Ready for Life, Evolusi Kepramukaan di Dunia Serba Cepat

oleh
oleh

Oleh: Adi Arwan Alimin (Pusdiklatda Sulawesi Barat/ Member ATAS Indonesia)

GERAKAN Pramuka telah menjadi bagian penting pendidikan karakter dan pengembangan generasi muda di Indonesia, kini menghadapi tantangan besar sekaligus peluang transformatif. Tahun 2024 menandai momen penting dalam sejarah kepramukaan dunia, ketika World Organization of the Scout Movement (WOSM) secara resmi mengganti slogan lamanya dari Creating a Better World menjadi tagline baru yang lebih kuat dan relevan, yakni Ready for Life.

Perubahan ini mencerminkan pergeseran paradigma yang penting dari fokus utamanya pada cita-cita kolektif membangun dunia ideal, menjadi penegasan pada pemberdayaan individual tiap anggota muda, agar siap menghadapi dinamika kehidupan nyata yang penuh ketidakpastian. Tulisan ini akan mengupas makna slogan baru tersebut, kaitannya dengan konteks global dan nasional, implikasi strategis bagi Gerakan Pramuka Indonesia, dan langkah implementasi yang diperlukan untuk menjadikan momentum ini sebagai katalis perubahan.

Selama lebih dari dua dekade, Creating a Better World mengusung semangat idealisme kepanduan, yakni menginspirasi para pemuda di dunia untuk bersama-sama berkontribusi demi masa depan yang lebih baik melalui nilai-nilai solidaritas, kerja sama, dan aksi sosial. Namun, dunia berubah begitu cepat. Disrupsi teknologi, krisis iklim global, pandemi COVID-19, konflik geopolitik hingga masalah kesehatan mental semakin menguji kesiapan dan ketangguhan generasi muda.

Sumber: https://pramukanews.id/

Pada konteks itu, Mei 2024, WOSM menetapkan Ready for Life sebagai slogan baru. Ini bukan sekadar perubahan nama atau strategi. WOSM, menyatakan slogan ini menggarisbawahi komitmen gerakan Pramuka untuk membekali para anggota muda dengan keterampilan hidup, ketahanan mental, dan nilai-nilai yang dibutuhkan agar menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berkontribusi aktif dalam masyarakat (WOSM, 2024).

Slogan ini menegaskan bahwa era sekarang menuntut kesiapan yang nyata dan konkret. Moto klasik Be Prepared yang selama ini menjadi jantung kepramukaan tetap relevan, namun maknanya diperluas agar tidak hanya bersifat sedia dalam menghadapi situasi darurat, melainkan kesiapan menyambut hidup dengan segala lika-likunya di abad ke-21. Filosofi ini menjembatani nilai kepramukaan tradisional dengan tantangan modern, seperti keterampilan digital, kepemimpinan sosial yang inklusif, hingga kreativitas dan inovasi.

Ready for Life melambangkan kesiapan hidup secara menyeluruh baik fisik, mental, emosional, dan sosial. Kepramukaan bukan hanya soal kemampuan bertahan hidup di alam bebas, tetapi bagaimana mempersiapkan generasi muda agar mampu menavigasi kehidupan nyata yang kompleks dan terus berubah, dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga era digital yang serba cepat.

Metode pendidikan kepramukaan yang berbasis pengalaman, pengembangan karakter, dan pembelajaran aktif sangat cocok untuk pembentukan kompetensi hidup yang holistik. Prinsip pembelajaran kontekstual yang kini banyak didukung dunia pendidikan nasional dan internasional sejalan dengan gagasan Ready for Life, bukan hanya transfer pengetahuan, tapi penguatan keterampilan praktis seperti pemecahan masalah, komunikasi efektif, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi.

Lebih jauh, filosofi ini juga menguatkan peran kepramukaan dalam membentuk identitas nasional dan global sekaligus. Sebagai gerakan inklusif yang menghargai keberagaman suku, agama, dan budaya, Pramuka menumbuhkan rasa solidaritas dan empati, kemampuan yang sangat penting di tengah era globalisasi dan pergeseran nilai sosial.

Data dari berbagai sumber menggambarkan bahwa generasi muda Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Survei Katadata Insight Center (2023) menyatakan hanya 37% dari remaja merasa siap mandiri menghadapi masa depan, sementara tekanan digital, krisis identitas, pengangguran, hingga isu kesehatan mental semakin intens.

Dalam konteks itulah, posisi Gerakan Pramuka menjadi sangat strategis. Sebagai lembaga pendidikan nonformal yang sudah mengakar kuat di Indonesia, Pramuka memiliki potensi besar untuk menjadi ruang latihan keterampilan hidup nyata yang relevan dan kontekstual. Transformasi makna kepramukaan yang diwakili oleh slogan Ready for Life memberi sinyal untuk tidak hanya mengandalkan rutinitas kegiatan tradisional, melainkan merevitalisasi fokus pada pemberdayaan individu muda supaya bisa mandiri, resilien, kreatif, dan memiliki karakter kepemimpinan yang inklusif.

Gerakan Pramuka sebagai ekosistem pembelajaran informal dapat mengisi kekosongan pengembangan soft skills yang kerap kurang mendapat porsi dalam pendidikan formal. Mulai dari kemampuan komunikasi, kepemimpinan partisipatif, pemecahan masalah kompleks, hingga kesadaran digital dan literasi teknologi merupakan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini dan masa depan.