Muslim Manusiawi

oleh
Oleh: Burhanuddin Hamal, Penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Tinambung

Tafsir Al-Misbah karangan M. Quraish Shihab menyajikan ulasan-ulasan keagamaan berstandar manusiawi, diantaranya :

(1) Tuntunan Al-Qur’an tidaklah bermaksud menjadikan hidup manusia beralih pada tataran kehidupan Malaikat yang sepenuhnya bebas dari kontaminasi hawa nafsu. Manusia adalah makhluk sosial yang kodratnya menjadi tempat kekhilafan, lalai dan salah. Meski begitu, manusia tak seharusnya melegitimasi kodrat tersebut lewat kesengajaan melakukan hal-hal yang tidak pantas. Disinilah hikmahnya Al-Qur’an diturunkan untuk mengingatkan manusia dari kelupaannya, memberikan nasehat pada ketidak-sadarannya dan menyelamatkan hidupnya dari jalan kesesatan.

(2) Mendirikan shalat merupakan istilah yang menginginkan ibadah tersebut dikerjakan secara seimbang dan bersinambungan. Karena itu, kewajiban shalat tak hanya dilihat dari aspek ritualnya melainkan sepaket dengan implementasi sosialnya (QS. Al-Ankabut: 45). Ketika dua sisi penting dari ibadah shalat tersebut mengalami ketidak-seimbangan maka pijakan dasar kemusliman yakni hablun minallah wa hablun minannas (eksistensi diri yang mensinergikan antara hubungan vertikal dan horisontal) pasti gagal dalam realitas. Keutamaan ini justru termuat dalam QS. Ali Imran: 112.

(3) Dalam hal zakat, sedekah dan semacamnya, Al-Qur’an juga tak memberi penekanan agar kita melakukannya secara berlebihan atau melampaui batas. Tak perlu sampai memberi yang paling disukai tapi jangan pula memberikan sesuatu yang berkategori buruk atau yang sama sekali tak bernilai dalam pandangan kita sendiri. Hal ini dimaksudkan karena Tuhan memang menjadikan kita sebagai makhluk berstandarisasi manusia, yang meskipun tetap harus memotivasi diri dalam prinsip “fastabiqul khairat” (pemberdayaan kehidupan menuju hal-hal yang lebih baik).

Jeratan ketidak-sadaran atau kejahatan dalam bentuk apapun yang terjadi di berbagai sisi-sisi kehidupan manusia, pada intinya harus berahir dalam “sujud-sujud pertobatan” demi menjernihkan fitrah diri kembali.

Usikum wanafsi bitaqwallah, Wallahu a’lam bissawab.

Foto Ilustasi: MalangTIMES