Momentum kemunculan slogan Ready for Life dari WOSM bisa menjadi pemantik agar Pramuka dapat lebih memfokuskan dirinya sebagai wahana praktek nilai-nilai Manusia Pancasila secara nyata dan aplikatif. Misalnya, kegiatan perkemahan, proyek sosial, aksi lingkungan, dan tantangan berbasis komunitas dapat dirancang sedemikian rupa sehingga mendukung pencapaian kompetensi pelajar yang ditetapkan dalam kurikulum nasional. Agar Pramuka di sekolah bukan sekadar ekstrakurikuler pelengkap, tetapi benar-benar menjadi bagian integral dari pembentukan karakter dan kecakapan hidup pelajar Indonesia.

Sumber: https://pramukanews.id/
Salah satu tantangan besar Gerakan Pramuka adalah persepsi sebagian masyarakat, bahkan kalangan generasi muda yang menganggap kegiatan Pramuka sebagai sesuatu yang kuno, kaku, dan kurang relevan pada kehidupan yang kini serba digital dan modern. Meskipun secara keseluruhan hasil survei menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka masih relevan dan memiliki arti penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan potensi generasi muda Indonesia.
Sebenarnya, pengalaman belajar di Pramuka sebenarnya jauh dari monoton dan teoritis. Gerakan ini menawarkan metode pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berbasis pengembangan karakter yang riil. Slogan Ready for Life membuka peluang bagi Pramuka Indonesia untuk melakukan rebranding yang menyegarkan dari desain atribut, strategi komunikasi publik, hingga pemanfaatan media sosial dan platform digital untuk menjangkau generasi Z yang melek teknologi.
Kampanye digital kreatif yang mengangkat kisah inspiratif anggota Pramuka muda yang berdampak di masyarakat, vlog aktivitas lapangan, konten edukasi berbasis video, serta penggunaan teknologi augmented reality (AR) dan gamifikasi pengembangan keterampilan bisa menjadi pilihan inovatif. Pendekatan ini akan membuat Pramuka bukan hanya relevan, tetapi juga menarik di mata para remaja di era informasi saat ini.
Mengubah slogan dan identitas tentu bukan akhir, melainkan awal dari proses panjang yang membutuhkan serangkaian langkah konkrit di lapangan agar filosofi Ready for Life terwujud nyata. Uraian di bawah ini sejatinya dapat menjembatani perubahan tagline dalam pengembangan dan pembinaan kualitas anggota Gerakan Pramuka, antara lain:
Peningkatan Kapasitas Pembina dan Pelatih
Pelatihan pembina, seperti Kursus Mahir Dasar (KMD), Kursus Mahir Lanjutan (KML), dan Kursus Pelatih Dasar (KPD), harus mengalami pembaruan kurikulum yang fokus pada keterampilan fasilitasi, kepemimpinan partisipatif, dan penggunaan metode pembelajaran berbasis masalah nyata (problem-based learning). Pembina menjadi ujung tombak untuk mentransformasikan semangat baru ke dalam praktik pembelajaran anggota.
Kolaborasi Multi-sektor
Kepramukaan perlu semakin membuka ruang kerjasama dengan berbagai antara lain komunitas lokal, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah. Sinergi pentaheliks ini dapat melahirkan program pembangunan kapasitas berbasis konteks lokal yang unik dan menyesuaikan kebutuhan nyata masyarakat.
Evaluasi Berbasis Dampak
Indikator keberhasilan kepramukaan harus diperluas dari sekadar kuantitas kegiatan, atau jumlah keikutsertaan lomba, menjadi evaluasi dampak perubahan sikap, penguasaan keterampilan hidup, dan kontribusi sosial anggota muda. Monitoring dan evaluasi yang berbasis data ini akan memudahkan penajaman program secara berkelanjutan.
Gerakan global Scouts for SDGs (Sustainable Development Goals) menjadi salah satu contoh bagaimana kepramukaan mengintegrasikan nilai-nilai dan tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam aksi nyata anggota muda. Program ini mengajak anggota setiap Pramuka untuk aktif terlibat dalam proyek-proyek lingkungan, pendidikan, kemanusiaan, dan perdamaian, sekaligus meningkatkan kesadaran mereka terhadap isu global.
Di Indonesia sendiri, beberapa Kwartir Daerah telah mengembangkan inisiatif inovatif, seperti kegiatan ini menggabungkan petualangan alam, problem solving, dan tantangan sosial yang memikat hati generasi muda, sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran yang autentik dan aplikatif. Model seperti ini sangat ideal untuk diperluas serta dikembangkan dengan pendekatan berbeda sesuai lokasi dan kebutuhan peserta Pramuka di seluruh penjuru tanah air.
Ready for Life bukan hanya tagline baru WOSM, melainkan sinyal kuat bahwa gerakan kepramukaan global dan nasional perlu melakukan refleksi mendalam dan pembaruan paradigma. Dunia tidak lagi sama seperti dua puluh tahun lalu. Generasi muda menghadapi tantangan yang kompleks dan nyata, dan kepramukaan harus siap menjawabnya dengan solusi edukatif yang efektif dan relevan.
Gerakan Pramuka Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadikan slogan ini sebagai pendorong pembaruan visi, metode, dan pendekatan pembelajaran. Dengan membangun kapasitas pembina yang adaptif, melakukan kolaborasi lintas sektor yang produktif, serta memanfaatkan teknologi digital sebagai alat komunikasi dan edukasi, Pramuka bisa tampil sebagai contoh utama pendidikan karakter tak tergantikan yang komprehensif dan siap mengantarkan generasi muda menuju kehidupan lebih tangguh, kreatif, dan bermakna.
Apakah Gerakan Pramuka siap memanfaatkan momentum ini untuk mendidik generasi muda yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga siap menghadapi peta-pita kehidupan penuh integritas, keberanian, dan solidaritas? Jawabannya, pada cara kita menentukan relevansi dan keberlangsungannya dari setiap pangkalan gugus depan dan kantor kwartir.
Catatan ini ditulis untuk Hari Pramuka ke-64 pada 14 Agustus 2025. Agar setiap Pramuka lebih siap menghadapi kehidupan yang lebih nyata, dan terus memberi dampak positif bagi Indonesia. (*)












