Oleh: Zulkarnain Hasanuddin dan nDaru Bektari
BUKU ini tidak disusun dari ruang kerja yang terpisah dari realitas sosial dan sejarah yang melahirkannya. Naskah-naskah di dalamnya tumbuh dari pengalaman panjang, dari perjumpaan langsung dengan peristiwa, tokoh, dan lanskap kebudayaan Mandar serta Sulawesi Barat.
Oleh karena itu, sejak awal proses penyuntingan, buku ini dipahami bukan semata sebagai kumpulan tulisan tematik, melainkan sebagai dokumentasi kesaksian yang memuat jejak pemikiran, nilai, dan pergulatan batin penulisnya.
Sebagai editor, posisi yang diambil bukanlah sebagai pihak yang mengintervensi secara berlebihan, melainkan sebagai perawat naskah. Tugas utama penyuntingan diarahkan untuk menjaga keterbacaan, koherensi, dan ketertiban struktur, tanpa menghilangkan karakter dasar tulisan yang lahir dari pengalaman personal sekaligus tanggung jawabnya.
Buku ini bergerak di wilayah antara sejarah, refleksi, dan kesaksian, sehingga tidak selalu hadir dalam bentuk narasi yang sepenuhnya sistematis.
Pilihan untuk mempertahankan dinamika tersebut dilakukan dengan kesadaran bahwa pengalaman hidup tidak selalu dapat direduksi ke dalam susunan yang rapi. Keragaman gaya tutur dalam buku ini dipertahankan secara sadar.
Nada puitis, deskriptif, reflektif, dan naratif hadir berdampingan, mencerminkan kompleksitas pengalaman yang dituturkan. Penyuntingan tidak diarahkan untuk menyeragamkan suara, melainkan untuk memastikan bahwa setiap bagian tetap setia pada maksud awalnya dan dapat dipahami secara utuh oleh pembaca.

Keutuhan buku ini justru terletak pada kemampuannya merangkum berbagai lapis pengalaman tanpa kehilangan benang nilai yang mengikatnya. Perhatian khusus diberikan pada penggunaan istilah-istilah lokal, terutama yang berasal dari bahasa dan kebudayaan Mandar. Istilah-istilah tersebut dipertahankan sebagai bagian integral dari makna, bukan sekadar ornamen linguistik.
Upaya penerjemahan dilakukan secara selektif dan proporsional, dengan pertimbangan bahwa tidak semua konsep kebudayaan dapat dialihbahasakan tanpa kehilangan kedalaman konteksnya. Dalam hal ini, pembaca diajak untuk memasuki ruang makna yang hidup, bukan hanya mengamati dari kejauhan.
Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam buku ini diposisikan sebagai subjek sejarah yang manusiawi. Mereka tidak ditampilkan sebagai figur yang disakralkan, tetapi sebagai individu yang menjalani pilihan, risiko, dan konsekuensi pada zamannya.
Pendekatan ini diambil untuk menjaga jarak dari glorifikasi yang berlebihan, sekaligus menegaskan bahwa penghormatan terhadap tokoh justru lahir dari pengakuan atas kompleksitas dan keterbatasan manusiawi mereka.
Buku ini tidak dimaksudkan sebagai arsip statis tentang masa lalu. Namun hadir sebagai bahan refleksi bagi pembaca masa kini, sekaligus penanda bagi masa depan. Pertanyaan pertanyaan tentang integritas, keberanian moral, kepemimpinan, dan tanggung jawab sejarah dibiarkan terbuka, tidak diarahkan pada satu jawaban tunggal. Dengan demikian, buku ini mengundang pembaca untuk terlibat secara aktif, bukan menerima informasi saja.
Naskah ini juga menegaskan satu hal penting: bahwa pembangunan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan infrastruktur, tetapi oleh watak, nilai, dan pilihan etis manusia-manusia yang mengisinya. Prinsip malagbiq yang berulang kali muncul dalam buku ini dipahami bukan sebagai slogan, tetapi sebagai orientasi hidup yang menuntut konsistensi dan keberanian.
Apabila setelah menyelesaikan buku ini pembaca merasakan dorongan untuk berhenti sejenak, merenung, atau mempertanyakan kembali posisi dan perannya sendiri dalam lintasan sejarah dan kebudayaan maka tujuan naskah ini dapat dikatakan telah tercapai. Dari sudut pandang editorial, fungsi buku ini bukan untuk memberi jawaban instan, tapi untuk membuka ruang kesadaran.
Akhirnya, buku ini dilepaskan kepada pembaca dengan penuh tanggung jawab intelektual. Hadir sebagai hasil dari pengalaman langsung penulis yang tidak hanya mengamati, tetapi juga mengalami peristiwa-peristiwa yang dituturkannya.
Atas dasar itu, buku ini memiliki legitimasi kesaksian yang kuat. Redaksi menyampaikan penghargaan kepada penulis atas kepercayaan yang diberikan dalam proses penyuntingan, serta kepada pembaca yang bersedia meluangkan waktu untuk menyimak dan merenungkan jejak-jejak yang dihimpun dalam buku ini.













