kehilangan jati diri keulamaan.
Mengenang beliau berarti merawat ingatan kolektif kita tentang nilai-nilai luhur kepemimpinan Mandar: kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan keberanian moral. Warisan terbesarnya bukanlah jabatan yang pernah diemban, melainkan keteladanan yang layak dilanjutkan oleh generasi hari ini dan masa depan.
Di tengah tantangan pemerintahan modern, figur seperti Salim S. Mengga mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak hanya soal sistem dan regulasi, tetapi juga tentang karakter dan akhlak pemimpin. Nilai-nilai itulah yang menjadikan kepemimpinan bermakna dan dikenang.
Semoga jejak pengabdian beliau terus menginspirasi Tanah Mandar “Sulawesi Barat” dan menguatkan keyakinan kita bahwa kekuasaan yang berakar pada nilai akan selalu menemukan jalannya dalam sejarah.
Jejakmu akan menjadi penuntun bagi generasi di belakangmu Jenderal.







