Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.

Sasfira Anak Penderita Hidrosefalus di Malunda

MALUNDA, Mandarnesia.com- Sasfira (5), anak ketiga dari pasangan Sahrul (40) dan Saniaya (34), menderita penyakit Hidrosefalus sejak lahir.

Saat reporter media ini mengunjungi Sasfira, ia sedang asyik bermain dengan teman seusianya di lokasi BPDAS Persemaian Permanen, di Desa Mekkatta yang hanya beberapa meter dari Sekolah Polisi Negara (SPN) Mekkatta.

“Iye saya ibunya, Sasfira. Sekalian ke rumah saja ya,” kata Saniaya, ketika media ini memperkenalkan diri, Senin (25/2/2019).

Tiba di rumah Saniaya, tepatnya di Samping SPN Mekkatta, Dusun Saluwungo, Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), ia bercerita. Sejak lahir kata dia, kepala Sasfira memang besar.

Pada bagian belakang kepala Sasfira, ada semacam lubang. Melalui lubang itulah, kata dia, sering mengeluarkan cairan.

“Memang dokter yang menangani saat itu di RS. Regional Mamuju, menyarankan agar Sasfira dirujuk ke Makassar untuk menjalani operasi, tapi tidak ada biaya pak,” ujar Saniaya.

Padahal, sambung Saniaya, saat melakukan USG di Puskesmas Malunda, tidak ada kelainan.

“Saya USG ketika dokter anak datang, tapi tidak ada juga bilang kalau anak saya besar kepalanya. Makanya saya juga disesar, karena tidak bisa keluar,” tuturnya.

Saniaya juga menuturkan, saat ini hingga Sasfira masuk TK, tidak ada keluhan yang dialami. Makanya kata dia, meskipun sudah memiliki kartu BPJS namun dirinya enggan membawa ke dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan anaknya. Hanya saja, beberapa hari lalu kepalanya masih lembek. Tapi tidak lagi.

“Jangan sampai pergi dibawa periksa, saya disuruh dokter untuk operasi. Kemudian, kalau saya bawa pergi operasi, saya mau ambil dimana (uang). Memang betul tidak bayar biaya operasi, tapi biaya selama di rumah sakit untuk makan apa dan sebagainya mau cari di mana. Biaya makan sehari-hari saja tidak cukup,” kata Saniaya.

Sedangkan suami Saniaya, Sahrul, hanya jadi buruh bangunan. “Kalau tidak ada lagi yang panggil kerja, ya di rumah saja. Sedangkan saya di rumah saja kalau tidak ada lagi kerjaan koker bibit (Di BPDAS Persemaian Permanen),” ujarnya.

Ia berharap, semoga ada dermawan yang bisa memberikan bantuan untuk biaya kesembuhan anaknya kelak.

“Insya Allah akan ada juga rezekinya ini nanti anakku,” tutur Saniaya, sembari mencium-cium anaknya Sasfira.

“Memang waktu dilahirkan ada bantuan susu dari Generasi Sehat Cerdas. Hanya itu saja bantuan yang pernah kami terima. Tidak ada lagi,” sambungnya.

Kepala Desa Mekkatta Muhardi mengatakan, selaku pemerintah desa sudah mengusulkan keluarga Sahrul untuk mendapatkan BPJS bersubsidi.

“Hanya itu yang bisa kami berikan. Karena selama ini tidak ada juga keluhan yang disampaikan ke kami. Jadi kita juga serba salah,” kata Muhardi.

Terpisah Kepala Puskesmas Malunda, Hamka, ketika ditemui di rumahnya baru mengetahui setelah memperlihatkan foto Sasfira.

“Iyya ini penyakit Hidrosefalus¬†atau penimbunan cairan di kepala. Bisa saja itu nanti tambah-tambah besar. Jadi mata juga bisa mempengaruhi sehingga juling,” jelasnya.

Namun ia berjanji akan menindak lanjuti persoalan tersebut.

“Saya mau minta datanya itu. Sedangkan orang gangguan jiwa kita tindak lanjuti. Ada orang itu di Maliaya,” kata Hamka.

Ketfot: Saniaya ketika menggendong anaknya, Sasfira di kediamannya. Foto: Busriadi Bustamin

Reporter: Busriadi Bustamin

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: