Sebuah Catatan Pascakegiatan
Feature: Ahnaf Faruq Adi (Siswa SMPIT Wildan)
“Jadi dengan ini kami nyatakan dibukanya sosialisasi sekolah lapang iklim, Duk, Duk,” jelas H. Zulkifli Manggasali, SE., M.Si., Kadis DLHK Sulbar.
Zulkifli Manggasali resmi membuka sosialisasi Sekolah Lapangan Iklim (SLI) di aula Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI). Saya adalah salah satu peserta terpilih dari total 80 orang yang ditunjuk mewakili kelas masing-masing. Acara ini terlaksana pada Rabu-Kamis, 18-19 Mei 2026.
40 siswa putra dan 40 siswa putri, sebuah angka yang cukup banyak untuk acara sekolah lapangan tentang lingkungan dan iklim.
Materi tidak langsung dimulai, para peserta diarahkan untuk melakukan sesi “coffe break”, istirahat sebentar sekaligus bersiap untuk menerima materi. Kami mengambil alat tulis masing-masing, untuk mendapatkan materi.
Materi pertama adalah Mengenal Cuaca dan Iklim disampaikan Alexander Bontong, S.Hut, M.M. Materi tersebut diawali dengan pengenalan apa itu cuaca.
Menurut Alexander bahwa kondisi dimana atmosfer dalam waktu singkat dalam hitungan menit, jam, dan hari pada cakupan wilayah yang sempit.
Kami juga diberi pemahaman soal apa saja jenis-jenis alat pengamatan meteorologi dan klimatologi, contohnya Penakar Hujan OBS yang fungsinya mengukur curah hujan, Evaporimeter Open Pan fungsinya untuk mengukur penguapan.
Kemudian kami diarahkan keluar untuk mengamati kondisi cuaca di langit saat itu, saat itu situasi langit sedang memuntahkan air hujan yang deras, kami menuliskan kondisi, awan, dan lain sebagainya.
Setelah Alexander selesai menyampaikan materinya, dilanjutkan dengan sesi diskusi. Saya melontarkan satu pertanyaan. Bagaimana jika BMKG salah dalam memberikan prediksinya dan mengakibatkan kerugian pada masyarakat, apa langkah yang akan dilakukan oleh BMKG? Pertanyaan itu dijawab dengan memberikan penjelasan secara panjang lebar bila kejadian tersebut terjadi.
ISHOMA pun tiba, kami beristirahat, salat dan mekan siang. Kemudian setelahnya kami dialihkan ke materi lain tentang Dampak Perubahan Iklim, Materi ini disampaikan Syukriah Alimuddin.
Materi ini kami menjelaskan tentang apa saja dampak negatif dari kegiatan kita sehari-hari, seperti membakar sampah yang mampu memberikan emisi gas rumah kaca, nah jika berlebihan akan berdampak sangat buruk bagi bumi ini. Juga penebangan hutan liar yang akan mengurangi kinerja tanah.
Kami dibentuk menjadi beberapa kelompok yang akan membuat alat Biopori, fungsinya adalah menyerap air genangan di tanah.
“Day one jadi tukang,” kata salah seorang teman saya.
Itu karena kami harus menggergaji pipa untuk dibelah dua, dan lain sebagainya.
Usai mengerjakan tugas “pertukangan” yang cukup melelahkan itu. Itu adalah materi terakhir hari pertama, sebelum pulang para panitia membagikan masing-masing untuk kami transport sebesar Rp.170.000 rupiah.
“Andai kegiatan ini sebelas hari sudah dapat saya IPHONE baru,” canda teman saya yang diiringi gelak tawa yang pecah.
Esoknya kami kembali ke tempat yang sama untuk mendapatkan materi baru. Materi ini Kembali dibawakan Alexander dengan tema Pengelolaan Sampah. Alexander menjelaskan tentang pentingnya memilah sampah, bahayanya sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan apa saja langkah untuk mengurangi sampah plastik.
Nah, setelah itu kami dibentuk menjadi beberapa kelompok lagi untuk mengerjakan tugas, diantaranya membuat tempat sampah terpilah, membuat tempat komposter dan ecoenzim. Dan kelompok saya dapat tugas membuat tempat komposter.
“Day two jadi tukang” kami kembali menggergaji dan beberapa tugas yang lain, ini cukup melelahkan dibanding hari sebelummnya. Semua tugas itu berhasil kami selesaikan dengan kerja sama yang luar biasa.
Setelah menyelesaikan tugas itu kembali masuk sesi ISHOMA, lalu dilanjut materi berikutnya yang disampaikan Syukriah Alimuddin tema kebencanaan.
Di sini kami juga diajari tentang apa itu bencana, jenis-jenis bencana, langkah-langkah mempersiapkan menghadapi bencana dan apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.
Kemudian kami diarahakan untuk simulasi bila terjadi gempa bumi dengan aba-aba sirine.
Kami berada di titik kumpul, para ketua kelompok diharuskan menulis apa saja yang terjadi dengan anggotanya, apakah ada yang hilang atau lain semacamnya.
Usai simulasi tersebut akhirnya sampailah kita di sesi penutupan.
Saya menyampaikan kesan dan pesan mewakili regu putra tentang kegiatan ini.
“Saya mewakili seluruh teman-teman kelompok putra berterima kasih dengan seluruh pihak yang terlibat terutama DLHK Sulbar dan kawan-kawan SCF, kami mohon maaf jika ada kesalahan kata dan perilaku dari kami. Saya berharapa agar kegiatan seperti ini terus berlanjut demi mengedukasi kami.” dan lalu secara resmi kegiatan ini ditutup.












