“Sebuah Rasa” dari Kampus UMMI Sukabumi

oleh

Oleh Adi Arwan Alimin

Ruang pustaka yang dihuni ribuan judul buku itu menampung puluhan sahabat literasi se-Kota Sukabumi. Geliat Komunitas Penulis Perempuan kota ini ramai menghadiri samuh di bilik baca Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kamis (15/12) sore.

Sejatinya, ini Pelatihan Menulis Karya Tulis Ilmiah yang digelar Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMMI. Walakin, model diskusi kepenulisan berpola hybrid itu juga disertai soft launching buku antologi cerita pendek “Pada Sebuah Rasa” yang digagas KPPS, komunitas perempuan penulis yang sedang bertunas di Sukabumi.

“Terima kasih telah menghadiri acara ini, kita berharap karya tulis dari penulis fiksi dan nonfiksi di Sukabumi akan terus meningkat. Dan, acara pelatihan ini merupakan upaya kita untuk meningkatkan kualitas karya selanjutnya,” ujar Ketua Prodi PGSD UMMI, Dyah Lyesmaya, M.Pd yang juga menyumbang cerita pendeknya dalam antologi yang diluncurkan Kamis sore.

Pelatihan menulis berdurasi sekitar 120 menit itu dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kerarsipan Daerah Kota Sukabumi, Andri Setiawan. Alumni APDN yang malang melintang sebagai eselon II di Kota Sukabumi hadir sebagai pembedah karya sembilan cerpenis beragam tema ini.

“Pada ‘Sebuah Rasa’ adalah luapan perasaan yang bermacam-macam namun semuanya menggugah. Tema antologi tentang rasa diramu penulis untuk mengaduk-aduk perasaan pembaca,” ucap Andri yang tampil memakai ikat biru khas Sunda.

“Semua menuliskan cerita dalam antologi ini dengan hati dan diksi memukau. Membaca judul tiap judul, isi demi isi semuanya membuat kagum siapa yang membacanya. Ada yang bercerita tentang pengalaman, ada pula yang memadu rasa dalam kisah, menceritakan tentang keajaiban kehidupan juga mengambil latar tempat daerah. Sangat indah sekali kalimat yang tertulis,” ujar lelaki berkaca mata menggerai hasil bacaannya.

Mantan camat beberapa wilayah di Sukabumi itu pun membuka peluang bagi semua warga untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di kantornya bagi peningkatan gerakan literasi. Belasan ribu judul buku yang tersedia di perpustakaan daerah Sukabumi disebutnya akan mampu membantu upaya penulisan atau riset penulis.

Ratna Istianah yang menginisiasi penerbitan antologi ini mengatakan program KPPS itu merupakan usaha sungguh-sungguh untuk meningkatkan jumlah penulis dan kualitas karya dari Kota Sukabumi. Ratna menyebut, mendapat sambutan positif berbagai pihak atas gagasan peningkatan kualitas kepenulisan perempuan di Sukabumi.

“Potensi perempuan itu antara lain dari menulis, dan menerbitkan karya mereka ke publik. Kita akan mendorongnya melalui pelatihan atau diskusi kepenulisan yang intens, terutama dari kampus,” ujar alumni kampus UMMI.

Diskusi yang dipandu Nenden Hendarsih ini bermuara pada pentingnya menggali potensi yang dimiliki setiap orang dalam bidang kepenulisan. Nenden yang telah menerbitkan sejumlah buku tunggal ini turut memotivasi sahabat literasi Sukabumi saat memenuhi Muhammadiyah Corner.

Rembuk ide hingga jelang Maghrib ini beralas gairah agar minat pada dunia kepenulisan makin menebalkan proses kreatif di kota berpenduduk 321.097 jiwa (http://perkotaan.bpiw.pu.go.id) itu.

Merespons Puspa salah seorang peserta, saya menegasi pentingnya menjaga mood setiap kali seseorang mendapat ruang atau gagasan yang melintasi benaknya. “Merawat mood, dan ide itu dengan segera menyusun outlinenya sebanyak apa yang dapat dituliskan.”

Sebagai bagian dari keterampilan berbahasa menulis memerlukan latihan dan proses yang berkesinambungan. Proses kreatif ini dapat tumbuh dari diskusi, curah gagasan, dan pantang mundur menuangkannya dalam wujud tulisan.

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang dimulai.” Simpulan selama dari samuh kemarin: tulis, menulis, dan menulislah parapuan… (*)