Oleh: Muliadi Saleh
KITA hidup di zaman ketika semua orang ingin terlihat. Terekam. Diabadikan. Dipuji. Disukai. Diviralkan. Wajah-wajah manusia kini tak lagi sekadar nyata, melainkan dirancang. Dunia bukan lagi ruang untuk berjalan, tapi panggung untuk tampil. Segalanya tentang citra—bagaimana dipandang, dinilai, dikenang.
Citra adalah bayangan tentang diri yang dipantulkan ke hadapan orang lain. Ia bisa disulap, dipoles, dimanipulasi. Lewat pencitraan, seseorang bisa tampak suci walau hatinya penuh iri. Bisa terlihat dermawan walau tangannya keriput karena menggenggam terlalu erat. Citra bisa menipu. Bisa membius. Bahkan bisa menjatuhkan.
Namun jati diri, ia tak bisa dibeli, tak bisa dibuat, dan tak bisa dimanipulasi. Jati diri adalah suara sunyi dari dalam hati. Ia tumbuh dari pengalaman, ujian, luka, cinta, pengorbanan, dan kejujuran. Ia tidak berisik, tidak haus panggung, namun menjadi kompas bagi laku dan makna.
Di dalam diri manusia, selalu ada tarik menarik antara ingin menjadi baik, dan ingin terlihat baik. Keduanya bisa sangat berbeda. Menjadi baik membutuhkan kesadaran dan kesabaran. Tapi terlihat baik, cukup dengan kamera dan caption. Menjadi baik adalah proses panjang mendaki nurani. Sedang terlihat baik, bisa diraih dengan sekedar impresi.
Kita tahu, di media sosial, banyak yang memamerkan kebaikan bukan untuk menebar inspirasi, tapi untuk membangun persepsi. Di ruang publik, banyak yang bicara keadilan, bukan untuk menegakkan, tapi untuk memenangkan pemilu. Di kantor-kantor, tak sedikit yang berwajah santun, tapi menusuk diam-diam demi promosi jabatan.
Citra adalah kulit. Jati diri adalah inti. Citra bisa berubah, tapi jati diri menentukan arah hidup kita. Mengapa manusia lebih sibuk membangun citra? Karena citra menawarkan kecepatan. Ia menjanjikan pujian tanpa harus jujur. Ia memberi panggung tanpa harus punya isi. Dan, di zaman yang terobsesi pada tampilan, kecepatan lebih dipuja daripada ketulusan.
Namun semua itu sementara. Citra bisa digeser, digantikan, bahkan dibunuh oleh citra yang lain. Hari ini seseorang diagungkan, esok bisa dibatalkan oleh satu isu, satu komentar, satu kesalahan. Karena yang diandalkan hanya persepsi, bukan integritas.
Jati diri tidak tumbuh dalam sorotan, melainkan dalam keheningan. Ia hadir ketika kita jujur pada rasa takut, jujur pada harapan, jujur pada mimpi yang gagal. Ia hadir dalam kesendirian, dalam sujud, dalam luka yang kita peluk tanpa perlu mengumbar. Jati diri adalah keberanian menjadi manusia, bukan ikon. Menjadi pejalan sunyi, bukan selebriti. Menjadi penyala lilin di gelap malam, bukan lampu yang hanya menyilaukan tapi tak menghangatkan.
Mari kita tengok mereka yang hidup dengan jati diri: Imam Bonjol, H.O.S. Cokroaminoto, Syekh Yusuf, atau bahkan orang tua kita di kampung—yang mungkin tak dikenal siapa-siapa, tapi jujur, setia, dan hidup dengan nilai. Mereka tak punya akun dengan jutaan pengikut, tapi dikenang oleh sejarah dan langit. Mereka mungkin miskin dalam citra, tapi kaya dalam makna. Karena mereka memilih membangun hidup, bukan sekadar membangun impresi.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Wahai manusia, Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Tak disebut gelar. Tak disebut jabatan. Tak disebut followers. Yang disebut adalah takwa—sebuah jati diri spiritual yang tak bisa dicitrakan.
Lantas, apa yang harus kita lakukan?
Pertama, berhenti hidup untuk mata orang lain. Kedua, jujurlah pada diri sendiri. Temukan apa yang benar-benar kita cintai, kita perjuangkan, dan kita yakini. Ketiga, jadikan citra sebagai pantulan dari jati diri, bukan pengganti. Biarkan dunia melihat kita sebagaimana kita adanya, bukan sebagaimana mereka inginkan.
Karena kelak, di ujung hidup ini, kita akan ditanya:
Bukan bagaimana kita terlihat, tapi bagaimana kita hidup.
Bukan apa pencitraan kita, tapi apa yang kita tinggalkan.
Bukan apa merek kita di dunia, tapi siapa kita di hadapan-Nya.
Dan semoga, yang tampak di dunia hanyalah bayangan dari jati diri yang utuh:
Hamba Allah yang tulus.
Manusia yang jujur.
Penyala cahaya bagi sesama.
Tentang Penulis:
Muliadi Saleh, penggagas Cinta Masjid Cinta Al-Qur’an (CMCA), alumnus Pesantren IMMIM, tinggal di Makassar. Aktif menulis opini, esai, dan artikel budaya.