Ketika Nalar dan Nurani Dikhianati: Fantasi Sedarah di Zaman Digital

Oleh: Muliadi Saleh

Di sebuah sudut kelam dunia maya, lahirlah kabar yang menyesakkan dada: muncul sebuah grup di Facebook bernama Fantasi Sedarah. Grup ini tidak sekadar berisi tulisan-tulisan menyimpang, melainkan pengakuan terbuka, fantasi, bahkan hasrat sesat terhadap hubungan inses—hubungan seksual antar anggota keluarga sedarah. Grup itu viral, dibicarakan publik, membuat media geger, dan akhirnya ditutup. Tapi jejak yang ditinggalkannya tidak semudah itu terhapus. Ia meninggalkan luka, menyisakan tanya, dan mengguncang kepercayaan kita pada nalar dan nurani bangsa.

Bagaimana mungkin fantasi menyimpang ini tumbuh subur di ruang yang kita sebut “negara religius”, di mana adat, norma, dan agama mestinya menjadi benteng? Bagaimana mungkin penyimpangan sedalam ini mendapat ruang, bahkan komunitas, di tengah masyarakat kita yang katanya menjunjung tinggi nilai keluarga? Apakah ini sekadar gangguan mental satu dua orang? Atau ini gejala sosial yang lebih dalam?

Fenomena ini bukan hanya soal perilaku menyimpang. Ia adalah tanda bahwa ada yang sedang sakit dalam tubuh masyarakat kita. Bahwa ada kekosongan dalam pendidikan rumah, ada kekeliruan dalam literasi digital, dan ada kegagalan dalam menanamkan nilai moral secara konsisten. Dunia maya memang telah memberi ruang kepada siapa saja untuk mengekspresikan diri, tapi ia juga menjadi medan bebas di mana batas-batas akhlak kian kabur. Dalam sunyi dan kesendirian, orang-orang dengan kelainan moral dapat saling menemukan, saling menguatkan, bahkan saling menormalisasi dosa.

Ketika rumah kehilangan fungsinya sebagai madrasah pertama, ketika orang tua lebih sibuk dengan pekerjaan dan gawai daripada mendidik jiwa anak, ketika agama hanya menjadi seremonial bukan spirit hidup, maka lubang gelap semacam ini bisa lahir. Bahkan di antara kita. Bahkan di ruang tamu digital yang kita kunjungi setiap hari.

Ada apa dengan masyarakat kita? Mengapa fantasi seperti ini bisa muncul secara terang-terangan di media sosial? Jawabannya bisa jadi sederhana sekaligus menakutkan: karena banyak dari kita sudah tidak lagi merasa berdosa saat berbuat dosa. Karena ruang-ruang moral yang dulu dijaga bersama—seperti keluarga, sekolah, dan masjid—kini mulai ditinggalkan. Karena algoritma media sosial lebih mendorong konten ekstrem daripada konten reflektif. Karena kita membiarkan anak-anak tumbuh tanpa pendampingan jiwa, dan menyerahkan pendidikan mereka kepada mesin pencari dan konten viral.

Kasus seperti ini bukan yang pertama. Di berbagai daerah, kita sudah mendengar kabar inses terjadi secara nyata, tidak hanya dalam fantasi. Ada ayah yang memperkosa anaknya, kakak yang mencabuli adik kandungnya, paman yang merusak keponakannya. Dan yang lebih memilukan: sebagian dari pelaku merasa itu bukan dosa, hanya sekadar “kesempatan” atau “kecelakaan”. Ketika rasa malu telah mati, ketika rasa takut kepada Tuhan tak lagi ada, maka yang tertinggal hanyalah hasrat liar dan tubuh-tubuh rusak yang kehilangan ruh.

Agama, dalam hal ini, bersikap sangat jelas dan tegas. Dalam Islam, inses termasuk dosa besar. Dalam Al-Qur’an disebutkan larangan mendekati zina, apalagi zina terhadap mahram. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang berzina dengan mahramnya, maka Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat.” Ini bukan sekadar pelanggaran moral. Ini penghinaan terhadap kemanusiaan. Ini penistaan terhadap fitrah dan martabat.

Inses bukan sekadar kejahatan seksual, tapi bentuk kekerasan struktural yang terjadi ketika relasi kuasa tidak diawasi dan ketika ruang keluarga gagal menghadirkan perlindungan. Maka penyelesaian masalah ini bukan hanya dengan menutup grup atau memenjarakan pelaku, tetapi dengan membangun kembali benteng sosial dan spiritual yang telah runtuh.

Kita harus memulihkan makna rumah sebagai tempat belajar tentang kasih sayang dan batas. Kita harus mendidik anak-anak dengan pemahaman tubuh yang suci, bukan hanya menakut-nakuti dengan neraka, tapi menjelaskan keindahan menjaga diri. Kita butuh pendidikan seksualitas yang berbasis nilai, bukan yang bebas tanpa arah. Kita butuh literasi digital yang berkeadaban, bukan hanya melek teknologi tetapi juga bijak dan berani menolak konten menyimpang.

Yang paling penting: kita harus menghidupkan kembali cahaya ruhani dalam kehidupan berbangsa. Bukan hanya di rumah-rumah ibadah, tapi juga di ruang-ruang daring. Di platform yang kini menjadi ruang publik utama anak-anak kita. Karena jika kita tidak hadir di sana, maka iblis dan algoritma akan mendidik mereka.

Viralnya grup Fantasi Sedarah adalah tamparan keras bagi bangsa ini. Tapi ia juga bisa menjadi awal kesadaran baru. Bahwa kita harus kembali kepada nilai. Bahwa kita harus merawat fitrah. Bahwa kita tidak bisa membiarkan dunia maya menjadi hutan liar yang menumbuhkan penyakit jiwa.

Ini bukan soal siapa yang salah. Tapi soal siapa yang mau bangkit. Mari kita jaga rumah. Mari kita jaga anak-anak. Mari kita jaga hati dan marwah diri, agama dan bangsa. Wallahu A’lamu Bissawaab.


Muliadi Saleh, Penulis, pemerhati sosial, penggerak literasi, dan kebudayaan. Tinggal di Makassar.
“Menulis Untuk Menginspirasi, Mencerahkan dan Menggerakkan Peradaban”