Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Di sebuah video yang beredar di media sosial, tampak seorang perempuan—seorang sopir—memberhentikan mobilnya sejenak. Ia turun tanpa banyak kata. Tasnya yang lusuh tergantung di sisi kursi, sunyi, seolah menceritakan kisah panjang tentang perjalanan sang sopir. Para penumpang memperhatikan. Lalu sesuatu yang sederhana namun langka terjadi. Seorang penumpang mengambil tas itu, mengedarkannya bak ‘kotak amal’, dan tanpa komando, tanpa seruan identitas, tangan-tangan lain tergerak. Uang mengaMulialir. Tidak spektakuler, tetapi cukup untuk membuat tas hampir penuh.
Ketika sang sopir kembali dan mendapati tasnya berpindah tangan, ia kaget karena tak melihat tasnya tergantung. Ia mencarinya. Pandangannya mengarah ke penumpang. Seseorang yang memegang tasnya dan menyerahkan ke sopir menjelaskan. Ini bantuan ikhlas dari kami. Sang sopir wanita itu tak sanggup memahan isaknya membuat matanya basah. Ia menangis, bukan semata karena uang, melainkan karena menemukan kembali wajah kemanusiaan yang sering terasa jauh. Semakin kencang suara isakan sang sopir semakin keras juga suara tepuk tangan bahagia dan dukungan dari penumpang sambil menemukan bahu sang sopir.
Video seperti ini bukan barang langka. Linimasa kita penuh dengan kisah kebaikan spontan. Orang menolong tanpa pamrih, berbagi tanpa syarat. Anehnya, kita sering menikmati tontonan itu dengan haru, tetapi jarang menjadikannya laku nyata. Empati kita berhenti di layar. Ia menghangatkan perasaan, namun tak selalu menggerakkan tindakan.
Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai empathy gap—kesenjangan antara rasa simpati dan tindakan konkret. Media sosial, dengan kekuatan visual dan naratifnya, mampu membangkitkan emosi dengan cepat. Namun emosi digital sering bersifat sesaat. Kita tersentuh, memberi tanda suka, lalu melanjutkan hidup tanpa perubahan perilaku berarti. Empati menjadi konsumsi estetis, bukan energi etis.
Padahal dalam tradisi kemanusiaan—termasuk ajaran agama—empati bukan sekadar rasa, melainkan gerak. Ia menuntut praksis. Dalam Islam misalnya, konsep ihsan mengisyaratkan kebaikan yang melampaui kewajiban formal. Ia adalah tindakan yang lahir dari kesadaran spiritual bahwa manusia saling terhubung oleh martabat yang sama.
Mengapa kita lebih mudah tersentuh oleh video dibanding realitas di depan mata? Salah satunya karena jarak psikologis. Layar menciptakan ruang aman. Kita bisa merasa baik tanpa harus terlibat langsung. Sementara realitas menuntut keberanian—mengeluarkan waktu, tenaga, bahkan sebagian kenyamanan kita. Di sinilah empati menemukan titik uji. Apakah ia hanya sensasi emosional, atau komitmen moral.
Lebih jauh, budaya tontonan telah menggeser makna berbagi. Kebaikan kadang terasa sah bila terdokumentasi, viral, dan diapresiasi publik. Tanpa kamera, sebagian orang merasa tindakannya seolah tak berarti. Kita memasuki era di mana kebaikan berisiko menjadi performatif—dipentaskan, bukan dihidupi.
Namun video tentang sopir perempuan itu justru mengingatkan hal sebaliknya. Bahwa kebaikan paling murni sering lahir dari spontanitas, bukan perencanaan citra. Ia hadir ketika manusia melihat manusia lain, bukan labelnya. Tidak ada pertanyaan agama, suku, atau status ekonomi. Yang ada hanya kesadaran bahwa ia membutuhkan, dan saya bisa membantu.
Mungkin di sinilah refleksi penting bagi kita. Jangan sampai empati berhenti sebagai estetika perasaan. Ia perlu menjelma etika tindakan. Jika tidak, kita hanya menjadi penikmat kisah kebaikan, bukan pelaku.
Kemanusiaan sejatinya tidak tumbuh dari tontonan, tetapi dari kebiasaan kecil yang berulang . Menyapa, membantu, berbagi, mendengar. Ia tidak selalu heroik, tetapi selalu otentik. Dan justru dalam keheningan tindakan sehari-hari itulah martabat manusia terjaga.
Pada akhirnya, layar boleh saja menyentuh hati kita. Tetapi dunia nyata menunggu tangan kita. Sebab kemanusiaan bukan sekadar sesuatu yang kita rasakan—ia sesuatu yang harus kita lakukan.
_____
Muliadi Saleh : “Menulis Makna, Membangun”











