Kisah Pembuatan Beduk dan Al-Qur’an Raksasa di Masjid Imam Lapeo

Laporan: Hakiki, Mahasiswa Unasman.

CAMPALAGIAN, mandarnesia.com–Mesjid Nuruttaubah atau lebih dikenal dengan nama Masjid Iman Lapeo di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat.  Mesjid tertua di tanah Mandar ini merupakan buah peninggalan dari perjuangaan Iman Lapeo dalam menegakkan Islam di Sulawesi Barat.

Mesjid ini menjadi bukti sejarah otentik bagaimana Iman Lapeo mengajarkan Islam di tanah kelahiranya. Di masjid ini juga terdapat makam dari ulama yang pernah hidup di abad ke-19 itu. Hingga kini, masjid inilah yang paling rutin dikunjungi para peziarah di Sulawesi Barat bahkan sampai dari luar Sulbar dating berziarah ke makam beliau.

Upaya untuk membangun masjid ini bukanlah hal yang mudah. Banyak lika-likunya, dalam sejumlah catatan disebutkan begitu banyak pula ‘keajaiban-keajaiban’ sebagai bentuk karamah dari Iman Lapeo.

Masjid ini juga terkenal dengan fasilitas yang megah, seperti eskalator, genset dan toilet yang bersih dan berbagai fasilitas lain. Di Mesjid Nuruttaubah Iman Lapeo ada sebuah koleksi yaitu Beduk salah satu yang terbesar di Sulawesi Barat.

Asal-usul beduk tersebut berasal dari pulau jawa. Berdasakan keterangan yang kami terima dari salah satu penjaga masjid dia mengatakan bahwa ukuran tempat beduk itu panjangnya kurang lebih 2 meter serta tingginya kurang lebih 3 meter tetapi ukuran beduknya sendiri 6 meter jika diluruskan.

Kayu yang digunakan dalam pembuatan beduk tersebut terbuat dari kayu jati, kulit yang digunakan yaitu kulit sapi dengan ukuran yang besar adapun koleksi lainnya yaitu Al-Quran Akbar tersebut dengan ukuran 1,5 x 2 Meter Persegi.

Beratnya 500 kilogram, dengan jumlah 610 halaman, terdiri 350 lembar. Lalu jumlah ayat yang dituliskan sebanyak 6.666 ayat terdiri 114 surah dan 30 juz.

Kertas yang dipakai adalah jenis kertas berkualitas dari PT. Pura Kudus dengan ketebalan 160 gram, menggunakan tinta yang terbuat dari campuran bak china dan cairan air teh kental.

Beduk Raksasa

Tinta air teh fungsinya agar tinta tetap awet melekat pada kertas. Tulisan ayat berwarna hitam menggunakan spidol khusus. Teknik yang digunakan dengan menyapukan tinta menggunakan kuas khusus terbuat dari bambu, yang berjumlah belasan liter dan ratusan spidol.

Durasi penulisan Al-Qur’an raksasa tersebut memakan waktu 16 bulan, yang ditulis oleh H. Hayatuddin, S.Pd.I, dengan desainer ornamennya Anas Ma’ruf, S.Pd.I.

Ornamen utama daun pinggir dibuat dengan sablon cat tahan air.

Pemesanan DKM Masjid Nuruttaubah K.H Muhammad Thahir Iman Lapeo di prakarsai oleh AGH. Hj. Nurlina Muhsin Thahir (Dewan Pembina) yang bersumber dari gagasan H. Dalilul Falihin, S,Ag,. M.Si, Iman tetap Masjid Nuruttaubah K.H. Muhammad Thahir Iman Lapeo.

Tempat penyimpanan atau biasa disebut Regang terbuat dari kayu ulin khusus agar bisa bertahan lebih lama.

Al-Qur’an Akbar

Pencetus Penulisan K.H. Muntaha Al Hafids dengan penanggung jawab penulisan Yayasan pendidikan ilmu-ilmu Al-Qur’an (YPIIQ) Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah

Informasi yang dapat kami himpun dari pengurus masjid bahwa prosesi penulisan seperti ini dibutuhkan ketekunan yang sangat besar dan penghayatan yang mendalam.

Selama proses penulisan Al-Qur’an harus berpuasa Dalail, puasa  rutin kecuali Hari Tasyik. Tujuannya untuk menenangkan hati, sehingga mutu penulisan tetap kondisikan dari halam serta tidak mudah digoda setan.

Proses pendistribusian Al-Qur’an Akbar ini bias tiba di Lapeo, Campalagian, Polewali Mandar, Sulawesi Barat diangkut dari Kalibeber, Wonosobo, menuju  Surabaya dengan menggunakan angkuatan darat. Dari Surabaya ke Makassar dengan menggunakan kapal laut dan demikian pula dari Makassar ke Lapeo juga menggunakan angkutan laut.

Masyarakat Mandar meyakini bahwa masjid ini dibangun oleh Imam Lapeo sejak dulu sampai sekarang, bahkan diceritakan oleh beberapa orang tua bahwa menara masjid ini pernah tumbang dan sampai ke tanah tetapi dengan mukjizat dan kebesaran Allah Subuhawataala kembali berdiri dengan kokoh.