Penulis: Zulkarnain Hasanuddin, S.E.,M.M (Akademisi/Writers)
Membacalah biar tidak pikun (Demensia) dan menulislah biar tidak kehilangan ingatan (amnesia). Kalimat terlihat sederhana, namun mengandung makna yang mendalam. Membaca dan menulis bukan semata soal aktivitas rutin dalam dunia pendidikan, tetapi dua pilar utama yang menopang peradaban manusia.
Keduanya merupakan proses intelektual yang menjaga daya pikir, mempertajam ingatan, serta membangun kesadaran kritis dalam memahami realitas kehidupan.
Secara filosofis membaca adalah proses kognitif yang memungkinkan manusia menyerap informasi, memperluas wawasan, dan memperkaya struktur berpikir. Seseorang yang rajin membaca akan memiliki kemampuan analisis yang lebih baik karena pikirannya terus dilatih untuk memahami, membandingkan, dan mengevaluasi berbagai gagasan. Aktivitas membaca juga menjadi sarana penting dalam menjaga kesehatan otak.
Berbagai penelitian neurologi salah satunya dari Universitas Columbia yang diterbitkan dalam jurnal American Academy Of Neurology (AAN) menunjukkan bahwa membaca secara rutin dapat memperkuat koneksi dan kerja saraf, meningkatkan daya ingat, serta memperlambat penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut. Dengan kata lain, membaca adalah latihan intelektual yang mencegah manusia mengalami “kepikunan berpikir”.
Namun membaca saja tidak cukup. Pengetahuan yang diperoleh perlu diolah, direfleksikan, dan dituangkan kembali melalui tulisan. Menulis merupakan bentuk aktualisasi dari hasil perenungan intelektual manusia. Ketika seseorang menulis, berarti sedang menyusun ingatan, merapikan gagasan, dan mengabadikan pengalaman berpikirnya agar tidak hilang oleh waktu.
Karena itu, menulis dapat dipahami sebagai cara manusia melawan “amnesia intelektual”.
Banyak gagasan besar dalam sejarah tetap hidup hingga hari ini karena diwariskan melalui tulisan. Peradaban manusia tidak dibangun oleh kekuatan fisik semata, tetapi oleh kemampuan manusia mendokumentasikan pikiran dan pengetahuannya.
Dalam konteks sekarang, budaya membaca dan menulis menghadapi tantangan besar. Kemajuan teknologi digital sering kali membuat manusia lebih gemar mengonsumsi informasi singkat daripada mendalami pengetahuan secara kritis. Akibatnya, lahir generasi yang cepat memperoleh informasi tetapi lemah dalam refleksi dan analisis.
Fenomena ini dapat melahirkan “kepikunan sosial”, yaitu kondisi ketika masyarakat kehilangan kemampuan berpikir mendalam dan mudah melupakan nilai-nilai penting dalam kehidupan. Oleh sebab itu, membaca dan menulis harus menjadi gerakan semesta dan inklusif sebagai budaya intelektual, bukan dipandang hanya sebagai kewajiban akademik.
Membaca dan menulis juga memiliki dimensi moral dan peradaban. Membaca mengajarkan manusia untuk memahami dunia secara lebih luas, sementara menulis melatih keberanian menyampaikan kebenaran dan gagasan secara bertanggung jawab.
Tokoh-tokoh besar dunia seperti William Shakespeare, Nelson Mandela, S.R Ranganathan, RA Kartini dan Mohammad Hatta, lahir dari tradisi literasi yang kuat. Mereka membaca realitas dengan tajam dan menuliskan gagasan yang mampu mengubah sejarah.
Rendahnya budaya membaca dan menulis sesungguhnya bukan hanya persoalan pendidikan, tapi juga untuk kesehatan otak dan masa depan peradaban.
Sejatinya, membaca dan menulis adalah dua aktivitas intelektual yang saling melengkapi. Membaca menjaga ketajaman pikiran, sedangkan menulis menjaga keberlangsungan ingatan dan gagasan manusia. Keduanya bukanlah alat belajar saja, tapi juga jalan untuk mempertahankan eksistensi intelektual manusia di tengah derasnya perubahan zaman.
Maka tidak salah, jika membaca dapat menunda bahkan menjauhkan manusia dari kepikunan, dan menulis akan menyelamatkan manusia dari amnesia sejarah dan peradaban.












