Laporan: Ahnaf Faruq Adi
TEPUK tangan bergemuruh saat Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Barat, Mustari Mula, S.Sos., M.Adm.KP membuka kegiatan Pembekalan Lomba Resensi Buku di Aula Perpustakaan Provinsi Sulbar, Senin (25/5/2026).
Kegiatan ini diikuti siswa-siswi dari berbagai daerah di Sulawesi Barat, di antaranya Majene, Campalagian, Wonomulyo, dan Polewali.
“Dengan rahmat ALLAH SWT pembekalan Lomba Resensi Buku dibuka,” ujar Mustari Mula saat membuka kegiatan.
Saya mewakili SMP IT Wildan bersama lima teman lainnya, yaitu Asyam, Thalhah, Yudha, Rayhan, dan Rifaldy. Kami mengikuti lomba resensi dan hadir dalam pembekalan sebelum memasuki tahap II perlombaan.
Materi pertama disampaikan oleh Muhaimin Faisal dengan tema Menjadi Pembaca Kritis Melalui Resensi Buku. Dalam pemaparannya, Muhaimin menjelaskan enam bagian penting dalam resensi buku, yaitu judul resensi, identitas buku, pendahuluan, sinopsis, kelebihan buku, dan kekurangan buku.
Selanjutnya, Muhammad Ridwan Alimuddin atau yang akrab disapa Bung Iwan membawakan materi Seni Memilih Buku dari Membaca. Ada beberapa hal menarik yang ia sampaikan, terutama mengenai jebakan utama bagi pembaca pemula.
Menurutnya, ada tiga jebakan yang sering dialami pembaca. Pertama, membaca buku yang terlalu sulit atau di luar kapasitas berpikir. Kedua, membaca buku yang tidak relevan dengan kebutuhan. Ketiga, menjadi korban tren atau fear of missing out (FOMO).
Selain itu, Ridwan Alimuddin juga membagikan strategi dalam memilih buku, seperti menentukan tema, tingkat kesulitan dan tujuan membaca, meninjau buku sebelum membeli, serta menerapkan prinsip meninggalkan buku yang tidak perlu dilanjutkan.
Pemateri terakhir adalah Syafri Arifuddin yang lebih banyak membahas petunjuk teknis lomba. Penyampaiannya singkat, baik dalam naskah maupun video, tetapi tetap mudah dipahami oleh peserta.
Moderator kemudian membuka sesi diskusi. Peserta diberikan kesempatan bertanya kepada para narasumber. Pada sesi kedua, saya mengangkat tangan dan mendapat kesempatan bertanya.
“Apakah para narasumber memiliki tips agar saat kita membaca buku itu tidak gampang terdistraksi atau teralihkan oleh hal lain yang tidak penting?” tanyaku.
Dari jawaban para narasumber, saya menyimpulkan bahwa agar fokus membaca tetap terjaga, kita perlu menjauhkan barang-barang yang berpotensi mengganggu perhatian, seperti telepon genggam dan hal lainnya.
Setelah sesi ISHOMA, kami kembali ke tempat duduk masing-masing sambil menyantap makan siang yang disediakan panitia. Sambil menunggu pemateri kembali masuk, saya berbincang bersama teman-teman hingga akhirnya para narasumber kembali ke aula.
Kemudian Bung Iwan mengarahkan setiap perwakilan sekolah untuk memilih satu buku dan mereviewnya secara singkat. Saat diminta mencari buku, perhatian saya langsung tertuju pada buku 365 Hari di Tanah Mandar karya Adi Arwan Alimin.
Bung Iwan menyampaikan bahwa tiga peserta tercepat yang naik ke panggung untuk mereview buku akan mendapatkan hadiah. Tanpa ragu saya langsung maju, sementara Yudha mengambil video penampilan saya di atas panggung.
Setelah saya tampil, peserta dari sekolah lain juga maju mereview buku pilihan mereka. Ada yang menggunakan drama, bahkan ada yang berakting jatuh hingga membuat seluruh aula bergemuruh oleh tawa.
Panitia kemudian mengumumkan penerima doorprize bagi para penanya di tiga sesi diskusi. Saya mendapatkan buku SDK, Mendayung dari Hulu, sementara peserta lain memperoleh buku Jejak Panjang Kemenangan SDK-JSM.
Pengalaman ini sangat seru dan memberi saya banyak pelajaran tentang apa itu resensi buku. Selain itu, saya juga bertemu beberapa teman baru, meski sayangnya saya lupa nama mereka.
Kegiatan ini mengajarkan saya untuk tidak takut salah selama kita mau belajar dari kesalahan tersebut. (WM)












