Oleh: Dr. H. Farid Wajdi, M.Pd
Setiap daerah memiliki cerita yang membanggakan, tersimpan sebagai azimat dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Cerita itu merekam sejarah keberadaan suatu bangsa, latar belakang patriotisme, jejak keberanian, pengalaman mengelola konflik, hingga keteguhan menghadapi berbagai ancaman dan risiko kehidupan. Di dalamnya terdapat kisah duka dan suka, air mata dan senyum (tears and smiles) yang membentuk karakter suatu masyarakat.
Pertanyaannya, apakah keberanian lahir semata-mata dari dalam diri seseorang, ataukah diwariskan melalui pengalaman sejarah dan lingkungan sosial yang membentuknya?
Dalam ingatan kolektif masyarakat Mandar, khususnya Balanipa, keberanian merupakan warisan sejarah yang terus hidup. Pada abad ke-16, berdirinya Kerajaan Balanipa berawal dari ikhtiar mempertahankan kehormatan wilayah dari ancaman para penguasa (Tomakaka) yang menebarkan ketakutan dan penderitaan. Untuk mengakhiri keadaan tersebut, para pemuka adat bersepakat menjemput I Manyambungi dari Gowa untuk kembali ke Napo.
I Manyambungi, yang kemudian bergelar Todilaling, berhasil menumpas kezaliman dan mengakhiri teror yang menakutkan rakyat. Atas keberanian, kecerdasan, dan keteguhan hatinya, para pemuka adat kemudian melantiknya sebagai Mara’dia atau Raja pertama Balanipa.
Tradisi keberanian itu berlanjut pada masa Raja kedua, Tomepayung. Di puncak Bukit Tamajarra, ia menerapkan metode “sabung nyali” dalam menyelesaikan perkara yang rumit. Bagi laki-laki yang bersengketa diberlakukan duel keris hingga salah satu tewas. Siapa yang mati lebih dahulu dianggap pihak yang bersalah. Adapun bagi perempuan, dilakukan ujian dengan merendam kedua tangan dalam air mendidih secara bersamaan, siapa yang lebih dahulu mengangkat tangannya dianggap kalah.
Meskipun metode tersebut tidak dapat diterima dalam perspektif hukum modern, praktik itu menunjukkan keyakinan Tomepayung bahwa kebenaran harus diperjuangkan dengan keberanian dan keteguhan hati.
Semangat keberanian itu kembali terlihat pada tahun 1667 ketika Kerajaan Balanipa turut membantu Kesultanan Gowa menghadapi Belanda. Para bangsawan Balanipa sendiri memimpin pasukan menuju medan perang dengan semboyan yang menggetarkan:
“Takkalai nisobalang dotai lele ruppuq dazi nalele tuali dilolangan.”
Lebih baik tenggelam di lautan atau hancur di tengah perjalanan daripada kembali ke Balanipa tanpa kehormatan.
Ungkapan yang menyerupai semangat hara-kiri ala Mandar ini saya temukan pada lembar pertama pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. dr. H. Amir Abdullah pada tahun 1987. Tokoh pejuang pemekaran Sulawesi Barat sekaligus dokter ahli paru pertama Sulawesi Selatan itu, juga sebagai Ketua Himpunan keluarga Mandar Majene, sengaja memilih semboyan tersebut untuk memindahkan energi perjuangan dari arena peperangan ke ruang akademik.
Risiko keberpihakan Balanipa kepada Gowa saat itu sangat besar. Mereka harus berhadapan langsung dengan kekuatan militer Belanda yang jauh lebih unggul. Namun para Mara’dia memilih untuk tidak tunduk. Mereka lebih memilih mati daripada menyerah. Akibatnya, Daeng Malarriq, Mara’dia Balanipa, gugur di Galesong dan dikenang dengan gelar Todiposso di Galesong.












